Indonesia   |   English  
Saran Dan Pengaduan

BALAI BESAR RISET SOSIAL EKONOMI KELAUTAN DAN PERIKANAN
BADAN RISET DAN SDM KELAUTAN DAN PERIKANAN
Kilas Berita  
Kategori Berita: FGD Riset

INOVASI USAHA DALAM MENDUKUNG PEMULIHAN DAN PENGEMBANGAN INDUSTRI SEKTOR KELAUTAN DAN PERIKANAN

 

 

SOSEK NEWS, JAKARTA, 1 MARET 2021 - Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan (BBRSEKP) menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bertema Inovasi Usaha dalam Mendukung Pemulihan dan Pengembangan Industri Sektor Kelautan dan Perikanan”. Kegiatan dilaksanakan secara daring (online) dengan menghadirkan dua narasumber yang bergerak di bidang horeka (hotel restoran dan catering), yaitu Ketua Umum Perkumpulan Pengusaha Jasa Boga Indonesia (PPJI) (Irwan Iden Gobel) dan Product Development Lead - PT Aruna Indonesia (Dani Julian), dan diikuti oleh beberapa peserta dari Subdit Kemitraan Publik Direktorat Pemasaran Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) serta anggota tim riset Model Inovasi Usaha dalam Mendukung Percepatan dan Pengembangan Industri Sektor Kelautan dan Perikanan Pasca Covid-19. Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Koordinator Kelompok Tata Usaha  BBRSEKP, Iswari Ratna Astuti, yang diikuti dengan presentasi rencana riset model inovasi Usaha dalam Mendukung Percepatan dan Pengembangan Industri Sektor Kelautan dan Perikanan Pasca Covid-19 yang dibawakan oleh Estu Sri Luhur, ketua tim riset.

 

Dalam paparannya, ketua tim riset menyebutkan bahwa pandemi covid ini telah berdampak pada setiap aspek kehidupan yang memaksa masyarakat/konsumen dan pelaku usaha untuk melakukan aktivitas yang mengurangi kontak fisik (less physical contact). Tujuan dari less physical contact economy ini adalah untuk mendorong aktivitas ekonomi dengan mencegah penyebaran virus. Oleh karena itu, diperlukan model inovasi pada sektor kelautan dan perikanan untuk mendukung less physical contact economy,  sehingga meski daya beli masyarakat menurun namun masih dapat mengkonsumsi ikan dengan produk yang dapat diterima oleh konsumen dengan baik.  Tujuan FGD ini adalah untuk mendapatkan data dan informasi mengenai: 1) kondisi usaha restoran/rumah makan pasca Covid-19 dan seberapa besar dampak yang dialami; 2) Komoditas perikanan yang paling banyak ditawarkan; 3) daerah asal ikan yang menjadi pemasok utama; 4) pengaruh Covid-19 terhadap pembelian dan penyediaan bahan baku komoditas perikanan; 5) Upaya atau adaptasi yang telah dilakukan dalam menghadapi Covid-19; 6) strategi atau inovasi untuk menjaga keberlanjutan usaha; serta 7) peran teknologi dalam menghadapi Covid-19.

 

 

 

Selanjutnya, ketua Perkumpulan Pengusaha Jasa Boga Indonesia (PPJI), Bapak Irwan Gobel, memaparkan dampak Covid-19 terhadap usaha jasa boga di Indonesia. Salah satu dampaknya adalah penurunan sales sebesar 70% pada anggota PPJI di 22 provinsi. Hal ini dikarenakan banyaknya pembatalan order oleh konsumen seperti katering pernikahan, serta PSBB yang membatasi operasional restoran. Strategi para pengusaha PPJI pada masa pandemi covid ini diantaranya : mengurangi jumlah fixed costs, menutup gerai lebih cepat (sesuai aturan yang berlaku), merumahkan karyawan secara bergiliran, membuat inovasi dalam proses penjualan dan pemasaran makanan, serta menjaga kestabilan stok barang dengan menghabiskan raw material secara maksimal agar tidak ada yang terbuang. Menurut Ketua PPJI, kebutuhan ikan sebelum Covid-19 adalah sekitar 270 kg ikan fillet/katering pernikahan dimana setiap anggota PPJI yang berjumlah 2.500 anggota menerima order sekitar 4 wedding event x 1000 porsi, dan 188 kg ikan kembung/katering industri. Namun, permintaan ini menurun menjadi 20 kg/katering selama pandemi covid. Oleh karena itu, adaptasi para pelaku usaha dalam menyiasati turunnya permintaan ini adalah dengan memperbanyak variasi menu olahan ikan, berinovasi untuk menciptakan resep terbaru dari olahan ikan, mengembangkan UMKM PPJI untuk pengolahan produk yang berbahan dasar ikan, dan meningkatkan strategi promosi penjualan pada menu ikan dan olahannya.

 

Sementara itu, Dani Julian dari PT Aruna Indonesia menyampaikan bahwa misi dari Aruna adalah menciptakan ekosistem perdagangan ikan dan hasil laut yang berkelanjutan dan adil bagi para pelaku yang terlibat di dalamnya, seperti nelayan dan pembeli. Oleh karena itu, PT Aruna mengembangkan integrated fisheries commerce yang dapat memutus rantai middlemen (pengumpul) yang selama ini dapat melakukan price mark-up sebesar 70 sampai dengan 1.000% dari harga yang ditawarkan nelayan. Unefficient supply chain ini diharapkan dapat diperbaiki dengan meningkatkan kapasitas nelayan melaui literasi digital, fisherman hub, end to end integration, sharing economy dengan pelayanan nilai tambah lebih jauh (financing services, equipment store, cooperatives), serta berkolaborasi secara online.

 

Sesi diskusi berlangsung sangat interaktif. Berbagai informasi dan masukan terkait model inovasi pada sektor kelautan dan perikanan selama pandemi Covid-19 disampaikan oleh para narasumber secara terperinci. Misalnya, Ketua PPJI menyampaikan bahwa pasokan ikan untuk industri perlu memperhatikan kesiapan size (ukuran ikan) yang fleksibel dengan menu yang akan ditawarkan oleh restoran yang dapat diterima konsumen. Sedangkan, pasokan ikan untuk konsumsi rumah tangga perlu memperhatikan kesegaran ikan dan kontinuitas pasokan dengan jenis ikan yang beragam namun tidak terlalu memperhatikan ukuran ikan. Kemudian, Isya dari Direktorat Pemasaran PDSPKP menambahkan bahwa PPJI dan Aruna menjadi ujung tombak KKP di lapangan yang berperan penting dalam menjalankan program gemar makan ikan. Terkait dampak Covid-19, PDSPKP telah melakukan beberapa survey yang menghasilkan kesimpulan bahwa pelaku usaha perikanan mengalami penurunan omset sebanyak 50-60%. Sehingga, Direktorat Pemasaran melakukan terobosan melalui pemasaran online dan mengedukasi 1.400 anggota UMKM yang tergabung dalam program Pasar Laut Indonesia untuk menjual produknya di marketplace, sosial media, e-commerce.

 

Dalam sesi diskusi peserta mengajukan beberapa pertanyaan diantaranya apakah transaksi online akan tetap bertahan ataukah ada pergeseran model pemasaran pasca Covid-19. Irwan Gobel menjelaskan bahwa kita perlu memanfaatkan bahan baku yang tidak diolah atau tidak diterima di pasar ekspor dengan memberikan nilai tambah sehingga dapat diterima oleh konsumen domestik dengan harga yang lebih baik. Misalnya dengan memanfaatkan kulit tuna menjadi makanan ringan chips. Selain itu, rahang tuna yang awalnya tidak dimanfaatkan  dapat menjadi tren masakan kuliner untuk pasar domestik, sehingga permintaan akan bahan baku rahang tuna meningkat secara perlahan. 

 

FGD ini diharapkan memperkaya pengetahuan tim riset untuk menghasilkan rumusan model dan rekomendasi model inovasi dalam mendukung pemulihan dan pengembangan industri sektor kelautan dan perikanan. Inovasi di sektor kelautan dan perikanan ini dapat berupa diversifikasi produk, perbaikan infrastruktur penyimpanan dan teknologi digital dalam pemasaran produk. Model inovasi ini diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan pelaku terutama yang terkena dampak Covid-19, meningkatkan permintaan ikan di pasar domestik yang salah satunya dapat diindikasikan dengan meningkatnya konsumsi ikan per kapita. 

 

Kontributor: Heny Lestari, S.E. (Pustakawan Muda BBRSEKP)

 

 

Edwin Yulia Setyawan   02 Maret 2021   Dilihat : 101



Artikel Terkait: