Indonesia   |   English  
Saran Dan Pengaduan

BADAN RISET DAN SUMBER DAYA MANUSIA KELAUTAN DAN PERIKANAN
Kilas Berita  
Cerita Lulusan Politeknik KKP Kembangkan Budidaya Mutiara Beraneka Rupa

 

 

 

JAKARTA, (6/9) – Wa Ode Sastaviani Dewi, lulusan Politeknik Ahli Usaha Perikanan (AUP) yang diwisuda pada akhir Agustus lalu ternyata sedang melaksanakan inkubasi bisnis pengembangan budidaya mutiara Mabe di tanah kelahirannya Sampolawa, Buton Selatan, Sulawesi Tenggara. Keberhasilannya dalam penelitian insersi yang menghasilkan mutiara berbagai rupa mempertebal tekadnya mengembangkan budidaya mutiara di daerahnya agar masyarakat sejahtera.

 

Wa Ode, anak seorang nelayan kecil pencari ikan tuna harian asal Sampolawa, Buton Selatan, Sulawesi Tenggara. Sedangkan ibunya, harus mengolah sebagian ikan tangkapannya ikan panggang untuk dijual agar kebutuhan sehari-hari tercukupi. Tekanan ekonomi yang terus berlanjut, memaksa Wa Ode berpisah dengan kedua orang tua pada 2017 yang terpaksa terpaksa berpindah ke tempat yang lebih jauh di Seram Bagian Timur, Maluku, guna mencari fishing ground (daerah penangkapan ikan) yang lebih. Kala itu Wa Ode yang sedang berada di bangku SMU berjualan biskuit goreng untuk menyambung hidupnya bersama kedua adiknya yang masih kecil. Keinginan kuat untuk mengubah Nasib, akhirnya membawanya Politeknik AUP melalui jalur khusus bagi anak pelaku usaha kelautan dan perikanan, yang merupakan program dari Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BPPSDMKP).

 

Masyarakat di daerah Wa Ode memang menggantungkan hidupnya dengan membudidayakan kerang Mabe di teluk Palabusa. Jenis kerang yang memiliki keistimewaan karena keunikan bentuk serta masa pemeliharaan yang jauh lebih cepat dibandingkan budidaya kerang mutiara pada umumnya. Hal ini yang kemudian mengilhami Wa Ode untuk mengembangkan budidaya mutiara kerang mabe yang selama ini dijual sebagai bahan mentah dengan harga murah dan berbentuk mutiara setengah bulat.

 

Hal yang sebenarnya sudah dia mulai ketika melakukan praktik akhir studinya. Ia pun kemudian melakukan penelitian dengan fokus pada Kinerja Kerang Mutiara Mabe (Pteria penguin) yang diinsersi menggunakan inti mutiara berbeda di perairan Palabusa, Kota Baubau, Sulawesi Tenggara. Penelitian yang kemudian berhasil menghasilkan varian bentuk mutiara. Wa Ode menyebut bahwa selain mutiara yang berbentuk setengah bulat, mutiara yang berbentuk bulat dan hati juga sangat menjanjikan untuk dijual dalam bentuk jadi, sehingga bernilai jual tinggi.

 

 

Ketua Program Studi Teknologi Akuakultur Politeknik AUP Sinar Pagi Sektiana, yang juga menjadi dosen pembimbing Wa Ode mendukung semangat anak bimbingnya untuk mengembangkan dan memodifikasi budidaya Mutiara tersebut agar meningkat nilai jualnya. Hal yang dilakukan Wa Ode tersebut kemudian menumbuhkan gairah baru di Masyarakat yang membudidayakan mutiara di Sampolawa.

 

“Saya pandu untuk praktik akhir di situ dengan modifikasi supaya meningkatkan nilai jual produk mutiara di situ. Setelah itu apa yang dilakukan Wa Ode ternyata menumbuhkan gairah baru di masyarakat,” ujar Sinar.

 

Kampus tempat Wa Ode belajar pun memberikan dukungan dengan program inkubasi bisnis dan pendampingan melalui IEC (Innovative Entrepreneur Cadet) Politeknik AUP Kampus Serang, yang juga berkolaborasi alumni. Usaha yang dijalankan Wa Ode bersama tim dengan inkubasi dan pendampingan dari kampus bernama Alysta Mutiara. Masa inkubasi dan pendampingan dari kampus ini ditargetkan selama dua tahun setelah wisuda. Setelah dua tahun diharapkan, usaha mutiara tersebut sudah bisa mandiri dan bisa lepas dari kampus. Selanjutnya Alysta Mutiara diserahkan kepada Wa Ode dengan brand menjadi miliknya untuk dia kembangkan dengan memberdayakan masyarakat. Ke depannya, kampung tersebut diharapkan kampung wisata mutiara. Selain pembudidaya, pengrajin, penjual sampai dengan pariwisata diharapkan tumbuh. Masyarakat tidak hanya menjual mutiara sebagai bahan mentah tapi sudah bentuk barang jadi seperti perhiasan, bros, kalung, dan sebagainya.

 

 

Wa Ode adalah salah satu dari beberapa anak pelaku utama yang berhasil menjadi pengungkit ekonomi keluarga dan Masyarakat sekitarnya. Kepala Badan Riset dan SDM Kelautan dan Perikanan (BRSDM) KKP I Nyoman Radiarta menyampaikan harapannya agar lulusan-lulusan lain juga dapat membangun daerahnya. KKP sendiri mulai 2023 menerima peserta didik di satuan pendidikan lingkup KKP yang 100% berasal dari anak pelaku utama kelautan dan perikanan, seperti nelayan, pembudidaya, pengolah, dan pemasar ikan, serta petambak garam. Ini merupakan upaya meningkatkan kemampuan pelaku usaha.

 

Nyoman juga mengatakan, para wisudawan saat ini sudah banyak yang menjadi penggerak masyarakat dan berhasil mengembangkan inisiasi positif di sektor kelautan dan perikanan. Salah satunya dari Program Studi Penyuluhan Perikanan, yaitu Teguh Maulana (Inisiasi Pencetusan Desa Mina Eduwisata Kreatif Tanjung Binga Belitung), Firda Yunisa (Pemberdayaan Kelompok dan Pengembangan Wilayah Perikanan Melalui Mina Eduwisata Kampung Nila Kawali, Ciamis), Bella Rahma Sayyida (Pengembangan Wilayah Perikanan Berbasis Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Melalui Penyuluhan di Temanggung), Dewaldi (Inisiasi Penumbuhan Desa Mina Wisata Berbasis Blue Economy di Sumbawa Barat), Festi Mega Rahayu (Pelestarian Terumbu Karang Melalui Mina Eduwisata berupa Penanaman 50.000 Fraksi Terumbu Karang Bersama Kelompok Nuansa Pulau di Nusa Penida).(MNA)

 

HUMAS BPPSDM

Harjuno Sistiyanto   06 September 2023   Dilihat : 84



Artikel Terkait: