Indonesia   |   English  
Saran Dan Pengaduan

BADAN RISET DAN SUMBER DAYA MANUSIA KELAUTAN DAN PERIKANAN
Kilas Berita  
Nila Tumbuh Cepat di Salinitas Tinggi

Ikan nila, tentunya ikan ini sudah tidak asing lagi di masyarakat karena banyak digemari untuk dikonsumsi. Ikan nila  (Oreochromis sp) merupakan  salah satu spesies ikan yang sangat penting di dunia dan pembudidayaannya dapat dilakukan dengan berbagai sistem budidaya mulai dari skala budidaya yang sederhana (menggunakan pakan berupa limbah organik) sampai skala super intensif. Kemampuan ikan nila untuk beradaptasi dan bertoleransi pada berbagai kondisi lingkungan menyebabkan budidaya spesies ini berkembang dengan cepat di berbagai negara . Ikan nila merupakan ikan budidaya terpopuler kedua di dunia setelah ikan mas. FAO melaporkan kebutuhan akan ikan ini sebanyak 173.700 ton pada 2007, 179.400 ton di 2008, 183.400 ton pada  2009 dan 97.000 ton di semester pertama 2010. Ikan nila dibudidayakan di ±83 negara, dengan produsen terbesar yaitu negara-negara berkembang di Asia dan Amerika Latin.

Di Indonesia, ikan nila termasuk ke dalam 10 komoditas prioritas budidaya. Kementrian Kelautan dan Perikanan menargetkan sasaran produksi perikanan Indonesia pada tahun 2009 – 2014 secara berturut-turut adalah 378.300, 491.800, 639.300,850.000, 1.105.000 dan 1.242.900 ton atau setara dengan peningkatan sebesar 27,09% setiap tahunnya.  Salah satu kebijakan dalam rangka pencapaian sasaran produksi tersebut adalah pengembangan kawasan budidaya dan penyediaan benih yang berkualitas.

Pengembangan kawasan budidaya ini perlu dilakukan, dengan mengoptimalkan lahan yang pada saat ini relatif kurang produktif seperti lahan tambak di sebagian besar pantai utara Pulau Jawa.  Tambak-tambak tersebut merupakan lahan bekas budidaya udang windu yang dalam waktu 10-15 tahun terakhir mengalami kegagalan panen dikarenakan terjadinya wabah penyakit pada usaha budidaya tersebut.  Dalam rangka memberdayakan dan meningkatkan produktivitas lahan budidaya tersebut perlu dicari komoditas-komoditas alternatif yang dapat hidup pada lahan dengan kondisi yang ada.

Perakitan strain unggul ikan nila di Indonesia telah dilakukan sejak lama, namun itu hanya sebatas perbaikan kualitas genetik untuk dikembangkan di perairan tawar, belum menyentuh kebutuhan masyarakat pembudidaya ikan di kawasan pesisir yang selama ini bekerja sebagai pembudidaya udang. Seiiring dengan meredupnya usaha budidaya udang di tambak dibutuhkan komoditas lain sebagai pengganti yaitu ikan dengan karakter tumbuh cepat di perairan payau.

 Untuk memenuhi kebutuhan benih dan induk unggul tersebut Balai Penelitian Pemuliaan Ikan Sukamandi sejak tahun 2007 melakukan kegiatan improvisasi untuk menghasilkan ikan nila tumbuh cepat di salinitas tinggi melalui seleksi dan persilangan. Tahapan seleksi dilakukan dengan menyeleksi ikan nila yang sudah berkembang dan memiliki karakter pertumbuhan terbaik di air tawar kemudian menyilangkannya dengan ikan nila yang memiliki karakter toleransi luas di salinitas. Proses perkawinan ikan nila ini dilakukan di air tawar sedangkan pembesarannya di air payau. Hasil persilangan ini kemudian muncul dengan nama ikan nila sukamandi.

Performa nila sukamandi ditambak 30 ppt menunjukkan hasil yang menjanjikan karena mampu hidup dan berkembang dengan baik. Pembesaran benih berukuran 3-4 gram selama 4 bulan memperlihatkan bobot sebesar 350-400 gram dibandingkan ikan nila lokal dan nila merah yang hanya mencapai bobot maksimal 300 gram. Begitupun dengan kelulushidupan ikan yang mencapai 80-85%. Kualitas daging nila sukamandi mempunyai kadar protein tinggi 22 % dan karbohidrat  yang rendah mendekati 0 % sehingga sangat baik untuk konsumsi manusia.

 Pertumbuhan yang relatif cepat ini selain memiliki peluang untuk meningkatkan produksi nila nasional, fillet nila yang berupa produk olahan pun dapat memenuhi kebutuhan pasar luar negeri, karena syarat yang diberlakukan untuk daging fillet nila biasanya diatas 300 gram. Varietas baru ini bisa dijadikan sebagai komoditas alternatif untuk memanfaatkan lahan marginal khususnya di daerah pantura yang banyak menganggur. Diharapkan juga dapat memperbaiki kesejahteraan petani ikan.

(Penulis: Adam Robisalmi - Balai Riset Pemuliaan Ikan)

Data BRSDM   13 Agustus 2018   Dilihat : 4506



Artikel Terkait: