Indonesia   |   English  
Saran Dan Pengaduan

BADAN RISET DAN SUMBER DAYA MANUSIA KELAUTAN DAN PERIKANAN
Kilas Berita  
Menteri Trenggono Dukung Pemberdayaan Keluarga Nelayan di Tengah Pandemi Lewat Diversifikasi Olahan Ikan

BELITUNG (28/3) – Guna menambah pengetahuan dan keterampilan masyarakat serta menerapkan inovasi pada usaha perikanan untuk menambah penghasilan rumah tangga, terlebih di masa pandemi Covid-19, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) menyelenggarakan Pelatihan Diversifikasi Olahan Hasil Perikanan bagi para istri nelayan di Desa Suak Gual, Belitung, pada 26-27 Maret 2021.

 

Diselenggarakan oleh Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan (BPPP) Medan, sebanyak 50 peserta setempat mengikuti kegiatan dengan antusias.

 

“Ibu-ibu sedang membuat apa?” tanya Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono kepada para peserta pelatihan saat kunjungan kerjanya di Desa Suak Gual pada Jumat (26/3).

 

“Abon ikan Pak, dari ikan tenggiri kualitas terbaik,” jawab salah satu peserta pelatihan.

 

“Kalau yang buat ibu-ibu ini sudah pasti enak,” kata Menteri Trenggono.

 

Terbentang di wilayah seluas 36 Ha, Desa Suak Gual memiliki sekitar 923 jiwa penduduk yang mayoritas bermata pencaharian sebagai nelayan dan petani kebun. Hal ini tak lepas dari kekayaan perikanan dan pertaniannya yang melimpah.

 

Kepala BRSDM Sjarief Widjaja menyebut, pelatihan pengembangan diversifikasi usaha kali ini merupakan bentuk dukungan terhadap program pemberdayaan nelayan yang dicanangkan Direktorat Jendal Perikanan Tangkap KKP.  Mengacu pada arah kebijakan KKP dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2020-2024, dinyatakan bahwa salah satu upaya pemerintah untuk pembangunan perikanan tangkap yakni dengan mengupayakan ‘pengembangan pemukiman nelayan maju’.

 

“Kami berharap berharap industri pengolahan hasil perikanan di Desa Suak Gual ini bisa semakin berkembang ke depannya. Jadi hasil tangkapan ikan bapak-bapak nelayan di sini bisa dimanfaatkan oleh para istrinya untuk diolah. Dengan begitu,

Desa Suak Gual bisa menjadi kampung nelayan yang bersih, nyaman, maju, dan mandiri,” ujar Sjarief.

 

Tak hanya itu, industri pengolahan ikan pun diharapkan dapat terus tumbuh guna mendukung pengembangan usaha keluarga nelayan berwawasan gender. “Upaya peningkatan peran wanita, termasuk istri nelayan, diharapkan dapat bersinergi dengan kebijakan, program, atau kegiatan pada sektor-sektor terkait lainnya dan melibatkan keseluruhan stakeholder, sehingga dapat mewujudkan hasil yang komprehensif dan berkesinambungan,” tuturnya.

 

Pelatihan ini pun mendapatkan apresiasi dari Menteri Trenggono. Ia mendorong agar pelatihan-pelatihan serupa terus ditingkatkan ke depannya guna mendorong industri perikanan yang maju dan menyejahterakan keluarga-keluarga nelayan. “Pelatihan ini bagus. Perlu untuk dikembangkan,” ungkapnya.

 

Apresiasi pun datang dari para pejabat lainnya. Salah satunya Sekretaris Jenderal KKP Antam Novambar, yang berniat ingin memborong hasil olahan ikan para peserta pelatihan. “Ini baksonya dijual?” tanya Antam.

 

“Tidak Pak, ini hasil praktek ibu-ibu peserta pelatihan, hanya untuk dicoba saja,” jawab Kepala BPPP Medan Natalia.

 

Setelah mencoba semangkuk bakso ikan, Antam berujar, “Wah ternyata baksonya enak ya.”

 

Natalia menyatakan, pihaknya akan terus berupaya meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat KP untuk membuka inovasi-inovasi usaha baru yang dapat menambah penghasilan rumah tangga, terutama di tengah masa pandemi Covid-19. Ia menilai, industri olahan hasil perikanan memiliki prospek yang bagus untuk dikembangkan ke depan.

 

“Diversifikasi olahan ikan ini mudah, praktis, dan sangat bergizi sehingga banyak digemari oleh masyarakat. Dengan menambahkan beberapa bahan dan bumbu sepeti tepung tapioka, terigu, telur, lada, bawang merah dan bawang putih, bahan baku ikan sudah bisa dikembangkan menjadi berbagai jenis produk. Mulai dari surimi, bakso ikan, nugget ikan, kerupuk ikan, sampai takoyaki dan burger ikan yang disukai oleh masyarakat,” tuturnya.

 

Dengan begitu, hasil perikanan pun menjadi bernilai tambah (added value) yang bisa menjadi tambahan penghasilan bagi keluarga nelayan. Tak hanya itu, olahan ikan juga bisa menjadi alternatif untuk memanfaatkan sisa hasil panen ikan yang tidak terjual sehingga lebih tahan lama dan bagi masyarakat.

 

“Namun tentunya, kita harus pastikan bahwa produk-produk tersebut memiliki kualitas yang baik. Untuk itu, kami akan terus memberikan pelatihan-pelatihan tentang bagaimanca cara mengolah produk perikanan dengan teknik-teknik yang benar, baik secara tradisional maupun modern, sehingga menghasilkan produk yang berkualitas,” ungkap Natalia. 

 

Guna memastikan keberlanjutan usaha para peserta, pihaknya pun memfasilitasi bahan praktek yang diperlukan dalam kegiatan pelatihan serta bahan ajar yang dapat digunakan sebagai bekal mereka. Para penyuluh pun akan terus mendampingi dan berkomunikasi dengan para peserta pasca pelatihan guna memonitor usahanya.

 

“Ini penting selain untuk terus menjalin komunikasi tetapi juga pelatih dapat memantau dan memberi solusi ketika mereka kesulitan dalam menerapkan ilmu yang didapat,” pungkas Natalia.

 

Pelatihan ini mendapatkan antusiasme dari para peserta. “Terima kasih kepada KKP yang telah membimbing kami membuat sambal abon dari ikan,” ucap salah satu peserta dari Kelompok Pelangi Suak Gual.

 

Hal senada disampaikan peserta lainnya asal Kelompok Laut Biru. “Terima kasih kepada KKP yang telah melatih kami menjadi wanita nelayan yang bisa membuat bakso ikan tenggiri,” ujarnya.

 

HUMAS BRSDM

 

 

Anindya Legia   28 Maret 2021   Dilihat : 1887



Artikel Terkait: