Indonesia   |   English  
Saran Dan Pengaduan

BALAI BESAR PENGUJIAN PENERAPAN PRODUK KELAUTAN DAN PERIKANAN
DIREKTORAT JENDERAL PENGUATAN DAYA SAING PRODUK KELAUTAN DAN PERIKANAN
Kilas Berita  
Unit Pengolahan Ikan (UPI) Mikro Kecil dalam Pasar Global

Disusun Oleh : 1. Arif Wibowo, 2. Yefni Widria, Analis Pasar Hasil Perikanan (APHP) Pada Direktorat Pengolahan dan Bina Mutu Ditjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan

 

Dalam beberapa dekade terakhir ini, globalisasi menjadi istilah yang populer digunakan. Pada awalnya, istilah ini berlaku umum untuk segala bidang, baik itu ekonomi, sosial, budaya, politik, dan lain sebagainya. Namun saat ini globalisasi cenderung digunakan dalam bidang ekonomi internasional, dan secara sederhana dapat didefinisikan sebagai pasar dunia yang bebas dari kendali sosial politik (Al-Rodhan, 2006).

Globalisasi pada dasarnya telah dimulai sejak era imperialisme pada abad ke-15 dan berkembang dengan terbentuknya negara bangsa pada abad ke-17. Perkembangan teknologi yang pesat akhir-akhir ini, memfasilitasi terjadinya pertukaran budaya dan transaksi ekonomi internasional sehingga mengakselerasi proses ini. Saat ini, globalisasi dimaknai sebagai perluasan dan pendalaman arus perdagangan, modal, teknologi, informasi internasional dalam sebuah pasar global yang cenderung terintegrasi. Dengan kata lain, komunitas domestik atau lokal kini adalah bagian dari rantai perdagangan, pertukaran ide maupun perusahaan transnasional (Yuniarto, 2014).

Sejak kemunculannya, globalisasi telah merombak pola relasi antar aktor dalam hubungan internasional serta berimplikasi dalam memunculkan masalah dan tantangan sebagai berikut:

  1. Mengemukanya konsep international society (masyarakat internasional) yang pada intinya merupakan interaksi antar individu atau kelompok yang melewati batas-batas tradisional negara
  2. Liberalisasi perdagangan dan investasi yang salah satu faktor pendorong proses percepatan akumulasi kapital
  3. Semakin berkurangnya peran dan kontrol negara/ pemerintah, khususnya dalam perdagangan
  4. Kerusakan lingkungan akibat keserakahan
  5. Semakin kuatnya gejala regionalisme atau kerjasama ekonomi antara beberapa daerah/ negara.

Komoditas perikanan telah sejak berabad-abad yang lalu menjadi salah satu sumber protein utama bagi masyarakat dunia sehingga produk perikanan pun banyak diperdagangkan di pasar global. Pada tahun 2016, jumlah negara yang terlibat dalam perdagangan ikan mencapai 200 negara dengan nilai ekspor sekitar USD 148 miliar pada 2014 (FAO, 2016). Sebagaimana komoditas global lainnya, produk perikanan tidak terlepas dari tantangan pasar global sebagaimana yang telah disebutkan diatas, sehingga usaha perikanan perlu mengantisipasi gejala ini.

Usaha perikanan di Indonesia, termasuk unit pengolahan,  didominasi oleh usaha skala mikro dan kecil sebagaimana yang telah dijelaskan dalam bab-bab sebelumnya. UPI skala mikro kecil tersebut berperan penting dalam menciptakan lapangan kerja sehingga menjadi tumpuan sumber pendapatan sekaligus memiliki peranan penting dalam menggerakkan dan meningkatkan pendapatan masyarakat perikananan Indonesia.

Secara umum, permasalahan yang dihadapi oleh UMKM, termasuk di dalamnya usaha pengolahan ikan, adalah rendahnya produktivitas yang disebabkan antara lain oleh rendahnya kualitas sumberdaya manusia dan kompetensi kewirausahaan (Susilo, 2010). Di samping itu, UMKM menghadapi pula kendala dalam peningkatan daya saing dan kinerja seperti terbatasnya akses permodalan, terbatasnya akses ke pasar, dan terbatasnya akses informasi mengenai sumberdaya dan teknologi. Dengan semakin ketatnya persaingan akibat globalisasi, tentunya pemberdayaan terhadap UMKM menjadi hal yang sangat diperlukan.

Berbagai upaya untuk pemberdayaan UMKM telah dirumuskan oleh berbagai pihak. Salah satunya adalah filosofi lima jari yang disusun oleh Bank Indonesia. Dalam filosofi ini, diperlukan kerjasama dan sinergi dari setiap komponen, yang disimbolkan dengan jari tangan sebagai berikut:

  • Jari jempol,   mewakili   peran   lembaga   keuangan  yang   berperan   dalam   intermediasi keuanan,  terutama  untuk  memberikan  pinjaman/pembiayaan  kepada  nasabah  mikro,  kecil dan menengah serta sebagai agents of development (agen pembangunan). 
  • Jari telunjuk,  mewakili  regulator  yakni  pemerintah  dan  Bank  Indonesia  yang  berperan dalam  regulator  sektor  riil  dan  fiskal,  Menerbitkan  ijin-ijin  usaha,  mensertifikasi  tanah sehingga  dapat  digunakan  oleh  UMKM  sebagai  agunan,  menciptakan  iklim  yang  kondusif dan sebagai sumber pembiayaan.
  • Jari tengah, mewakili katalisator yang berperan dalam mendukung perbankan dan UMKM, termasuk Promoting Enterprise Access to Credit (PEAC) Units, perusahaan penjamin kredit
  • Jari manis, mewakili fasilitator yang berperan dalam mendampingi UMKM, khususnya usaha mikro, membantu  UMKM  untuk  memperoleh  pembiayaan  bank,  membantu  bank  dalam hal monitoring kredit dan konsultasi pengembangan UMKM.
  • Jari kelingking, mewakili UMKM yang berperan dalam pelaku usaha, pembayar pajak dan pembukaan tenaga kerja.

Sementara itu, dalam Sidang Pleno Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) XIV pada tanggal 20-24 Juli 2010 di Bandung, untuk meningkatkan daya saing di pasar global Tim Peneliti ISEI merekomendasikan beberapa hal sebagai berikut:

  1. Perlu dilakukan koordinasi bantuan kepada UMKM sehingga tepat sasaran serta pendisiplinan kementerian/lembaga pemberi bantuan untuk melakukan inovasi dalam menyusun skema bantuan.
  2. Bantuan pelatihan teknis produksi, keuangan, pemasaran, dan kewirausahaan perlu ditingkatkan kuantitas dan kualitasnya.
  3. Keikutsertaan UMKM dalam promosi untuk menembus pasar internasional perlu ditingkatkan frekuensinya.
  4. Diperlukan insentif untuk diversifikasi produk, pengkayaan desain, dan hak paten untuk produk UMKM. Untuk itu diperlukan kebijakan insentif fiskal dan non-fiskal bagi pengembangan industri kreatif dan pengusaha pionir. Di samping itu juga perlu dilakukan perlindungan dan sosialisasi mengenai hak paten.
  5. Mendorong penggunaan teknologi informasi untuk kegiatan usaha UMKM yang akan memudahkan UMKM untuk memperoleh bahan baku dan memasarkan produknya.
  6. Pemberian suku bunga khusus dan skema pembiayaan yang lebih baik khususnya untuk UMKM yang menghasilkan produk yang prospek tinggi di pasar internasional.
  7. Penyederhanaan prosedur penyaluran kredit.

Alternatif solusi lain untuk meningkatkan daya saing UMKM perikanan adalah dengan mendorong pembentukan perusahaan born global (Wibowo, Basri, & Arafah, 2019). Perusahaan born global menurut Tanev (2012), adalah perusahaan yang sengaja dibentuk dengan tujuan bisnis yang lebih luas dan menerapkan strategi pengembangan usaha ke luar negeri. Jadi berbeda dengan perusahaan internasional yang umumnya berasal dari perusahaan dengan bisnis dalam negeri yang kemudian berkembang menjadi perusahaan internasional dengan merambah bisnis global, perusahaan born global memperoleh keuntungan signifikant dari penjualan produk/ jasa di berbagai negara sejak awal berdiri atau dalam waktu yang tidak lama dari awal pendirian.  Beberapa karakteristik dari perusahaan born global, yaitu:

  • Merupakan perusahaan ekspor sejak perusahaan didirikan atau beberapa tahun saja setelah perusahaan didirikan, dengan jumlah yang diekspor minimal 25% produk. Umumnya perusahaan born global melakukan bisnis ekspor dengan berkolaborasi dengan mitra bisnis luar negeri atau investasi langsung.
  • Lebih kecil dibanding perusahaan internasional baik dalam modal maupun jumlah karyawan
  • Menggunakan strategi diferensiasi pasar serta memanfaatkan potensi dan peluang ceruk pasar (niche market) dengan mengambil segmen pasar yang lebih kecil yang belum dimanfaatkan oleh perusahaan skala besar, sehingga mencegah persaingan dengan perusahaan skala besar. Perusahaan memuaskan pelanggan dengan produk/ jasa berkualitas yang spesifik dan berbeda dengan produk/ jasa sejenis. Keunikan barang/ jasa tersebut membuat konsumen bersedia membayar lebih mahal karena dianggap dapat memenuhi selera dan kebutuhan pelanggan. Untuk mempertahannya niche market, perusahaan selalu meningkatkan kualitas produk/ jasa agar lebih berkualitas dibanding produk/ jasa sejenis.
  • Melakukan inovasi. Beberapa penelitian membuktikan bahwa perusahaan akan dapat terus bertahan jika dapat melakukan pengembangan produk dan melakukan proses baru sebagai respon terhadap perubahan kondisi pasar. Pengembangan terhadap pengetahuan dan teknologi akan merupakan akses menciptakan inovasi.
  • Top manager dan memiliki kemampuan wirausaha kuat, serta mampu bersaing secara proaktif dan agresif di pasar global serta berani mengambil resiko bisnis. Top manager memandang seluruh masyarakat dunia sebagai target pasar dari produk/ jasa perusahaan.
  • Memanfaatkan kemajuan teknologi informasi untuk memperoleh informasi mengambil peluang segmen pasar dan melayani permintaan pelanggan segmen tersebut. Melakukan bisnis dengan mitra luar negeri dan bertransaksi dengan pelanggan di seluruh dunia dengan biaya murah.
  • Bermitra dengan perusahaan jasa pengiriman produk internasional untuk mendistribusikan barang kepada konsumen.

 

DAFTAR PUSTAKA

Al-Rodhan, N. R. (2006). Definitions of Globalization: A Comprehensive Overview and a Proposed Definition. Geneva : Geneva Centre for Security Policy.

Bank Indonesia. (2016). Pemetaan dan Strategi Peningkatan Daya Saing UMKM Dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi SEAN (MEA) 2015 dan Pasca MEA 2025. Jakarta: Departemen Pengembangan UMKM, Bank Indonesia.

Bank Indonesia. (2019, 10 24). Five Finger Philosophy: Upaya Memberdayakan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah. Jakarta, Jakarta, Indonesia.

FAO. (2016). The State of World Fisheries and Aquaculture 2016. Contributing to Food Security and Nutrition For All. Rome: FAO.

Guillen, J., Natale, F., Carvalho, N., Casey, J., Hofherr, J., Druon, J.-N., . . . Martinsohn, J. T. (2019). Global seafood consumption footprint. Ambio, 111–122.

Kementerian Kelautan dan Perikanan. (2018). Kelautan dan Perikanan Dalam Angka. Jakarta: Pusdatin, KKP.

Susilo, Y. S. (2010). Strategi Meningkatkan Daya Saing UMKM Dalam Menghadapi Implementasi CAFTA Dan MEA. Buletin Ekonomi Vol. 8, No. 2, 70-78.

Tim Peneliti ISEI. (2010). Strategi Pengembangan UMKM di Indonesia. Ringkasan Eksekutif Sidang Pleno ISEI XIV. Bandung.

Wibowo, A., Basri, Y. Z., & Arafah, W. (2019). The Effect of Market Orientation, Handling Processing Orientation and Absorptive Capacity to Become a Born Global SME‟s in Indonesia Fisheries Industry. International Journal of Science and Research Volume 8 Issue 5.

Yuniarto, P. R. (2014). Masalah Globalisasi di Indonesia: Antara Kepentingan, Kebijakan, dan Tantangan. Jurnal Kajian Wilayah Vol V, 67-95.

Admin   31 Desember 2019   Dilihat : 3152



Artikel Terkait: