Indonesia   |   English  
Saran Dan Pengaduan

DIREKTORAT JENDERAL PERIKANAN BUDIDAYA
Kilas Berita  
KELOMPOK PAKAN IKAN MANDIRI DI PROBOLINGGO BERHASIL KEMBANGKAN PAKAN BERBASIS BAHAN BAKU LOKAL

Probolinggo – Kelompok Pakan Ikan mandiri Berkah Siongan asal Desa Banjarsari, Kabupaten Probolinggo Jawa Timur berhasil memproduksi pakan mandiri untuk ikan air tawar sebanyak 5 – 6 ton per bulan dengan memanfaatkan 100% bahan baku lokal yaitu tepung ikan rucah, dedak halus,  bungkil kopra, tepung jagung, ampas kecap, tepung biskuit dan probiotik herbal yang diracik sendiri.

Dengan pemanfaatan pakan mandiri produksi Berkah Siongan ini, terbukti daya cerna ikan lele menjadi lebih baik. Nilai FCR (konversi pemanfaatan pakan) lele dari 1,5 dengan memanfaatkan pakan pabrikan turun menjadi 1,2 dengan penggunaan pakan mandiri tersebut sehingga margin pembudidaya naik 50%, dulu keuntungan per kg nya hanya Rp. 4 ribu sekarang jadi Rp. 6 ribu.

Ketika Temu Lapang Pakan Mandiri Provinsi Jawa Timur, Kamis (29/8) lalu. Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto mengaspresiasi keberhasilan ini. “Ketersediaan bahan baku masih jadi hambatan tersendiri dalam produksi pakan sehingga solusi yang paling tepat adalah mencari alternatif bahan baku berbasis lokal”, kata Slamet.

Slamet memaparkan beberapa kriteria bahan baku lokal yang dapat dimanfaatkan untuk memproduksi pakan mandiri, diantaranya tidak bersaing dengan peruntukan industri lain misalnya peternakan maupun makanan manusia. Selain itu, kandungan gizi tinggi, tersedia sepanjang tahun, mudah diolah dan terpenting tidak beracun.

“Apa yang dilakukan kelompok Berkah Siongan menjadi contoh sukses gerakan pakan mandiri, karena mereka benar-benar mandiri baik dalam mencari bahan baku lokal alternatif sampai memproduksi pakan dengan formulasi yang dibuat berdasarkan pengalaman dan ujicoba”, ujar Slamet.

Saat dimintai keterangannya, Jumat (30/9), Ketua Kelompok Berkah Siongan, Wahyudiono menyebutkan bahwa produksi pakan mandiri ini terutama untuk mencukupi kebutuhan bagi pembudidaya di Kecamatan Sumberasih Probolinggo dan daerah sekitarnya.

“Awalnya tahun 2012 kami membuat pakan dengan menggunakan pengiling daging sederhana, kemudian tahun 2015 dapat bantuan dari KKP berupa mesin pellet, sejak saat itulah kami berinovasi dalam mengembangkan formulasi pakan”, cerita Wahyudiono.

Lanjutnya bercerita, dulu kelompok ini bingung karena mesin ada, tapi bahan baku susah didapat kalapun ada harganya relatif mahal bagi pembudidaya kecil. “Mesin tidak bisa dioperasikan karena bahan baku tidak ada, sehingga ini akan membuat mesin menjadi aus, susut karena tidak digunakan dalam waktu yang lama”, ujarnya.

Untuk itu, ia dan anggotanya terus mencari solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut.”Ikan rucah di Probolinggo melimpah pada musim-musim tertentu, sehingga akhirnya kami beli ikan rucah yang kadar airnya masih sekitar 30%, kemudian diolah kembali dengan cara pengeringan supaya kadar airnya jadi 0%, sehingga bisa digiling menjadi tepung ikan”, lanjutnya.

 

Ia mengungkapkan untuk menciptakan formulasi pakan yang tetap maka perlu uji coba berulang-ulang untuk memperoleh formulasi nutrisi yang diperlukan ikan baik didalam jumlah dan perbandingan yang tepat untuk pertumbuhan ikan yang optimal.

“Dari balai Perikanan Budidaya KKP mengajari cara memformulasikan pakan dengan berbagai metode, diantaranya metode lembar kerja (worksheet), metode persegi Pearson dan metode kalkulasi dengan program excell. Melalui pendampingan ini kita belajar menyusun formulasi pakan sendiri hingga memproduksi pakan secara mandiri”, terangnya.

Hal yang menarik lainnya, Kelompok Pakan Ikan Mandiri Berkah Siongan mampu memperdayakan wanita-wanita nelayan yang tidak berkerja untuk menjadi tenaga upah untuk memproses bahan baku mentah menjadi bahan baku halus yang siap diformulasikan dalam bentuk pakan.

“Isti-istri nelayan yang tidak bekerja, kita ajak ikut membantu dalam pengolahan bahan baku mulai dari pengeringan, penepungan dan pengayakan hingga siap dicampurkan dalam adonan pakan”, terangnya.

Salah satu pembudidaya yang menggunakan pakan mandiri produksi Berkah Siongan, Ahmad Fatoni mengungkapkan bahwa biaya pakan bisa ditekan hingga 50%, karena mengandalkan pakan mandiri, sehingga keuntungan yang kami peroleh mencapai 30 – 50% untuk memproduksi lele ukuran 9 – 12 ekor per kg dalam waktu 3 – 4 bulan.

“Dengan ada pakan mandiri ini, pembudidaya ikan skala kecil seperti saya sangat terbantu, karena harganya relatif murah dengan kualitas tidak kalah dari pakan pabrikan”, akui Ahmad.

djpb1   02 September 2019   Dilihat : 145



Artikel Terkait: