Indonesia   |   English  
Saran Dan Pengaduan

PUSAT RISET PERIKANAN
BADAN RISET DAN SDM KELAUTAN DAN PERIKANAN
Kilas Berita  
Konferensi Internasional Eco Aqua, Ecological Intensification: A new paragon for sustainable aquaculture

Bogor, 28 Oktober 2019. Seminar International EQO AQUA 2019 adalah bagian dari kerja sama yang telah berlangsung antara Pusat Riset Perikanan dan Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar dan Penyuluhan Perikanan (BRPBATPP) dengan Institut de Recherche pour le Développement (IRD). Seminar ini dinilai efektif sebagai forum komunikasi, pertukaran ilmiah dan penyebarluasan hasil riset budidaya. Pelaksanaan kerjasama dilakukan kongres dengan judul “Ecological intensification: a new paragon for sustainable aquaculture”, yang bertujuan untuk Memperkuat jaringan dan visibilitas ilmiah internasional dan regional. Selain itu pelaksanaan kongres ini merupakan kelanjutan dari komitmen multi-dekade pihak IRD dan ilmuwan Indonesia di bidang perikanan budidaya.

Produksi perikanan budidaya didominasi oleh negara-negara Asia (88% dari produksi dunia). Perikanan budidaya adalah sektor produksi yang paling cepat berkembang dibandingkan spesies hewan lainnya. Saat ini perikanan budidaya mampu menyediakan setengah dari kebutuhan ikan yang dikonsumsi di seluruh dunia. Kebutuhan ikan konsumsi dunia sebesar 3,1 juta ton, Indonesia memegang peringkat ke-4 dari produsen perikanan budidaya dunia. Budidaya ikan air tawar, mewakili 68% dari produksi perikanan budidaya di Indonesia, kegiatan ini dilakukan oleh pembudidaya secara turun temurun dan merupakan sektor utama untuk ketahanan pangan. Perikanan budidaya memiliki ekspansi paling cepat di antara semua produksi pertanian di Indonesia, dengan pertumbuhan rata-rata 7% per tahun. Produksi perikanan budidaya didominasi oleh perikanan skala kecil dan menengah, seringkali dikaitkan dengan keberadaan kelompok. Jumlah pembudidaya di Indonesia (3,3 juta pembudidaya pada tahun 2012), dengan rata-rata produksi ikan tahunan per orang di kurang dari 1 ton, sedangkan kecenderungan rata-rata global adalah sekitar 3,6 ton (7 ton di Cina; 4 ton di Thailand).

Dalam rangka menyingkapi meningkatnya permintaan kebutuhan akan ikan, para pembudidaya telah meningkatkan produksi selama beberapa tahun terakhir. Kecenderungan ini semakin meningkat dengan meningkatnya persaingan untuk ruang dan sumber daya air, terutama di Jawa, yang merupakan wilayah padat penduduk (sekitar 1.000 jiwa per km2). Pergeseran serupa ke arah budidaya secara intensif berdampak tehadap lingkungan, ekonomi dan sosial.

Pengembangan perikanan budidaya yang berkelanjutan membutuhkan pengetahuan mendalam tentang genetika, sejarah kehidupan dan kemampuan adaptif dari spesies ikan yang berkaitan dengan lingkungan. Peningkatan produksi dapat dikembangkan melalui peningkatan manajemen induk dan optimalisasi produksi benih. serta, manajemen kesehatan ikan

Pada tahun 2030, diperkirakan perikanan budidaya akan memasok lebih dari 60% ikan konsumsi. Namun, berkelanjutannya pembangunan akan terganggu. Intensifikasi ekologis dapat menjadi alternatif rasional untuk meningkatkan produksi perikanan budiday dengan mengoptimalkan proses ekologis dan ekosistem. Selama program berjalan setidaknya terdapat 5 keluaran (output) yang dihasilkan dalam kerjasama ini. keluaran tersebut antara lain; Biology and control of reproduction of giant gourami (Osphronemus goramy) for improvement of egg production methods, Elucidating the thermal biology of giant gourami eggs and larvae for improving the productivity of hatcheries, The use of aquatic macrophytes for sustainable gourami farming and co-construction of IMTA system, Vaccine detection method and epidemiology study of Koi herpesvirus and TiLv for the enhancement of KHVD control, dan Effect of three Indonesian medicinal herbs on bacterial fish disease and fish immune gene expression.

Acara dibuka oleh Bapak Waluyo Sejati Abutohir, S.H, M.M, selaku kepala pusat Perikanan mewakili kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan. Hal-hal yang diperhatikan mengenai perubahan akuakultur tradisional ke arah intensif terutama di Asia adalah fakta dan isue yg harus dicermati sehingga seminar ini penting  kenapa harus dilakukan demi memperdalam informasi dan hasil riset yang telah dilakukan dibeberapa negara terkait oleh berbagai kalangan termasuk peneliti/ilmuan, praktisi perikanan, pembudidaya, dst, tentu untuk melakukan pertukaran informasi dan pengalaman terutama dalam hal intensifikasi ekologis sebagai alternatif logis untuk meningkatkan produksi akuakultur yaitu dengan memaksimalkan penggunaan proses ekologis dan jasa ekosistem yang disediakan oleh alam dengan berbagai keanekaragaman hayatinya. Dr. Ir. Tri Heru Prihadi M.Sc selaku ketua penyelenggara menyampaikan bahwa Tujuan umum dari program kolaboratif ini adalah mencari basis biologis dari spesies lokal (Osphronemus goramy), intensifikasi ekologis sistem budidaya (tanaman air terapung sebagai fito-remediasi dan pakan ikan), dan manajemen kesehatan ikan.  Konferensi ini merupakan sarana komunikasi dalam bertukar informasi terkait teknologi, keahlian dan pengalaman dalam budidaya.  Adapun negara yang terlibat diantaranya Indonesia, France, Belgium, India, Belanda, Australia, dan Chile.

Konferensi ini dihadiri oleh beberapa instansi baik dari indonesia dan luar negeri, diantaranya Kepala Pusat Riset Perikanan. Waluyo Sejati Abutohir, S.H, M.M, Executive Representative of French Research Institute for Sustainable Development (IRD), Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, KKP. diwakili oleh Direktur Pakan dan Obat Ikan Ir. Mimid Abdul Hamid, M.Sc, Rektor Institut Pertanian Bogor, Universitas IPB. DR Arief Satria, Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas IPB, Direktur dari Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Pembicara utama dan Komite Ilmiah dari Indonesia dan luar negeri. Keynote speaker : Prof. Rokhmin Dahuri (Indonesia), Iwan Sutanto (Indonesia), Dr Joël Aubin (France), Prof. Shib Kinkar Das (India), Dr Mike Rimmer (Australia), Prof. Marc Verdegem (Belanda), Prof. Yoel H Bosma (Belanda), Prof. Patrick Sorgelos (Belgia) dan Prof. Dorris Soto (Chille).

 

 

Admin Pusris Perikanan   28 Oktober 2019   Dilihat : 554



Artikel Terkait: