Indonesia   |   English  
Saran Dan Pengaduan

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
REPUBLIK INDONESIA
Kilas Berita  
Dongkrak Produksi Udang, KKP Lakukan Revitalisasi Tambak Tradisional di Aceh Tamiang

SIARAN PERS
KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
NOMOR: SP. 1240/SJ.5/XII/2021

 

JAKARTA (25/12) - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) menargetkan produksi udang nasional sebanyak 2 juta ton di tahun 2024. Guna mengejar target tersebut, KKP tengah gencar melakukan program-program unggulan untuk mendongkrak produksi udang. Salah satu program yang terus dijalankan adalah melakukan revitalisasi tambak tradisional di daerah-daerah potensial, seperti di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh. Hal itu diungkapkan oleh Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Tb Haeru Rahayu, saat melakukan peresmian klaster tambak udang vaname berkelanjutan yang ditandai dengan penebaran 2 juta ekor benur udang, termasuk penanaman bakau secara simbolis di lokasi percontohan klaster tambak udang vaname di Aceh Tamiang (22/12/2021).

 

Menurutnya, tahun 2021 ini KKP menggandeng Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang dalam merevitalisasi tambak udang tradisional. Kesepakatan dijalin melalui DJPB untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya perikanan budidaya yang berkelanjutan, khususnya lahan pertambakan udang yang dapat dilakukan revitalisasi menjadi klaster tambak udang yang berkelanjutan. “Pembangunan kawasan budidaya berkelanjutan akan dioptimalkan pada kawasan-kawasan yang memiliki potensi tinggi serta memiliki dukungan, baik dari masyarakat maupun pemerintah daerah. Karena dengan adanya dukungan tersebut diharapkan dapat mendorong sistem dan usaha perikanan budidaya yang berbasis komoditas unggulan,” jelas Tebe.

 

Pasalnya, masih menurut Tebe, KKP meyakini bahwa intensifikasi atau memutakhirkan penggunaan teknologi intensif dapat melesatkan produktivitas tambak udang yang ada di berbagai daerah. Dia mengungkapkan kepuasan atas pembangunan Klaster Tambak Udang Vaname Berkelanjutan yang dibangun di Aceh Tamiang. Mengingat dengan jumlah 11 petak, luas tambak produksi 2,6 hektare, padat tebar 80 ekor per m3 serta target produksi sekitar 27 ton per siklus, adalah capaian yang luar biasa. Untuk itu, klaster ini diharapkan mampu mendongkrak perekonomian masyarakat sekaligus dicontoh daerah lain. “Mudah-mudahan Klaster Tambak Udang Vaname Berkelanjutan ini berhasil, sehingga nanti kita akan kembangkan lebih luas dengan melibatkan pembudidaya lainnya,” tutur Tebe.

 

“Meski dengan anggaran yang terbatas, KKP tetap berusaha optimal membantu mengembangkan potensi perikanan lokal di Aceh dan di seluruh wilayah Indonesia,” sambung Tebe.

 

Capaian yang ada ini, lebih jauh Tebe menjelaskan, adalah buah dari kerja sama antara KKP dengan Pemkab Aceh Tamiang. Diharapkan hasil panen udang vaname mampu mendongkrak pendapatan pembudidaya udang setempat, menjadi pemantik multiplier effect bangkitnya ekonomi masyarakat sekitar. Pasalnya dilihat dari hasil kajian teknis, per panen para pembudidaya bisa mendapatkan sekitar lebih Rp10 juta, tiga kali upah minimum provinsi (UMP) Aceh. Kalau UMP di sini Rp3 juta, berarti tiga kali lipat keuntungannya. “Ke depan, harapan saya, Pemkab Aceh Tamiang terus memanfaatkan sumber anggaran lain untuk mendongkrak pendapatan para pelaku budidaya. Salah satu yang direkomendasikannya berupa Lembaga Pengelola Modal Usaha Kelautan dan Perikanan (LPMUKP). Sehingga subsektor perikanan budidaya menjadi penggerak ekonomi daerah bisa terwujud,” papar Tebe.

 

Sementara itu, Kepala Balai Perikanan Budidaya Air Payau Ujung Batee, M. Tahang menambahkan kalau Balai yang dipimpinnya siap melakukan pembinaan secara berkelanjutan kepada pembudidaya yang membutuhkan di seluruh Aceh, agar peningkatan produksi perikanan budidaya dapat terealisasi dengan baik, sehingga dapat berkontribusi pada peningkatan ekonomi dan pengentasan kemiskinan di wilayah pesisir Aceh.

 

Di mana, dia menguraikan, awalnya merupakan tambak tradisional dengan hasil panen 250 kg per hektare selama 2 siklus per tahun, namun sekarang mudah-mudahan dengan adanya Klaster Tambak Udang Vaname Berkelanjutan dapat meningkatkan produktivitasnya yakni sebesar 12-15 ton per hektare per siklus. Harapannya jika terus dikembangkan hasilnya akan lebih maksimal lagi. “Kami akan selalu hadir ditengah-tengah pembudidaya. Dan sebagai UPT yang diberi mandat untuk memproduksi udang, BPBAP Ujung Batee telah mendistribusikan dukungan benih dengan sasaran pembudidaya kecil dan juga untuk pengembangan Klaster Tambak Udang Vaname Berkelanjutan,” kata Tahang.

 

Sedangkan Bupati Aceh Tamiang, Mursil, memuji atas program yang dilakukan KKP. Menurutnya program ini sangat baik, dan dirinya optimis hasilnya akan maksimal. “Saya sangat mengapresiasi bantuan KKP dalam pengembangan klaster tambak udang ini. Dan saya merasa terharu yang luar biasa. Tidak ada kata lain selain bersyukur dan berterima kasih kepada KKP yang telah mengalokasikan anggaran klaster pengembangan udang vaname di Aceh Tamiang. KKP sangat luar biasa,” kata Pak Bupati memuji.

 

Dirinya pun sangat mengapresiasi KKP atas inovasinya di subsektor perikanan budidaya guna membangkitkan perekonomian di Kabupaten Aceh Tamiang khusus di Kecamatan Manyak Payed. Dan keberadaan klaster ini diyakini akan mengembalikan kejayaan udang di Aceh Tamiang yang pernah melambung di era 1980-an. “Kita pernah dikenal sebagai daerah penghasil udang kualitas tinggi, melalui program ini mudah-mudahan bisa kita kembalikan kejayaannya,” tandasnya.

 

Sebelumnya Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono menyampaikan sinergi antara pemerintah pusat dan daerah juga menjadi kunci utama kegiatan budidaya bisa berjalan dengan baik untuk mendukung pertumbuhan ekonomi daerah dan peningkatan pendapatan masyarakat pembudidaya.

 

Sebagai informasi, KKP memberikan dukungan berupa 1 paket klaster tambak udang vaname berkelanjutan di Manyak Payed, Aceh Tamiang ini senilai Rp. 5.868.658.000,-.

 

HUMAS DITJEN PERIKANAN BUDIDAYA

Noorma Luthfiana   25 Desember 2021   Dilihat : 403



Artikel Terkait: