Indonesia   |   English  
Saran Dan Pengaduan

BALAI RISET BUDIDAYA IKAN HIAS
BADAN RISET DAN SDM KELAUTAN DAN PERIKANAN
Kilas Berita  
Perkenalkan Magot ke Masyarakat, BRBIH Lakukan Kegiatan Difusi ke Berbagai Wilayah

Keberlangsungan sektor perikanan budidaya (sustainable aquaculture) terus mengalami peningkatan, dalam rangkaian kegiatan budidaya tersebut, ketersediaan pakan menjadi faktor penting, dimana kurang lebih 60-70 % dari total biaya produksi perikanan berasal dari pakan. Tingginya porsi biaya untuk pakan tentu menjadi perhatian dari banyak kalangan baik pemerintah maupun pengusaha. Sehingga teknologi-teknologi terkait inovasi pakan ikan menjadi menarik untuk diaplikasikan di masyarakat. Saat ini, keberadaan nutrisi yang tersimpan di limbah organik belum termanfaatkan secara maksimal, secara umum pengelolaan sampah organik difokuskan pada pengomposan, namun pengolahan sampah tersebut memiliki nilai investasi tinggi dan nilai ekonomis yang rendah. Melihat adanya potensi pemanfataan nutrisi dari limbah organik untuk dijadikan pakan ikan, Peneliti Balai Riset Budidaya Ikan Hias Dr. Melta Rini Fahmi, melaksanakan riset konsep biokonversi limbah organik menjadi sumber protein alternatif pakan ikan, yang telah mendapatkan pengakuan secara internasional dan Hak Paten baik Nasional maupun Internasional. Biokonversi merupakan proses transformasi, merombak (dekomposisi) dan menghancurkan (degradasi) nutrisi yang tersimpan dalam sampah dan limbah organik untuk dijadikan protein jenis baru dengan melibatkan mikroorganisme dan larva serangga dan menghasilkan magot yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ikan.

Balai Riset Budidaya Ikan Hias (BRBIH) melaksanakan rangkaian kegiatan Difusi Pengelolaan Sampah Organik Berbasis Magot untuk Kemandirian Perikanan Budidaya bekerja sama dengan Direktorat Inovasi Industri, Direktorat Jenderal Penguatan Inovasi, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti). Kegiatan dilaksanakan di Dunia Air Tawar Dunia Serangga (DATDS) Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta Timur pada hari Rabu tanggal 20 Maret 2019. Acara ini merupakan rangkaian kegiatan, yang sebelumnya telah dilaksanakan berbagai rangkaian acara Difusi Pengelolaan Sampah Organik Berbasis Maggot yang dimulai pada bulan Februari sampai Maret 2019 dibeberapa lokasi diantaranya Kabupaten Banyuasin – Sumatera Selatan, Kota Bandung – Jawa Barat, Sidoarjo – Jawa Timur, Lumajang – Jawa Timur dan Tegal – Jawa Tengah  yang diikuti ratusan peserta disetiap daerah dari berbagai sektor lapisan masyarakat, secara keseluruhan program difusi akan disebar di 16 lokasi di Indonesia diantaranya Tapanuli Utara, Sumatera Selatan, Jakarta, Bandung, Semarang, Sidoarjo, Wonosobo, Lumajang, Madura, Tegal, Kalteng, Ngawi, Sragen Banjarmasin, Banjar Baru, Samarinda dan Papua. Difusi Pengelolaan Sampah Organik yang dilaksanakan pada 20 Maret 2019 ini, dihadiri oleh Anggota Komisi X DPR RI, Dra. SB Wiryanti Sukamdani, Sekretaris Badan Riset Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan, Dr. Maman Hermawan, Koordinator Anjungan Daerah TMII, Dr. Mariyono, Kepala Balai Riset Budidaya Ikan Hias, Dr. Idil Ardi,  Kepala Bidang Riset Perikanan Budidaya, Agus Cahyadi, M.Si, para pejabat struktural lingkup BRSDMKP, perwakilan Dinas Pemerintah Kota DKI Jakarta, jajaran manajemen Taman Mini Indonesia Indah dan perwakilan Direktorat Penguatan Inovasi Kemenristek Dikti, serta para narasumber diantaranya Peneliti BRBIH, Dr. Melta Rini Fahmi, Direktur PT. Biomagg Sinergi Internasional, Bapak Pandu Damai Taufik, Direktur PT. Maggot Indonesia Lestari, Bapak Markus Santoso dan diikuti oleh 200 peserta dari unsur pembudidaya ikan, penggiat lingkungan, anak muda milenial yang ingin mengembangkan star-up usaha magot dan masyarakat umum di kawasan Jakarta. Dr. Idil Ardi selaku Kepala BRBIH pada laporan kegiatan menyampaikan “Hasil penelitian di BRBIH, diketahui bahwa untuk tumbuh dan berkembang, magot dari Black Soldier Fly (BSF) dapat memanfaatkan sampah-sampah organik seperti limbah bungkil kelapa sawit, sayuran dan buah-buahan rusak atau sisa makanan baik yang berasal dari restoran, mall maupun pasar” untuk itu, kehadiran magot diharapkan menjadi solusi kelangkaan pakan ikan sekaligus menyelesaikan masalah  lingkungan yaitu sampah organik.  Kegiatan dibuka langsung oleh Sekretaris BRSDMKP, Dr. Maman Hermawan, beliau menuturkan “Teknologi Biokonversi sampah organik berbasis Magot untuk sumber protein pakan ikan ini merupakan sebuah inovasi anak bangsa yang perlu kita apresiasi bersama. Teknologi produksi magot bukanlah hal yang baru di Litbang KKP, karena kami telah menginisiasi inovasi ini dari tahun 2005 dan pada tahun 2009, sampai mendapatkan paten internasional.”

BRSDMKP bersama Kemenristek Dikti berusaha memperkuat inovasi ini untuk masuk ke dunia Industri, dan terus melakukan difusi ke masyarakat melalui kegiatan Difusi Produk Inovasi kepada Masyarakat. Dr. Maman Hermawan mengatakan  “Tahun ini telah dikembangkan beberapa produk pakan ikan berbasis magot diantara nya MaGranul (Pakan untuk benih), Magfeed (pakan untuk pertumbuhan), BigMag (Magot live dan segar), MagKrispy (Pakan untuk induk) dan kedepannya akan terus dikembangkan produk-produk turunan dari magot. Diantara produk tersebut akan kami serahkan ke masyarakat hari ini”.

Diharapkan dengan adanya difusi produk inovasi ini dapat menciptakan lapangan kerja baru  yaitu pengolahan sampah organik menjadi pakan ikan, karena produksi magot memiliki keunggulan yaitu tidak membutuhkan air, listrik, bahan kimia dan investasi yang besar, selain itu diharapkan magot dapat menghidupkan kembali kegiatan perikanan budidaya, dan dengan ditemukannya magot sebagai pakan ikan alternatif dapat mengedukasi masyarakat untuk dapat memilah sampah sehingga dapat dikelola secara mandiri

Sawung   21 Maret 2019   Dilihat : 885



Artikel Terkait: