Indonesia   |   English  
Saran Dan Pengaduan

BADAN KARANTINA IKAN, PENGENDALIAN MUTU DAN KEAMANAN HASIL PERIKANAN
Kilas Berita  
Lindungi Ketam Kenari, Kepiting Langka yang Terancam Punah

JAKARTA (14/2) - Keberadaan spesies birgus latro atau coconut crab, atau di Indonesia lebih dikenal dengan sebutan Ketam Kenari atau Ketam Kelapa, merupakan jenis arthropoda darat terbesar di dunia. Penyebaran Ketam Kelapa (birgus latro) cukup luas, yaitu tersebar mulai dari Samudera Hindia dan Samudera Pasifik, berdekatan dengan garis khatulistiwa. Sebenarnya penyebutan ketam atau kepiting tidak tepat karena hewan ini masuk dalam kekerabatan umang-umang darat (ceonobita) yang sangat maju dalam hal evolusi. Jadi mungkin ia lebih tepat disebut umang-umang kenari, namun demikian penduduk kepulauan Maluku sudah menyebutnya ketam kenari, dalam bahasa Inggris disebut "terrestrial hermit crab".

Tubuh ketam kenari dibagi menjadi bagian depan (kepala-dada atau sefalotoraks), dengan 10 kaki, dan abdomen (perut). Sepasang kaki terdepan mempunyai capit besar dan cakar (chelae) ini dapat mengangkat benda hingga seberat 29 kg. Kematangan gonad ketam kenari pada umumnya mencapai panjang karapas kurang lebih 5 cm (Whitten et al. 1987) atau pada umur 3,5 - 5 tahun dan telah 8 kali mengalami pergantian kulit. Pada umur ini ketam kenari sudah mulai melakukan aktivitas perkawinan dan memulai siklus baru dalam hidupnya.

Pada proses perkawinan ketam kenari, antara ketam jantan & betina berkelahi satu sama lain, lalu ketam jantan berbalik ke punggung betina untuk kawin. Seluruh proses perkawinan berlangsung sekitar 15 menit. Setelah itu betina akan bertelur dan melekatkan telur di bawah perutnya dan membawanya selama berbulan-bulan.

Limbong (1983) mencatat bahwa telur yang dimiliki oleh seekor induk ketam kelapa berjumlah ribuan. Hampir semua ketam kenari harus mencari air untuk perkembangan larvanya. Ketam kelapa betina melepaskan telurnya ke laut pada saat air laut pasang tertinggi dan selanjutnya telur menetas. Kemudian larva-larva tersebut mengapung di lautan selama 28 hari. Setelah itu mereka hidup di dasar laut dan di pantai sebagai umang-umang dengan menggunakan cangkang siput yang kosong untuk berlindung selama 28 hari ke depan. Setelah 28 hari, mereka meninggalkan lautan secara permanen dan kehilangan kemampuan bernafas di air.

Ketam kenari merupakan hewan nocturnal atau hewan yang beraktifitas di malam hari. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari mereka dari pemangsa seperti anjing, kadal, manusia dan lain-lain.

Ketam Kelapa mencari makanan di sekitar pantai bersama dengan hewan nocturnal lainnya yaitu kelomang darat dan kepiting. Pada siang hari, mereka akan menghabiskan waktunya tidur di balik semak.

Makanan utama ketam kenari terdiri dari buah, termasuk kelapa dan beringin. Tetapi, mereka akan memakan hampir semua yang organik, seperti daun, buah busuk, telur penyu, hewan mati, dan cangkang hewan lain, yang dipercaya menyediakan kalsium.

Di Indonesia, ketam kenari tersebar paling banyak di kawasan Indonesia TImur yaitu Nusa Tenggara, Maluku, Papua, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara dan Kalimantan yakni di Pulau Derawan. Harga ketam kenari terbilang cukup tinggi, per ekornya berkisar Rp 100 ribu hingga Rp 300 ribu, tergantung besarnya. Ketam ini memang bisa mencapai ukuran besar dengan panjang sekitar 40cm dan berat per ekor mencapai 4 kilogram.

Data tentang populasi ketam kenari di Indonesia dapat dikatakan sangat kurang. Jumlahnya menurun secara signifikan karena terus dieksploitasi sebagai sumber protein hewani. Penangkapan ketam kenari kerap dilakukan di beberapa daerah terluar Indonesia, dan kerap disalahgunakan sebagai pintu keluar masuk penyelundupan. Secara hukum, ketam kenari ditetapkan sebagai hewan yang dilindungi, sebagaimana tertera pada PP Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Satwa Liar.

Permintaan pasar akan ketam raksasa ini terus meningkat, namun berbanding terbalik dengan ketersediaan spesies ini. Eksploitasinya tidak didukung dengan upaya konservasi dan pengelolaan yang tepat, tentu dapat mengakibatkan menyebabkan kepunahan. Kita masih berharap adanya suaka tersendiri bagi ketam kenari. Agar spesies ini terus terjaga kelestariannya.

bkipm1   26 Maret 2018   Dilihat : 8644



Artikel Terkait: