Indonesia   |   English  
Saran Dan Pengaduan

BALAI BESAR PENGUJIAN PENERAPAN PRODUK KELAUTAN DAN PERIKANAN
DIREKTORAT JENDERAL PENGUATAN DAYA SAING PRODUK KELAUTAN DAN PERIKANAN
Kilas Berita  
Profil Pulo Brayan

Disusun Oleh : Yefni Widria, Analis Pasar Hasil Perikanan (APHP) Madya Pada Direktorat Pengolahan dan Bina Mutu Ditjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan

 

 

Pulo Brayan adalah salah satu kawasan pasar di Kelurahan Pulo Praya Kota, Kecamatan Medan Barat yang juga dikenal dengan nama Brayan atau Pajak Brayan. Tahun 1990-an Brayan merupakan pusat perniagaan yang dikunjungi dari segala penjuru Kota Medan. Seiring dengan tumbuh dan berkembangnya pusat perbelanjaan lain di Kota Medan, transaksi jual beli di Brayan mulai berkurang.para pedagang memilih meninggalkan kios mereka untuk pindah ke arah jalanan mendekati keramaian Kota Medan.

Kawasan yang ditinggal tersebut, dimanfaatkan oleh para pendatang sebagai tempat tinggal dengan membangun rumah semi permanen dan terus diperluas secara bertahap tanpa memperdulikan sanitasi lingkungan. Fungsi kawasan berubah dari perdagangan menjadi pemukiman. Kawasan tersebut berubah menjadi kawasan padat penduduk dengan lingkungan yang tidak tertata dan terlihat kumuh, namun hal yang menarik adalah Pulo Brayan ternyata merupakan penghasil sumber protein ikan bagi penduduk Kota Medan dengan produk olahan berupa ikan rebus. Setiap hari setidaknya terdapat 3 ton ikan gembung yang diolah dan dipasarkan. Saat ini kawasan tersebut menampung sekitar 40 kepala keluarga yang menggantungkan mata pencarian sebagai pengolah ikan rebus. Jenis ikan rebus yang dihasilkan adalah ikan rebus air garam dengan bahan baku dominan ikan gembung yang direbus dengan kayu bakar.

Peran permodalan sangat penting dalam kegiatan usaha tradisional dan skala kecil ini, lemahnya permodalan pengolah memerlukan peran kelembagaan keuangan formal maupun informal. Saat ini modal usaha para pengolah diperoleh dari seorang pemilik modal yang juga berperan sebagai suplier ikan. Para pengolah ikan rebus dapat memperoleh bahan baku walau tanpa memiliki modal, pengolah dapat mengambil bahan baku terlebih dahulu dan membayar kepada suplier setelah ikan rebus laku terjual. Dengan sistem tersebut, usaha ikan rebus terbukti dapat memutar ekonomi masyarakat Pulo Brayan selama puluhan tahun.

Kehidupan keluarga pengolah ikan rebus Pulo Brayan tergolong unik, seluruh anggota keluarga tanpa kenal usia, mulai dari anak usia Sekolah Dasar hingga kepala keluarga dapat memanfaatkan ikan rebus sebagai sumber penghasilan. Anak-anak  terbiasa memenuhi uang jajan mereka dengan mengolah dan menjajakan sendiri ikan rebus  secara berkeliling. Tanpa perlu minta izin orang tua, mereka biasanya mendatangi sendiri suplier untuk memperoleh bahan baku. Proses pengolahan yang sederhana, dimulai dari pencairan es pada ikan (thowing), pembersihan ikan tanpa mebuang insang dan isi perut, membuat anak-anak ini dapat melakukan proses penanganan dan pencucian. Namun karena perebusan dengan kayu bakar dapat membahayakan keselamatan anak, maka proses perebusan dilakukan dengan menitip rebus saat orang tua mereka juga melakukan proses perebusan.

Setiap rumah tangga di Pulo Brayan umumnya adalah pengolah ikan rebus, setiap rumah rata-rata memiliki area pengolahan sangat terbatas disamping rumah yang terdiri dari tungku, panci perebusan dan tumpukan kayu bakar. Karena luas area sangat terbatas, maka proses penanganan dan pencucian ikan juga harus dilaksanakan ditempat yang sama. Karena peruntukan pembuangan air di wilayah tersebut adalah untuk pertokoan dan bukan untuk pembuangan limbah cair pengolahan ikan, area pengolahan yang beralas tanah tersebut kerap becek dan tergenang air.

Perebusan ikan di Pulo Brayan tidak mengenal waktu, tergantung kebiasaan setiap keluarga pengolah, biasanya perebusan dilakukan sekitar pukul 05.00, 10.00, 15.00, 20.00 dan 24.00 WIB. Proses perebusan memerlukan waktu sekitar 35 – 60 menit tergantung pada besar kecilnya ikan. Produk yang telah selesai diolah siap untuk dipasarkan ke pasar tradisional dan dijajakan keliling Kota Medan dengan bungkus produk berupa kertas nasi atau daun pisang.

Saat ini konsumen ikan rebus Pulo Brayan tidak terbatas hanya masyarakat dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah. Masyarakat menengah atas juga mengkonsumsi ikan rebus Pulo Brayan dengan dengan kualitas ikan lebih baik, bahkan  30% bahan baku yang dijual suplier merupakan ikan yang diperuntukan bagi konsumen tingkat ekonomi menengah atas.

Prospek pemasaran ikan rebus di Medan sebenarnya cukup baik karena didukung oleh peningkatan konsumsi ikan Sumatera Utara. Menurut Pusdatin KKP (2019), tingkat konsumsi ikan di Propinsi Sumatera Utara mengalami peningkatan dari 41,04 kg/kap/tahun pada tahun 2015, menjadi 52,43 kg/kap/tahun pada tahun 2018*. Tabel 1 menggambarkan bahwa dalam rentang waktu 2015-2018* konsumsi ikan nasional Sumatera Utara mengalami kenaikan rata-rata sebesar 7,26% jauh diatas konsumsi rata-rata ikan nasional yaitu 4,87%.

Keterangan:

*) Angka Sementara. Konsumsi ikan setara ikan segar utuh. Sumber: SUSENAS diolah oleh Ditjen PDSPKP

 

Prospek pemasaran ikan rebus di Medan juga didukung oleh pola konsumsi masyarakat Sumatera yang lebih memilih memenuhi kebutuhan protein hewani dari ikan dibanding dari daging maupun telur dan susu. Tabel 2 menggambarkan bahwa terjadi peningkatan proporsi konsumsi protein ikan setiap tahunnya (2015-2018) sebesar 4,32%, lebih tinggi dari proporsi konsumsi protein dari daging (0,18%) dan dari telur & susu (-10,33%).

Sumber: SUSENAS diolah oleh Ditjen PDSPKP

 

Peningkatan konsumsi ikan rebus konsumen tingkat ekonomi menengah Kota Medan dapat diupayakan melalui peningkatan daya saing produk. Penerapan cara pengolahan Ikan yang baik (Good Manufacturing Practices) dan penerapam persyaratan prosedur operasi standar sanitasi (Sanitation Standard Operating Procedure) merupakan salah satu strategi peningkatan daya saing produk perikanan. Pemerintah perlu mensosialisasikan strategi tersebut secara berkala karena penerapan GMP dan SSOP berkaitan dengan cara kerja pengolah, tidak mudah merubah cara kerja yang telah tahunan dan turun temurun dilaksanakan. Peningkatan daya saing melalui pemberian bantuan sarana dan prasarana pengolahan juga perlu dilaksanakan, namun akan sulit diterapkan di Pulo Brayan karena para pengolah tidak memiliki surat izin usaha dan surat kepemilikian lahan yang menjadi salah satu persyaratan memperoleh bantuan pemerintah. Pulo Brayan unik dan dilematis, disatu pihak potensi pengolahan ikan rebus perlu dikembangkan, dilain pihak usaha pengolahan ikan rebus tersebut tergolong illegal.

 

Daftar Pustaka :

  1. Pusdatin KKP. 2019. Konsumsi Ikan Nasional 2015-2018*
  2. Pusdatin KKP. 2019. Perbandingan Konsumsi Protein Per Kapita Per Hari Menurut Provinsi 2015-2018*

 

Admin   30 Desember 2019   Dilihat : 1084



Artikel Terkait: