Indonesia   |   English  
Saran Dan Pengaduan

BADAN KARANTINA IKAN, PENGENDALIAN MUTU DAN KEAMANAN HASIL PERIKANAN
Kilas Berita  
KKP Pastikan Enam Jenis Ikan Ini Aman Dikonsumsi

Jakarta – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) memberikan klarifikasi terkait informasi yang beredar di media sosial dengan judul “6 Jenis Ikan Yang Sebaiknya Tak Kamu Makan Meski Umum di Pasaran”. Enam ikan yang disebut berbahaya itu merupakan hasil saduran situs berita Bright Side di Amerika Serikat dengan judul “9 Kinds of Fish You Shouldn’t Eat”.

 

Dalam tulisan tersebut, enam jenis ikan yang ada di Indonesia seperti lele, mackerel, tuna, nila, ikan dolar, dan belut disebut kurang aman bagi kesehatan sehingga dianjurkan untuk tidak dikonsumsi masyarakat.

 

Kepala Pusat Pengendalian Mutu Widodo Sumiyanto menyebutkan, enam jenis ikan tersebut aman dikonsumsi jika berasal dari Indonesia. Ikan lele misalnya, dalam artikel tersebut, ikan lele dianggap berbahaya karena dinilai tidak tumbuh dan dikembangkan secara wajar.

 

Namun berbeda halnya dengan lele Indonesia. Lele Indonesia merupakan hasil produksi dalam negeri dengan teknik budidaya yang baik. Indonesia bahkan tidak melakukan kegiatan importasi lele dari luar yang kualitasnya masih diragukan. Justru ikan lele Indonesia telah diekspor hingga ke pasar Uni Eropa.

 

Selain lele, mackerel juga disebut banyak mengandung merkuri yang berbahaya bagi kesehatan, utamanya yang berasal dari Samudera Atlantik. Menurut Widodo, Mackerel secara umum memang mengandung merkuri (Hg) sebagai dampak dari proses rantai makanan (food chain systems).

 

“Ambang batas Aman merkuri untuk dikonsumsi adalah 1 ppm, sedangkan kadar merkuri ikan mackerel di Indonesia dibawah 0,5 ppm (bagian per juta). Jadi dapat dipastikan mackerel Indonesia aman untuk dikonsumsi,” terang Widodo.

 

Sama halnya dengan mackerel, ikan tuna khususnya tuna sirip hitam dan sirip biru juga disebut banyak mengandung merkuri. Widodo membenarkan hal tersebut, namun ia kembali menegaskan bahwa kandungan merkuri pada tuna Indonesia masih jauh berada di bawah ambang batas aman, seperti halnya mackerel.

 

“Ada pula yang menyebut ikan nila berbahaya karena kandungan lemaknya yang tinggi yang disebut setinggi kandungan lemak pada babi. Mereka menyebut mengonsumsi ikan nila akan menambah kadar kolestrol dan membuat tubuh sensitif terhadap alergi. Hal ini tidak akan terjadi pada ikan nila hasil produksi dalam negeri dengan teknik budidaya yang baik. Terkait kandungan allergen, bukan hanya nila yang memilikinya, hampir semua ikan mengandung allergen terkait protein yang dimilikinya,” jelasnya.

 

Begitu pula dengan ikan dolar/oilfish. Widodo membenarkan bahwa ikan dolar mengandung zat the wax esters (gempylotoxin) pada dagingnya. Dalam jumlah besar, zat ini memang sulit dimetabolisme tubuh sehingga dapat mengganggu perncernaan. Namun Widodo menyebutkan, ikan dolar atau yang biasa dikenal sebagai ikan gindara ini aman dikonsumsi, jika asupannya tidak lebih dari 170 gram per orang per hari.

 

“Begitu pula dengan belut. Belut di Amerika dan Eropa boleh jadi disebut berbahaya karena hidup dan tumbuh di daerah tercemar sehingga berpotensi mengandung zat berbahaya dan merkuri. Nah sebenarnya belut yang hidup diperairan tercemar ini yang tidak layak dikonsumsi. Taka da salahnya mengonsumsi belut jika ia hidup di lingkungan yang tidak tercemar,” paparnya.

 

Terakhir, Widodo mengajak masyarakat untuk tidak takut mengonsumsi ikan karena pada umumnya ikan sehat dan baik untuk tubuh. Namun masyarakat perlu memperhatikan lingkungan tempatnya tumbuh dan berkembang agar tak terkontaminasi zat-zat berbahaya dan batas yang diperbolehkan.

BKIPM   08 Oktober 2018   Dilihat : 3104



Artikel Terkait: