Indonesia   |   English  
Saran Dan Pengaduan

PUSAT PELATIHAN DAN PENYULUHAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
BADAN RISET DAN SDM KELAUTAN DAN PERIKANAN
Kilas Berita  
Sambut Maluku Sebagai Lumbung Ikan Nasional, KKP Latih SDM Olah Hasil Perikanan

Jakarta (24/2) -  Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) kembali hadir di Maluku sejalan dengan arah pembangunan wilayah Kepulauan Maluku 2020-2024 sebagai Lumbung Ikan Nasional (LIN). Kali ini,  KKP melalui Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan (BPPP) Ambon menyelenggarakan ‘Pelatihan Diversifikasi Produk Hasil Perikanan’ bagi 90 pelaku utama perikanan di 3 kabupaten setempat yakni Buru, Buru Selatan, dan Kepulauan Tanimbar. 

 

Sebagai wilayah kepulauan, 92,4% dari seluruh luas wilayah Maluku merupakan laut. Tak heran, hasil produksi perikanan tangkap Maluku dari 3 sebaran wilayah perikanan yakni WPP-714, WPP-715, dan WPP-718 dapat mencapai 4,26 juta ton/tahun.

 

Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) Sjarief Widjaja mengatakan, sudah seyogianya masyarakat Maluku memanfaatkan kelimpahan SDA yang dimiliknya untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga maupun daerah.

 

Melalui pelatihan yang diselenggarakan selama dua hari pada 22-23 Februari 2021, ia berharap agar masyarakat Maluku bisa memanfaatkan ikan sisa hasil tangkapannya yang tidak terjual untuk dimanfaatkan sebagai produk olahan yang memiliki masa ketahanan yang panjang.

 

“Kalau kita pergi ke laut dan menjaring, tentu saja kita tidak memilih ikan apa saja yang tertangkap. Padahal, para pelanggan belum tentu membutuhkan semua ikan yang kita miliki. Mungkin ada sebagian dari ikan-ikan tersebut yang tidak dibeli,” ucapnya.

 

Ia menuturkan, beberapa ikan seperti kakap merah dan tongkol mungkin diminati tinggi oleh para pelanggan. Namun, tidak dengan sebagian ikan lainnya sehingga beberapa nelayan seringkali membuangnya. Pasalnya, ikan tersebut memiliki umur yang relatif singkat. Kualitas ikan segar akan jauh menurun jika didiamkan lebih dari 6-12 jam, terutama jika tidak disimpan dalam lemari pendingin.

 

“Saya sarankan jangan dibuang. Lebih baik kita olah. Misalkan kita jadikan surimi seperti baso ikan, nugget, kaki naga, dan sebagainya. Kalau sudah diolah, masa simpannya jadi panjang. Selain itu, anak-anak juga bisa menikmatinya,” jelas Sjarief.

 

Untuk itu, dalam pelatihan kali ini para peserta dibekali berbagai materi pengolahan ikan yang kaya. Mulai dari penerapan sanitasi dan higienitas, diversifikasi olahan hasil perikanan, serta pengemasan dan penyimpanan hasil perikanan. Tak hanya itu, para peserta juga diberikan pelatihan analisa usaha hasil perikanan agar dapat benar-benar mengimplentasikan pengetahuan dan keterampilan yang didapatnya pasca pelatihan.

 

“Nanti Bapak Kepala Dinas KP bisa memfasilitasi ada produksi olahan yang bisa didistribusikan ke seluruh Maluku. Mudah-mudahan pada saat nantinya bapak/ibu bisa mendapatkan penghasilan tambahan lewat pengolahan perikanan, di samping perikanan tangkap yang selama ini menjadi pendapatan utama,” ucapnya.

 

Senada dengan itu, Kepala Pusat Pelatihan dan Penyuluhan Kelautan dan Perikanan (Puslatluh KP) Lilly Aprilya Pregiwati menyatakan bahwa pelatihan ini ditujukan untuk mengembangkan SDM Maluku dalam memanfaatkan dan mengelola sumber daya perikanan, baik dari hasil sektor tangkap maupun budidaya, di daerahnya.

 

“Diversifikasi olahan perikanan ini bisa menjadi salah satu alternatif pemanfaatan hasil perikanan sehingga mempunyai nilai ekonomi dan daya saing yang tinggi,” ujarnya.

 

Guna mewujudkannya, ia pun berharap agar pemerintah daerah setempat dapat bekerja sama dengan KKP. “Harapan kami, melalui pelatihan ini, KKP melalui BP3 Ambon dapat bersinergi dengan Pemerintah Provinsi Maluku dalam mewjudukan peningkatan ekonomi negara, daerah, dan masyarakat,” ungkap Lilly.

 

Anggota DPD RI Provinsi Maluku, Anna Latuconsina, mendukung penuh penyelenggaran pelatihan ini. Ia mengungkapkan bahwa dalam kunjungan daerah, dirinya seringkali menemui nelayan yang belum menguasai keterampilan cara mengolah hasil tangkapnya. “Sebagian dimanfaatkan tapi sebagian lainnya yang tersisa dibiarkan begitu saja di sekitar pantai,” ungkapnya.

 

Untuk itu, ia menilai bahwa pelatihan ini sangat bermanfaat untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat sekitar dalam memanfaatkan SDA Maluku yang melimpah. “Saya sebagai anggota DPD RI mewakili masyarakat Maluku memberikan apresiasi  yang besar kepada BRSDM atas berlangsungnya acara pada hari Ini. Dalam rangka menyambut LIN, mempersiapkan SDM tentunya sangat penting sekali. Tidak ada artinya LIN yang kita banggakan dan SDA yang melimpah kalau kita tidak tahu memanfaatkannya,” ujarnya. 

 

Menurutnya, potensi perikanan Maluku yang besar dapat dioptimalkan melalui industri pengolahan. Namun, masyarakat memerlukan dukungan untuk meningkatkan kompetensinya. Untuk itu, Anna berharap agar ibu-ibu nelayan Maluku dapat dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan untuk mengolah hasil perikanan.

 

“Saya sebagai wakil daerah sangat bangga dengan ibu-ibu yang ada di Maluku. Mereka sangat gigih. Tetapi pengetahuannya masih terbatas. Tentunya pelatihan ini akan membantu mereka dalam menyejahterakan rumah tangga,” ucapnya.

 

Senada dengan itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Maluku Abdul Haris turut menyambut baik penyelenggaran pelatihan ini. “Bila dibandingkan dengan produksi ikan nasional, kontribusi Maluku mencapai 36,7%. Dengan kondisi ini, Maluku layak dijadikan sebagai daerah LIN,” ungkapnya.

 

Ia menyatakan bahwa Pemda Maluku telah menyediakan lahan untuk dikembangkan sebagai pusat industri perikanan yang diharapkan dapat menjadi titik ekspor di wilayah timur Indonesia. Nantinya, pusat industri ini akan diapasok oleh sentra-sentra produksi yang melibatkan nelayan, pembudidaya, dan pengolah skala kecil dari 12 kabupaten/kota sekitar.

 

“Untuk melakukan ini, diperlukan dukungan dari KKP. Untuk itu, kami memberikan apresiasi kapada BRSDM yang menyelenggarakan pelatihan diversifikasi olahan bagi masyarakat. Hal ini menjadi salah satu program penting dalam rangka menyambut Maluku sebagai LIN,” ucapnya.

 

Tak ketinggalan, para peserta pelatihan pun menyambut antusias penyelenggaran pelatihan ini. Asima, salah satu peserta asal Kab. Buru Selatan menyebut, berbagai materi yang diberikan menambah pengetahuannya tentang cara membuat surimi, higienitas kemasan, dan cara menghitung analisa usaha.

 

“Yang lebih penting lagi, saya sebelumnya tidak tahu tentang fish stick. Setelah mengikuti pelatihan, saya jadi tahu caranya dan bisa membuat fish stick,” ujarnya.

 

Hal senada disampaikan oleh Maria Agustina, peserta yang merupakan pelaku usaha pengolah perikanan asal Kep. Tanimbar. “Dari pelatihan ini, saya dapat meningkatkan pengetahuan saya tentang lebih banyak jenis-jenis olahan produk perikanan. Semoga di waktu mendatang ada lagi pelatihan diversifikasi produk perikanan dengan jenis olahan yang berbeda,” pungkasnya.

 

Dengan tetap menjaga kemanan di tengah kondisi pandemi Covid-19, pelatihan ini diselenggarakan secara daring menggunakan sambungan Zoom Meeting dan aplikasi pembelajaran daring KKP, e-Jaring. Guna membantu para peserta, hadir 3 penyuluh perikanan di masing-masing kabupaten yang mendampingi para peserta di lapangan.

 

Sebagai informasi, sebelumnya pada 17-18 Februari 2021, KKP melalui Puslatluh KP melalui BPPP Ambon juga telah menyelenggarakan ‘Pelatihan Pengoperasian Instalasi Penggerak Utama Kapal’ bagi 90 nelayan setempat. Ke depan, Puslatluh KP akan terus hadir dengan berbagai pelatihan masyarakat demi mewujdukan pembangunan Maluku sebagai LIN.

Admin Puslatluh KP   24 Februari 2021   Dilihat : 127



Artikel Terkait: