Indonesia   |   English  
Saran Dan Pengaduan

PUSAT RISET PERIKANAN
BADAN RISET DAN SDM KELAUTAN DAN PERIKANAN
Kilas Berita  
Pusat Riset Perikanan galang Kerjasama dengan Puslitbang Hutan (KLHK)

Bogor, 20 Februari 2019. Pertemuan dibuka oleh Dr. Ir. Toni Ruchimat, M.Sc (Kepala Pusat Riset Perikanan) menyampaikan bahwa Sudah dikembangkan minapadi air payau antara udang windu dengan padi salin dengan memanfaatkan lahan idle karena adanya interusi air asin pada lahan pertanian. Sebagian besar hasil perikanan budidaya disumbang oleh RUmput Laut, sementara itu perikanan budidaya yang ada sudah mencapai titik kritis karena lahan yang ada sudah tidak sesuai lagi dari segi lingkungan. Oleh sebab itu perlu dikembangkan perikanan budidaya yang terpadu dilahan lahan marjinal seperti lahan gambut.  Kegiatan dihadiri oleh  Kepala Pusat Riset Perikanan (Dr. Tonny Ruchimat), Kepala Pusat Litbang Hutan –KLHK (Dr. Kirsfianti L Ginoga), Kepala Bidang Riset Perikanan Budidaya – Pusat Riset Perikanan (Agus Cahyadi, S.Pi, M.Si), Kepala BPPI Sukamandi (Dr. Imron), Kepala BRBIH depok (Dr. Idil Ardi), peneliti BRPBATPP Bogor, Peneliti Puslitbang Hutan, dan staf Bidang Riset Perikanan Budidaya Pusat Riset Perikanan.

Dr. Kirsfianti L. Ginoga selaku Kepala Puslitbang Hutan menyampaikan bahwa di KLHK, lahan gambut merupakan asset yang penting, hal ini terlihat dengan dibentuknya rektorat khusus yang menangani lahan gambut, sehingga kerjasama perikanan budidaya dapat dilakukan untuk meningkatkan sinergitas antara Pusat Riset Perikanan dengan Puslitbang Hutan. Selain itu KLHK juga telah melakukan kegiatan Wana Mina Tani di lahan Mangrove.

Pengelolaan gambut berbasis agrosilvofishery (wana-mina-tani) di Sumsel. Di lahan gambut Sumsel sudah dirintis pengembangan lahan gambut seluas 4 hektar dengan hortikultura dan ikan lokal yang ada di daerah tersebut dan bukan ikan budidaya. Padi sudah pernah dicoba dengan padi Sonor tetapi dari 100% areal yang dibakar hanya 65% yang dapat ditanam dan yang menghasilkan padi hanya 35% luasan areal yang dibakar saja. Hal ini karena lahan sudah etrgenang kembali. Selain itu di Kabupaten OKI (Rawa Lebak) sudah ada kearifan lokal dalam menanam padi yaitu “Padi Nunggu Surut”. Saat tergenang petani menangkap ikan dan saat surut ditanami padi. system yang lain yaitu dengan system BJ, yaitu membuat kubangan yang saat tergenang akan terisi ikan kemudian saat surut dapat dipanen. Ikan-ikan tersebut biasanya akan dibuat ikan asin. Namun, model ini sudah sangat menurun saat ini dibandingkan dahulu. Ikan yang terjebak dalam kubangan sedikit, bahkan produksi ikan asin dari model seperti ini sudah jarang ditemui. Ikan yang paling banyak yaitu tambakan, betok, selincah dan gabus, akan tetapi yang paling memiliki nilai ekonomis tinggi adalah ikan tambakan. (Bastoni, Peneliti Litbang Hutan, Palembang)

Pengelolaan tanaman padi rawa di lahan gambut. Lahan kering dan lahan rawa, termasuk lahan gambut digenjot untuk produksi padi dengn INPARA 2. Padi tidak dapat hidup di lahan rawa karena tidak sesuai dengan jenis varietasnya. Setiap agroekosistem yang berbeda akan berbeda pula pendekatan teknologi dan varietasnya. Penamaan varietas padi sudah tidak menggunakan nama sungai pasang surut untuk padi rawa, tetapi menggunakan nama Inbrida Padi Rawa (INPARA). Terkait naik/pasangnya air pada lahan rawa/gambut terdapat 3 tipologi lahan yaitu A, B dan C, masing-masing berbeda dalam hal pengelolaannya. Inpara 1,2,6,7,8 agritan dan 9 masing-masing berbeda tekstur nasi, umur padi, ketahanan terhadap Fe dan Al dll, dapat disesuaikan dengan kesesuain dengan agroekosistemnya. Sedangkan varietas yang toleran salin yaitu Inpari 34 dan 35 salin agritan. Penanaman padi dalam suatu kawasan/areal harus serempak dalam 12 hari (maksimal). Hal ini untuk meminimalisir gangguan OPT dalam rangka pengendalian OPT secara terpadu. Hama paling dominan di sawah adalah tikus, termasuk lahan pasang surut terumata saat air naik/pasang sehingga lubang-lubang tergenang dan tikus akan mencari tempat aman dan makanan. Untuk mengendalikan hama tikus dapat menggunakan Linier Trap Barrier System (LTBS) dipadukan dengan emposan sulfur. (Agus Guswara, Balai Besar Penelitian Padi, Sukamandi)

Kegiatan diakhiri dengan kunjungan ke lokasi Kolam Ikan Torsoro (Ikan Dewa).

Admin Pusris Perikanan   22 Februari 2019   Dilihat : 407



Artikel Terkait: