Indonesia   |   English  
Saran Dan Pengaduan

BALAI BESAR RISET BUDIDAYA LAUT DAN PENYULUHAN PERIKANAN
BADAN RISET DAN SDM KELAUTAN DAN PERIKANAN
Kilas Berita  
KUNJUNGAN KOORDINATOR/PENASIHAT BIDANG DAYA SAING SDM, INOVASI TEKNOLOGI DAN RISET KEMENTERIAN KKP, PROF. DR. ROHMIN DAHURI, MS

Minggu, 4 April 2021, Kepala Balai Besar Riset Budidaya Laut dan Penyuluhan Perikanan, Ir. Bambang Susanto, M.Si menerima kunjungan Prof. Dr. Rohmin Dahuri, MS bersama Anggota DPRD Jembrana, Pengusaha yg bergerak di bidang KP (PT Agung Menjangan Mas), dan dihadiri oleh peneliti BBRBLPP pada komoditas perikanan laut ekonomis penting. Dalam sambutannya Kabalai menekankan pentingnya dukungan riset perikanan budidaya laut agar hilirisasi teknologi yang dihasilkan dapat disampaikan kepada stakeholder baik melalui peran penyuluh sebagai ujung tombak ke masyarakat/ pelaku utama/usaha maupun kerjasama / sinergi dari berbagai pihak. Kunjungan Menteri KP sebelumnya ke Gondol sebelumnya, langsung ditindaklanjuti dengan sinergi program dengan Pemerintah Provinsi Bali, dimana BBRBLPP secara langsung diundang dan menyampaikan potensi pengembangan sumberdaya perikanan budidaya sehingga bisa diintegrasikan dalam mendukung program kerja Provinsi Bali. Komoditas perikanan laut saat ini yang potensial dikembangkan di masyarakat sebagai paket paket bisnis dengan diversifikasi segmentasi budidaya memberikan pilihan usaha di era pandemic covid 19 . Bandeng, berbagai jenis Kerapu (Bebek, Macan, Lumpur, Batik, bahkan kerapu hybrid cantik dan Cantang), Teripang Pasir, Kakap Putih, Abalon, Rajungan, Kepiting merupakan komoditas hasil riset BBRBLPP yang telah dikuasai dari teknologi budidaya nya dari Pembenihan sampai dengan Pembesarannya dan telah berhasil didiseminasikan ke masyarakat. Sedangkan Kerapu Sunu (Coral Trout) merupakan komoditas baru yang saat ini baru bisa dibenihkan dan dibesarkan oleh BBRBLPP dan merupakan kandidat alternative budidaya yang potensial dalam masa sekarang ini. Kelangsungan hidup yang cukup tinggi pada komoditas kerapu sunu ini telah mencapai 2 digit (diatas 10-13%) / harga per cm sekitar Rp.2000 dan siap dikembangkan untuk produksi masal, demikian disampaikan oleh Yasmina NA dkk (Peneliti Kerapu Sunu). Teripang pasir juga merupakan salah satu komoditas yang telah siap dikembangkan di masyarakat baik untuk pangan, obat obatan maupun kosmetika. Peneliti teripang di BBRBLPP, Sari Budi Moria dan Ketut Maha Setiawati dalam laporannya bahwa Teknologi budidaya ini telah dikembangkan di masyarakat melalui kelompok dan berhasil berkembang baik dalam budidaya di Tambak maupun Kurung Tancap Laut. Saat ini sedang dilakukan inisiasi kerjasama dengan beberapa stakeholder untuk kepentingan usaha dan diharapkan dapat berkembang dimasyarakat. Haryanti dan Ngurah Permana telah melaksanakan riset dan menghasilkan benih unggul untuk Kakap Putih dan benih ini telah digunakan melalui terobosan budidaya sistem polikultur dengan padi dan memiliki peluang dikembangkan karena sudah dapat dilakukan dan menghasilkan dengan baik di daerah Tabanan Bali. Selain itu Peneliti terkait, Muzaki dkk telah melakukan serangkaian riset pembenihan dan pembesaran kakap putih dengan sistem RAS maupun aplikasi di lapangan. Pada kesempatan ini, Ibu Nuning dari DPRD Tabanan juga menyampaikan harapannya agar komoditas yang dikembangkan dapat bersaing dengan dari luar Bali dan akan bekerja sama mendorong program budidaya perikanan dapat berkembang dengan baik di Tabanan. Abalon menjadi salah satu komoditas potensial lainnya karena telah mampu dibudidayakan secara massal baik di bak maupun di KJA, selain itu Abalon telah diusahakan hilirisasi nya sampai dengan pengalengan dengan menggandeng Lembaga Riset terkait untuk pengalengan yaitu BPTBA LIPI di Gunungkidul Yogyakarta. Ibnu Rusdi, peneliti komoditas abalon, Kepiting dan rajungan, menyampaikan permintaan abalon ini sebenarnya cukup bagus dan perlu nya dibuka lebih luas jejaring pemasarannya untuk memberikan peluang usaha budidaya di hulu sehingga usaha budidaya ditingkat pembudidaya dapat menguntungkan, karena budidaya abalon memerlukan wadah yang tidak besar dan dapat dipolikultur dengan komoditas lain seperti kerapu. Untuk kepiting teknologi pembenihan sampai dengan ukuran crablet dan pembesarannya telah mampu dihasilkan dan telah diaplikasikan di daerah Badung (Kampung Kepiting). Diharapkan kedepan adanya penguatan SDM Pelaku Utama dimasyarakat oleh pemda terkait/ Pengusaha, sehingga budidaya kepiting ini dapat berkesinambungan. Selain komoditas yang telah berhasil dibudidayakan dari benih sampai dengan pembesaran, juga dilakukan riset rintisan perbenihan ikan tuna sirip kuning. Peneliti Komoditas Tuna (Jhon Hutapea, Gunawan dkk) dalam laporannya saat ini telah berhasil dilakukan teknologi perbenihan menghasilkan benih sampai dengan ukuran 3 kg. Kedepan sesuai dengan program Kementerian KKP, riset pendederan tuna akan difokuskan kembali untuk menghasilkan benih dan meningkatkan kelulushidupan (SR). Diharapkan riset tuna ini mendapatkan dukungan sarana prasarana yang berkesinambungan sehingga dapat ditemukan prototype budidaya yang utuh dan siap dilakukan riset lanjutan sampai dengan didapatkan paket teknologi nya. Lobster menjadi komoditas budidaya laut yang primadona saat ini, dimana semua pihak berlomba lomba dalam melakukan riset/ perekayasaan dalam budidaya nya. Potensi alami benih bening lobster di alam yang melimpah dan kebijakan kementerian KKP yang mengharapkan lobster dapat dibudidayakan didalam negeri memberikan kesempatan riset terkait budidaya pembesaran baik dari faktor nutrisi pakan, maupun rekayasa budidayanya. NA Giri dan Bejo Slamet, peneliti Nutrisi Pakan Lobster dan Budidaya di Bak/KJA telah melakukan serangkaian riset dan aplikasi untuk mengetahui formulasi pakan yang sesuai dengan pertumbuhan lobster di bak/KJA. Formulasi pakan lobster pasir di Lombok Timur dari benih ukuran 50-80 g dalam waktu 3-4 bulan mencapai ukuran berat 200-225 g dengan SR 87,5% melalui sistem segmentasi budidaya. Riset pemantapan formulasi pakan dan teknologi budidaya dengan dukungan sarana dan prasarana diharapkan mampu mempercepat paket teknologi budidaya yg lebih komprehensif kedepannya.

Prof Dr. Rohmin Dahuri dalam kesempatan ini menyampaikan bahwa beberapa teknologi BBRBLPP telah mencapai Technology Readiness Level (TRL) / Tingkat Kesiapan Teknologi yang sudah tinggi (sampai Industrialisasi), dan hal ini sangat membanggakan ditunjang dengan capaian BBRBLPP telah ditetapkan sebagai salah satu Pusat Unggulan IPTEK. Prof Dr. Rohmin Dahuri menjelaskan tentang road map arah kebijakan pemerintah saat ini terutama KKP dalam mendukung budidaya perikanan atau Aquaculture sebagai tumpuan ekonomi apalagi Indonesia dikenal sebagai poros maritime dunia. Beberapa komoditas unggulan yang menjadi fokus pengembangan adalah udang vanamei, rumput laut, lobster, kerapu, kakap, kepiting dan nila. Aspek permintaan pasar, kemampuan produksi, penyerapan tenaga kerja dan networking adalah beberapa faktor penunjang selain sinergitas antara pemerintah pusat dan daerah serta riset memegang peran penting didalamnya. Diharapkan roadmap komoditas riset BBRBLPP dapat direncanakan dengan baik dan tepat dengan salah satunya perlunya melihat potensi pasar terlebih dahulu untuk komoditas baru yang akan dikembangkan, hal ini senada dengan yang disampaikan oleh Apri Imam Supii (Peneliti Kerapu/Tiram Mutiara). BBRBLPP harus memiliki bidang riset yang mendukung keberhasilan hilirisasi nya, selain 4 bidang yang saat ini dilaksanakan yaitu bidang (1). Riset Biologi dan Reproduksi (2). Riset Genetik dan Bioteknologi (3). Riset Pakan dan Nutrisi dan (4). Riset Kesehatan Ikan dan Lingkungan perlu adanya Riset Rekayasa Wadah Budidaya (Aquaculture Engineering) yang melibatkan peran teknik sipil dalam perencanaan sehingga kedepan menghasilkan Teknologi Budidaya Laut yang lebih komprehensif sesuai kondisi lingkungan yang dibutuhkan. Hasil hasil riset tersebut diharapkan dapat diintegrasikan dengan program pemerintah daerah/ unit eselon I lain maupun K/L sehingga lebih terlihat keberhasilan nya untuk pembangunan masyarakat KP. Untuk langkah awal BBRBLPP diharapkan dapat mendukung Pemerintah Daerah Provinsi Bali, dengan memberikan input berupa paket paket teknologi adaptif untuk dapat diaplikasikan di Bali sebagai salah satu upaya menggali potensi KP di Bali yang telah dicanangkan oleh Gubernur Bali. Prof. Dr. Rohmin Dahuri berjanji untuk mengawal dukungan BBRBLPP sehingga dapat memberikan rekomendasi kebijakan pemerintah dalam mendukung pengembangan budidaya perikanan.

Masiani   04 April 2021   Dilihat : 630



Artikel Terkait: