Indonesia   |   English  
Saran Dan Pengaduan

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
REPUBLIK INDONESIA
Kilas Berita  
FAQ Tentang Penghitungan Angka Konsumsi Ikan Nasional
1. Q :

Apakah itu Angka Konsumsi Ikan Nasional?

  A : Jumlah kilogram ikan yang dikonsumsi masyarakat Indonesia selama satu tahun dalam bantuk konversi setara konsumsi ikan utuh segar.
     
2. Q :

Manfaat dari Angka Konsumsi Ikan?

  A :
  1. Menggambarkan kebutuhan ikan per jenis di masing-masing wilayah
  2. Mengetahui pola konsumsi masyarakat dan analisis preferensi konsumen di suatu daerah
  3. Mengetahui sumbangan ikan terhadap konsumsi pangan khususnya pangan hewani
     
3. Q :

Bagaimana cara menghitung Angka Konsumsi Ikan?

  A :

Rumus penghitungan Angka Konsumsi Ikan (AKI)

       AKI = A + B + C

       dimana :   A = Konsumsi di Rumah Tangga (KIDRT)

                        B = Konsumsi Luar Rumah Tangga

                        C = Konsumsi Tidak Tercatat

Penjelasan :

1. Konsumsi di Rumah Tangga

  • Konsumsi di Rumah tangga dihitung berdasarkan data Susenas (BPS) yang dikonversi ke dalam bentuk setara utuh segar.
  • Komponen jenis ikan yang dihitung mencakup 4 kelompok yaitu :
    1. Ikan dan udang segar
    2. Ikan dan udang asin/diawetkan
    3. Terasi/petis (di dalam kelompok bumbu-bumbuan)
    4. Ikan dalam kelompok makanan jadi (ikan bakar, presto, pindang, bakar, dll)

Data keempat kelompok tersebut di atas dari data Susenas, tidak dapat langsung dijumlahkan karena satuan berbeda (kg, ons, dan potong), dan masih diperlukan faktor konversi dari ikan dalam bentuk asin/awetan dan bumbu-bumbuan ke ikan dalam bentuk segar. Selain itu, diperlukan juga konversi untuk ikan yang berasal dari “kelompok makanan/minuman jadi” dari satuan potong ke satuan kilogram.

2. Konsumsi Luar Rumah Tangga, memperhitungkan

  • Perkembangan hotel, restoran dan catering (Horeka),
  • Perkembangan tamu hotel dan restoran,
  • Perkembangan penyediaan menu ikan oleh katering,
  • Potensi kebutuhan ikan di Rumah Tangga Khusus (kelompok ini tidak masuk dalam pencacahan Susenas). Rumah Tangga Khusus yaitu : (1) orang-orang yang tinggal di asrama, tangsi, panti asuhan, lembaga pemasyarakatan atau rumah tahanan yang pengurusan kebutuhan sehari-harinya dikelola oleh suatu yayasan atau lembaga; dan (2) kelompok orang yang mondok dengan makan (indekos) dan berjumlah 10 orang atau lebih.

 

3. Konsumsi Tidak Tercatat

  • Menggali beberapa produk olahan ikan yang berpotensi tidak tercacah karena tidak ada di dalam Susenas terutama produk olahan ikan berbahan baku surimi seperti nugget ikan, bakso ikan, mpek-mpek, siomay, otak-otak, dsb
     
4. Q :

Bagaimana faktor konversi ikan yang digunakan?

  A :

Faktor konversi ikan menggunakan Pedoman Penyusunan Neraca Bahan Makanan (NBM) yang diterbitkan Badan Ketahanan Pangan, Departemen Pertanian (2005) yang diolah oleh Ditjen PDSPKP, sebagai berikut :

Pengggunaan konversi untuk konsumsi ikan dalam bentuk bumbu-bumbuan termasuk dalam jenis ikan/awetan terasi. Sedangkan penggunaan konversi untuk konsumsi ikan dalam “kelompok makanan jadi” yang berbentuk ikan bakar, presto, pindang, bakar, dll dengan aneka ukuran potong, maka untuk mengetahui kuantitas konsumsi ikan dari “kelompok makanan jadi” tersebut menggunakan pendekatan formula penghitungan tertentu.

     
5. Q :

Sumber data yang digunakan dalam penghitungan Angka Konsumsi Ikan?

  A :

Data Susenas BPS, Survey Bahan Pokok BPS, Data BPS terkait jumlah penduduk, tingkat pengangguran, pangsa pengeluaran pangan dan makanan jadi, jumlah hotel, jumlah tamu hotel, dan volume impor produk perikanan.

     
6. Q : Apakah dalam memformulasikan penghitungan Angka Konsumsi Ikan menggunakan hasil kesepakatan para pakar “expert adjustment” yang berkompeten?
  A :

Benar, penghitungan Angka Konsumsi Ikan agar mendekati pada kondisi riil masyarakat maka formulasi penghitungan konsumsi ikan ditetapkan berdasarkan hasil kesepakatan para pakar yang berkompeten dari Bappenas, BPS, Badan Ketahanan Pangan, Kementerian Koordinator Perekonomian, Ditjen Perikanan Budidaya KKP, Ditjen Perikanan Tangkap KKP, IPB, dan Pusat Studi Ekonomi.

 

Admin KKP   02 Januari 2019   Dilihat : 12172



Artikel Terkait: