Indonesia   |   English  
Saran Dan Pengaduan

BALAI PERIKANAN BUDIDAYA AIR PAYAU SITUBONDO
DIREKTORAT JENDERAL PERIKANAN BUDIDAYA
Kilas Berita  
Bimbingan Teknis Persiapan Media Tebar Budidaya Sistem Bioflok

Bimbingan Teknis Persiapan Media Tebar Budidaya Sistem Bioflok

Rabu, 11 Mei 2022

       Menindak lanjuti progres kegiatan bantuan bioflok Tahun 2022, BPBAP Situbondo melakukan Bimbingan Teknis Persiapan Media Tebar Budidaya Sistem Bioflok yang dilakukan secara daring melalui media zoom.

      Peserta yang hadir dalam kegiatan ini adalah 10 pokdakan/ pondok pesantren penerima bantuan bioflok, penyuluh perikanan dan dinas perikanan kabupaten setempat serta pegawai BPBAP Situbondo. Dalam kegiatan ini, juga menghadirkan narasumber dari BPBAT Sungai Gelam Jambi, yang telah mengembangkan kegiatan budidaya bioflok lebih awal.

      Pada kesempatan ini, Bapak Kepala BPBAP Situbondo, Bapak Boyun Handoyo, S.Pi, M.Si menyampaikan bahwa Sistem budidaya bioflok agak rumit karena selain memelihara ikan juga harus menumbuhkan flok, melakukan penambahan probiotik pada pakan dengan pembibisan, serta melakukan treatment probiotik air minimal satu minggu sekali. Diperlukan ketekunan dan semangat untuk belajar agar dapat menghasilkan budidaya lele yang efisien, karena penerima bantuan rata – rata belum berpengalaman berbudidaya lele dengan sistem bioflok.

 

 

       Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan bekal kepada penerima bantuan dalam mempersiapkan media / air budidaya sehingga benih yang ditebar dapat beradaptasi dengan lingkungan yang baru dengan baik.

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam persiapan media tebar adalah sebagai berikut :

  1. Konsep bioflok dikembangkan untuk menjawab permasalahan di lapangan. Masalah utama pada budidaya ikan lele adalah harga pakan semakin meningkat namun harga jual tidak mengalami peningkatan signifikan. Sehingga perlu efisiensi pakan, dengan cara melakukan pembibisan pakan agar efisien diserap usus ikan, sehingga dapat menekan FCR dan mengurangi biaya produksi.
  2. Adanya perbedaan kondisi lingkungan setiap lokasi yang berbeda sehingga menyebabkan perlunya manipulasi sesuai standar kualitas air yang diinginkan.
  3. Persiapan media tebar harus memperhatikan suhu air, sebaiknya di kisaran 28-300C dengan renang nilai parameter pH 7.5-8. Jika pH kurang dari 7,5 maka bisa ditambah larutan kapur tohor.
  4. Penggunaan alat ukur pH dengan pH tetes atau kertas lakmus. Penggunan pH digital tidak direkomendasikan karena perlu sering dikalibrasi dan perawatan susah (tidak praktis)/ susah maintenance serta kemungkinan probe rusak sehingga pengukuran pH tidak akurat.
  5. Benih sebelum ditebar ke bak, di unit pembenihan setelah dilakukan grading sebaiknya ditunggu 2-3 hari sebelum ditebar ke kolam budidaya. Hal ini dikarenakan adanya resiko lecet dan luka terjadi pada benih. Sehingga perlu ditreatmen terlebih dahulu untuk mencegah timbul luka sekunder oleh bakteri maupun jamur (moncong putih). Upaya pencegahan yang dapat dilakukan saat akan melakukan penebaran di kolam budidaya adalah dapat dilakuan perendaman dengan Enroflok sesuai dosis dalam kemasan wadah selama 15 detik kemudian ditebar ke bak bundar.
  6. Pembuatan probiotik untuk pakan dan air dapat dilakukan sebelum tebar benih dengan memperhartikan kualitas probiotik. Apabila pH probiotik <4 maka probiotik dapat digunakan.
  7. Pada sistem bioflok, fungsi flok untuk ikan nila berbeda dengan fungsi flok untuk ikan lele. Pada ikan nila, flok berfungsi substisusi dengan pakan buatan (efisiensi pakan). Sedangkan pada lele belum ada bukti bahwa ikan lele makan flok sehingga tidak ada perlakuan untuk flok di media budidaya ikan lele. Sehingga pada budidaya ikan lele, pemberian probiotik pakan secara rutin adalah aplikasi pada pakan (pembibisan) untuk mengoptimalkan penyerapan nutrisi pakan. Aplikasi probiotik air lebih ditujukan untuk menciptakan budidaya ikan yang ramah lingkungan karena dapat mengolah sisa pakan dan feses/ bahan organik yang menumpuk di dasar kolam sehingga air budidaya tidak berbau.
  8. Aplikasi probiotik air bersifat kondisional, minimal seminggu sekali atau bisa diberikan setiap hari, tergantung dari jumlah produksi enzim yg bisa dihasilkan oleh probobiotik tersebut dalam air. Enzim ini berfungsi untuk memecah bahan organik agar tdk menjadi amoniak. Semakin banyak enzim yang terbentuk, maka akan semakin bagus untuk media budidaya. Produksi enzim tersebut dapat dicek dengan cara mengambil 10 ml probiotik air dan ditambah 2 tetes larutan alkohol 75% selanjutnya didiamkan 15 menit. Jika terbentuk endapan/ gumpalan putih artinya sudah terbentuk enzim. Semakin banyak endapan/ gumpalan yang terbentuk maka semakin banyak enzim yang terbentuk dan hal itu semakin membuat kualitas air media semakin bagus.
  9. Untuk mengetahui apakah sudah terbentuk flok pada media tebar, dapat dilakukan dengan mengambil air media di kolom air sebanyak 1 Liter menggunakan imhoff cone, selanjutnya didiamkan selama 15 menit. Jika sudah terdapat endapan, berarti sudah terbentuk flok.

 

Semoga bimbingan teknis ini dapat bermanfaat bagi penerima bantuan dalam mempersiapan media tebar. Sehingga dapat berbudidaya dengan lancar dan sukses hingga panen.

 

djpbsitubondo   11 Mei 2022   Dilihat : 85



Artikel Terkait: