Indonesia   |   English  
Saran Dan Pengaduan

POLITEKNIK KP KARAWANG
BADAN RISET DAN SDM KELAUTAN DAN PERIKANAN
Kilas Berita  
Pemanfaatan Drone Dalam Bidang Kepesisiran dan Kelautan

Drone atau UAV berdasarkan UVS (Unmanned Vehicle Systems) International didefinisikan sebagai benda terbang tanpa awak yang dapat dikendalikan dari jarak tertentu (Remondino et al., 2011). Indonesia memiliki definisi drone tersendiri yang disebutkan di dalam Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) No. PM 90 tahun 2015. Peraturan tersebut menyatakan bahwa drone atau Pesawat Udara Tanpa Awak didefinisikan sebagai sebuah mesin terbang yang berfungsi dengan kendali jarak jauh oleh penerbang (pilot) atau mampu mengendalikan dirinya sendiri dengan menggunakan hukum aerodinamika (Permenhub PM 90, 2015).

 

UAV berdasarkan kemampuan terbangnya dibagi menjadi tiga jenis, yaitu: 1) Tactical UAV terdiri dari UAV berukuran mikro hingga mini, kontrol jarak pendek hingga menengah (<500 kilometer), dengan daya tahan mulai dari beberapa menit hingga tiga hari, serta berada pada ketinggian yang rendah hingga menengah (<lima kilometer); 2) Strategical UAV yang memiliki kemampuan terbang pada ketinggian  stratosfer hingga lebih dari 20 kilometer,  dengan daya tahan mencapai empat hari; dan 3) Special Task UAV yang digunakan untuk keperluan militer atau spionase. Saat ini, jenis yang banyak digunakan untuk berbagai aplikasi terutama pemetaan adalah tactical UAV.

 

Berdasarkan cara terbangnya, UAV secara umum dibagi menjadi dua yaitu fixed-wing dan sistem rotary. Fixed-wing merupakan UAV yang mengandalkan sayap untuk dapat terbang, sedangkan sistem rotary mengandalkan baling-baling sebagai motor penggerak wahana. Dari segi biaya, jenis UAV fixed-wing membutuhkan biaya yang cukup mahal untuk mendapatkannya dibandingkan dengan jenis rotary. Oleh karena itu, jenis fixed-wing jarang dimiliki secara personal/individu. Berbeda halnya dengan jenis rotary yang sudah cukup luas digunakan oleh masyarakat, karena harganya yang terjangkau (Remondino et al., 2011).

 

Drone tipe rotary yang kebanyakan adalah drone komersil (diproduksi massal) saat ini telah berekspansi sangat massif. Jika pada awal kemunculnnya drone ini hanya dimiliki oleh para professional yang bergelut di dunia videografi atau kebutuhan spesifik lain, maka tidak begitu kondisinya saat ini. Sekarang drone ini bahkan bisa dimiliki oleh remaja yang sama sekali tak memiliki kepentingan industri maupun profesi. Keleluasaan kepemilikan inilah yang saat ini membuat aplikasi teknologi drone meluas.

 

Pada bidang kepesisiran dan kelautan, pemanfaatan drone juga kian meluas. Jika pada awal penggunaannya hanya dimanfaatkan untuk kegiatan yang bersifat dokumentatif, maka saat ini sifatnya bisa lebih analitik. Hal ini menjadi sangat mudah berkat informasi ikutan berupa metadata yang terekam pada setiap foto yang dihasilkan oleh drone. Metadata ini menyimpan informasi penting berupa koordinat x dan y serta titik tinggi relatif (z). Metadata inilah yang dapat diproses melalui skema fotogrametri untuk menghasilkan citra foto udara yang sangat informatif.

 

Gambar 1. Contoh Foto Udara Kawasan Pesisir yang Diambil Menggunakan Drone
Gambar 1. Contoh foto udara kawasan pesisir hasil tangkapan drone

 

Citra foto udara atau yang biasa disebut orthomosaic/orthophoto ini dapat dimanfaatkan untuk menganalisis perubahan fisik pesisir. Berdasarkan pengamatan tersebut dapat diketahui perubahan komposisi dan distribusi vegetasi, akresi juga abrasi pantai. Foto udara juga dapat dioptimalkan untuk mempelajari secara spesifik kasus tertentu, dengan menyoroti area yang menjadi fokus observasi. Sebagai contoh, Wattle Range Council di tenggara Australia Selatan, bahkan menugaskan sebuah perusahaan lokal yang berfokus pada drone, untuk memperoleh foto garis pantai dengan resolusi tinggi dalam rangka perencanaan infrastruktur pesisir (Oxlade, 2016). Berikut beberapa bentuk pemanfaatan drone di bidang kelautan lainnya :

  1. Deteksi fauna laut (Colefax et al. 2019)
  2. Pemantauan perilaku dan distribusi hiu (Tucker et al. 2020; Andrew et al. 2020)
  3. Pemantauan perubahan sedimen pantai (Jayson et al. 2019)
  4. Pemantauan sampah laut (Arezoo et al.2021; Martin et al.2018)
  5. Monitoring terumbu karang (Lula leite et al. 2020)
  6. Pemantauan topografi laut (Chen et al. 2018; Ford M., 2013)
  7. Pemantauan tata kelola ruang laut (Nyman E.;2019)

 

Melalui dinamika yang terjadi dalam komunitas, akademisi serta industri lokal, pemanfaatan lainnya di bidang kepesisiran dan kelautan juga terus berkembang. Di Politeknik Kelautan dan Perikanan Karawang misalnya, pemanfaatan drone khususnya banyak dilakukan di Program Studi Teknik Kelautan (TKL). Beberapa Taruna di Prodi TKL bahkan menjadikan topik drone sebagai tugas akhirnya. Diantara beberapa bentuk pemanfaatan tersebut adalah implementasi citra foto udara untuk mengetahui kontur (topografi) pesisir, pengamatan marine debris (sampah laut), monitoring vegetasi mangrove, pengamatan muka air laut, banjir pesisir (rob) dan sebagainya. Mayoritas implementasi drone bagi bidang kepesisiran dan kelautan adalah melalui analisa citra foto udara dalam bentuk peta (mapping) sebagaimana contoh yang telah disebutkan.

 

Secara umum, ada tiga tahap utama yang harus dilakukan hingga data foto udara dapat dimanfaatkan. Tahap pertama adalah persiapan terbang, yang meliputi penentuan misi terbang, penyetelan drone dan kontroller, serta persiapan perlengkapan pendukung lainnya. Tahap kedua disebut dengan proses akuisisi atau pengambilan foto udara. Pada tahap ini, drone diatur terbang secara otomatis untuk mengikuti pola terbang tertentu hingga menyisir area yang dikehendaki (area of interest). Tahap terakhir, yaitu proses pengolahan data foto melalui metoda fotogrametri serta analisa citra yang dihasilkan.

 

Berkaitan dengan penggunaan drone untuk pemetaan pesisir, ketinggian terbang drone pada tahap persiapan terbang akan sangat memengaruhi kualitas. Sebagai tahap awal pengaturan, tinggi terbang dapat diatur cukup bervariasi mulai dari 30 meter hingga 200 meter di atas permukaan laut (Madawalagama et al., 2016; Boon et al., 2017; Remondino et al., 2011; Sturdivant et al., 2017; Meng et al., 2017). Variasi ketinggian drone tersebut, berhubungan erat dengan skala dan luas cakupan pemetaan yang akan dilaksanakan. Semakin rendah tinggi terbang, maka resolusi spasial citra semakin baik sehingga mampu menghasilkan peta dengan skala detail. Namun sebagai konsekuensi, cakupan wilayah yang mampu direkam akan menjadi semakin sempit.

 

PETA KWS ROB DESA SUNGAIBUNTU
Gambar 2. Contoh pemanfaatan foto udara sebagai bahan kajian banjir rob

 

Sebaliknya, jika drone terbang lebih tinggi, maka dapat mencakup wilayah yang lebih luas, tetapi resolusi spasialnya akan semakin berkurang sehingga detail skala peta dan akurasi yang dihasilkan juga semakin rendah (Udin & Ahmad, 2014). Oleh karena itu, pertimbangan ketinggian terbang drone sangat tergantung dengan tujuan dari pemetaan yang akan dilakukan.

 

Drone maupun teknologi lain yang tengah dan akan berkembang, cepat ataupun lambat akan memengaruhi dinamika pada ragam industri, termasuk di dunia perikanan dan kelautan. Sudah menjadi tugas bagi civitas akademika di perguruan tinggi, agar secepatnya mengadaptasi teknologi tersebut dan mengaplikasikannya pada bidang kerja/keahlian masing-masing. Itulah yang saat ini juga tengah dilakukan Politeknik Kelautan dan Perikanan Karawang, agar taruna yang lulus kelak memiliki kompetensi yang mumpuni untuk dapat berdiri setara dengan warga global.

 

Roni Sewiko 

[Dosen Prodi TKL - Politeknik Kelautan dan Perikanan Karawang]

 

REFERENSI :

  • Andrew P.Colefax, Paul A.Butcher, Daniel E.Pagendam, Brendan P.Kelahera.(2020). Comparing distributions of white, bull, and tiger sharks near and away from the surf break using three tech-based methods. Ocean & Coastal Management. 198, 105366. doi:10.1016/j.ocecoaman.2020.105366
  • Arezoo Nazerdeylami, Babak Majidi, Ali Movaghar.(2021).Autonomous litter surveying and human activity monitoring for governance intelligence in coastal eco-cyber-physical systems,Ocean & Coastal Management, Volume 200, 105478,ISSN 0964-5691. doi:10.1016/j.ocecoaman.2020.105478.
  • Chen, B., Yang, Y., Wen, H., Ruan, H., Zhou, Z., Luo, K., & Zhong, F. (2018). High-resolution monitoring of beach topography and its change using unmanned aerial vehicle imagery. Ocean & Coastal Management, 160, 103–116. doi:10.1016/j.ocecoaman.2018.04.007. 
  • Colefax, A. P., Butcher, P. A., Pagendam, D. E., & Kelaher, B. P. (2019). Reliability of marine faunal detections in drone-based monitoring. Ocean & Coastal Management, 174, 108–115. doi:10.1016/j.ocecoaman.2019.03.008. 
  • Jayson-Quashigah, P.-N., Appeaning Addo, K., Amisigo, B., & Wiafe, G. (2019). Assessment of short-term beach sediment change in the Volta Delta coast in Ghana using data from Unmanned Aerial Vehicles (Drone). Ocean & Coastal Management, 104952. doi:10.1016/j.ocecoaman.2019.104952.
  • Lula Leite, D. S., Tavares Pessoa Pinho de Vasconcelos, E. R., Riul, P., Alves de Freitas, N. D., & Cavalcanti de Miranda, G. E. (2020). Evaluation of the conservation status and monitoring proposal for the coastal reefs of Paraíba, Brazil: Bioindication as an environmental management tool. Ocean & Coastal Management, 194, 105208. doi:10.1016/j.ocecoaman.2020.105208.
  • Madawalagama, S. L., N. Munasinghe, S.  D.  P.  J.  Dampegama,  and L.   Samarakoon.   2016.   Low Cost Aerial Mapping With Consumer-Grade Drones.
  • Martin, C., Parkes, S., Zhang, Q., Zhang, X., McCabe, M. F., & Duarte, C. M. (2018). Use of unmanned aerial vehicles for efficient beach litter monitoring. Marine Pollution Bulletin, 131, 662–673. doi:10.1016/j.marpolbul.2018.04.045.
  • Meng, X., N. Shang, X. Zhang, C. Li, K. Zhao, X. Qiu, and E. Weeks. 2017. Photogrammetric UAV Mapping of Terrain Under Dense Coastal Vegetation: An Object-Oriented Classification Ensemble Algorithm for Classification and Terrain Correction. Remote Sensing, 9 (11):1187.
  • Nyman, E. (2019). Techno-optimism and ocean governance: New trends in maritime monitoring. Marine Policy, 99, 30–33. doi:10.1016/j.marpol.2018.10.027.
  • Oxlade, L., 2016: Using drone technology to  monitor coastal change. Snapshot for CoastAdapt, National Climate Change Adaptation Research Facility, Gold Coast. 
  • Permenhub PM 90. 2015. Pengendalian Pengoperasian Pesawat Udara Tanpa Awak di Ruang Udara yang Dilayani Indonesia.
  • Remondino, F., L. Barazzetti, F. Nex, M. Scaioni, and D. Sarazzi. 2011. UAV Photogrammetry for Mapping and 3D Modelling. Current Status and Future Perspectives. International Archives of The Photogrammetry, Remote Sensing, and Spatial Information Science.
  • Sturdivant, E. J., E. E. Lentz, E. R. Thieler, A. S. Farris, K. M. Weber, D. P. Remsen, S. Miner, and R. E. Henderson. 2017. UAS-SfM for Coastal Research: Geomorphic Feature Extraction and Land Cover Classification from High-Resolution Elevation and Optical Imagery. Remote Sensing, 9 (10): 1020.
  • Tucker, J. P., Colefax, A. P., Santos, I. R., Kelaher, B. P., Pagendam, D. E., & Butcher, P. A. (2021). White shark behaviour altered by stranded whale carcasses: Insights from drones and implications for beach management. Ocean & Coastal Management, 200, 105477. doi:10.1016/j.ocecoaman.2020.105477.
  • Udin,  W.  S.,  dan  A.  Ahmad.  2014. Assessment of Photogrammetric Mapping Accuracy Based on Variation Flying Altitude Using Unmanned Aerial Vehicle. IOP Conference Series: Earth and Environmental    Science.    18: 12027.

 

MrRoSe   09 Juli 2021   Dilihat : 1815



Artikel Terkait: