Indonesia   |   English  
Saran Dan Pengaduan

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
REPUBLIK INDONESIA
Kilas Berita  
Genjot Budidaya, KKP Latih Pembuatan Pakan Hingga Budidaya Ikan Mas

SIARAN PERS
KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
NOMOR: SP. 1092/SJ.5/XI/2021

 

JAKARTA (9/11) - Perikanan budidaya menjadi salah satu subsektor unggulan yang dikembangkan demi menopang ketahanan pangan untuk mendukung pembangunan ekonomi nasional. Hal tersebut terus ditingkatkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui program terobosannya. Untuk itu, penyiapan Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi salah satu kunci utamanya, salah satunya melalui pelatihan di bidang perikanan budidaya.

 

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono telah menetapkan tiga program prioritas yang menjadi terobosan KKP. Dua diantaranya terkait perikanan budidaya, yaitu peningkatan produktivitas komoditas budidaya berorientasi ekspor dan pembangunan kampung-kampung budidaya berbasis kearifan lokal.

 

Untuk mendukung kedua program tersebut, KKP melalui Badan Riset dan SDM Kelautan dan Perikanan (BRSDM) melakukan peningkatan kapasitas SDM, salah satunya melalui pelatihan. Terbaru, BRSDM melalui Pusat Pelatihan dan Penyuluhan Kelautan dan Perikanan (Puslatluh KP) menggelar tiga pelatihan sekaligus di bidang perikanan budidaya. Ketiga pelatihan tersebut meliputi Pelatihan Pembuatan Pakan Ikan Mandiri di Kabupaten Tulang Bawang dan Kabupaten Sragen, serta Pelatihan Budidaya Ikan Mas Majalaya di Kabupaten Bandung.

 

Pelatihan Pembuatan Pakan Mandiri

Tingginya biaya pakan pabrikan menjadi momok bagi para pembudidaya, sehingga diperlukan sebuah inovasi pakan mandiri guna meningkatkan efisiensi produksi. Beranjak dari fenomena tersebut, Puslatluh KP menggelar Pelatihan Pembuatan Pakan Ikan Mandiri di Tulang Bawang, Lampung.

 

Difasilitasi oleh Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan (BPPP) Tegal, kegiatan ini dilaksanakan secara tatap muka dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Berlokasi di Balai Kampung Moris Jaya, pelatihan ini diikuti sebanyak 100 orang dari masyarakat perikanan Tulang Bawang pada 6-7 November 2021.

 

Plt. Kepala BRSDM Kusdiantoro menyampaikan, komponen pakan dalam kegiatan usaha budidaya merupakan masalah yang krusial. Ia menegaskan, KKP sangat fokus terhadap permasalahan pakan dan tentunya mengacu pada program terobosan Menteri Trenggono.

 

"Komitmen KKP dalam menekan biaya pakan pabrikan direalisasikan melalui program Gerakan Pakan Ikan Mandiri. Untuk itu, kami hadir hari ini memberikan layanan pelatihan kepada masyarakat agar mampu membuat pakan mandiri dengan memanfaatkan bahan baku yang ada di sekitar," ujarnya.

 

Dalam hal ini, para peserta diberikan materi berupa pemilihan bahan baku sesuai dengan ketersediaan di alam, penyusunan formulasi, fermentasi bahan baku, pencetakan paka, uji kualitas pakan, hingga pengemasan dan penyimpanan pakan.

 

Kepala Puslatluh KP Lilly Aprilya Pregiwati mengatakan, 60-70 persen biaya produksi budidaya didominasi oleh biaya pakan. Dalam kesempatan ini, pelatih akan memberikan pembelajaran secara komprehensif. Pembuatan pakan mandiri perlu memperhatikan uji kualitas pakannya sehingga jangan sampai pakan ikan yang dibuat ternyata tidak memberikan pertumbuhan pada ikan.

 

"Selain pakan mandiri, masyarakat juga perlu didorong untuk menggunakan pakan alami seperti maggot yang dapat dipakai sebagai pengganti tepung ikan yang selama ini masih bergantung pada impor. Selain itu, magot bisa meningkatkan daya tahan tubuh Ikan, mempercepat pertumbuhan, mempercepat kematangan gonad dan memperbaiki kualitas warna ikan karena mempunyai nutrisi yang tinggi proteinnya," tuturnya.

 

Pelatihan ini dihadiri oleh Anggota Komisi IV DPR RI Hanan A. Rozak. Ia optimis kegiatan pelatihan ini mampu memberi dampak pada peningkatan produksi budidaya air tawar di Lampung.

 

"Sudah sangat tepat kegiatan ini dialokasikan di Kabupaten Tulang Bawang, karena Provinsi Lampung terkenal dengan perairan air tawarnya. Sekarang budidaya tidak perlu di sungai atau di perairan umum, bisa di kolam atau sistem bioflok. Nah hal ini bisa mendapat nilai besar jika dipelihara dengan baik, tujuannya supaya ikan bisa tumbuh besar dan banyak proteinnya untuk dikonsumsi," ucapnya.

 

Hal senada disampaikan oleh Kepala Dinas Perikanan Tulang Bawang Eka Saputra. Ia menyampaikan jika ketersediaan bahan baku lokal di Tulang Bawang cukup melimpah untuk dimanfaatkan menjadi pakan ikan mandiri.

 

"Setidaknya di Kabupaten Tulang Bawang banyak tersedia bahan baku seperti limbah kepala udang, baung dan masih banyak lagi. Kami optimis masyarakat mampu membuat pakan ikan mandiri yang efektif dan efisien. Pada kesempatan ini, saya mengucapkan terima kasih atas terselenggaranya kegiatan pelatihan ini," tuturnya.

 

Tak hanya di Lampung, sebelumnya pelatihan serupa juga dilakukan di berbagai daerah lainnya baru-baru ini, seperti di Sragen, Jawa Tengah, yang diikuti 100 orang pembudidaya ikan pada 5-6 November 2021. Pelatihan di Sragen ini mendapat dukungan dari Anggota Komisi IV DPR RI, Luluk Nur Hamidah yang menginisiasi kegiatan ini. Ia optimis, setelah mengikuti pelatihan, para pelaku utama budidaya akan mampu membuat pakan ikan berkualitas yang mampu mendorong pertumbuhan ikan dengan cepat.

 

"Karena menyangkut soal pakan, mereka harus mengeluarkan biaya yang sangat besar hampir 60 hingga 70 persen dari biaya produksi itu, hanya untuk pakan. Oleh karena itu, kegiatan ini berlangsung bertujuan untuk memandirikan pembudidaya dalam membuat pakan ikan dengan memanfaatkan limbah yang ada disekitar sini," jelasnya.

 

Kegiatan ini disambut baik oleh Wakil Bupati Sragen Suroto. Ia berharap pelatihan ini dapat diimplementasikan dengan baik.

 

"Kami mengucapkan terima kasih atas kegiatan pelatihan ini. Saya mengharapkan nantinya kegiatan yang dilaksanakan selama dua hari, bisa dipraktikkan di lingkungan masing-masing. Jika ada kelompok lain yang tidak bisa mengikuti pelatihan ini, ilmunya bisa ditularkan," ucapnya.

 

Pada kesempatan ini, Lilly Aprilya Pregiwati bersama Luluk Nur Hamidah secara simbolis menyerahkan bantuan benih ikan nila dari Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPAT) Sukabumi, sebanyak 50 ribu ekor ikan nila kepada Kelompok Pembudidaya Ikan Temu Karya. Dalam kegiatan ini, turut dilaksanakan penebaran benih ikan nila di Keramba Jaring Apung Wadung Kedung Ombo, Sragen.

 

Pelatihan Budidaya Ikan Mas Majalaya

KKP terus mendorong keberlanjutan ikan endemik, salah satunya komoditas Ikan Mas Majalaya di Bandung, Jawa Barat. Ikan ini merupakan salah satu varietas budidaya unggulan bagi masyarakat setempat yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Di sisi lain, keberadaan ikan tersebut semakin menurun akibat keterbatasanya lahan sehingga perlu dibudidayakan secara efisien. Untuk itu, Puslatluh KP turut menggelar kegiatan Pelatihan Budidaya Ikan Mas Majalaya di Kabupaten Bandung, 3-4 November lalu.

 

Kegiatan ini diikuti sebanyak 100 peserta dari pelaku utama di wilayah Kabupaten Bandung. Pelatihan yang dilaksanakan secara tatap muka ini, berlokasi di UPTD Balai Benih Ikan Kecamatan Ciparay.

 

Ikan Mas Majalaya memiliki beberapa keunggulan dibanding komoditas ikan mas lainnya. Komoditas ini memiliki laju pertumbuhan yang lebih cepat dibandingkan dengan jenis ikan mas lain. Jika dikonsumsi, ikan ini memiliki cita rasa yang gurih dan renyah. Ikan mas Majalaya juga mampu bertahan pada infeksi dari bakteri Aeromonas hydrophila.

 

Pelatihan ini diinisiasi oleh Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Dedy Mulyadi yang turut hadir secara langsung di lokasi pelatihan. Ia mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk mengembangkan usaha perikanan budidaya warga Bandung.

 

"Ikan Mas Majalaya dulu pernah menjadi idolanya pembudidaya ikan di Indonesia khususnya di Jawa Barat. Kini saatnya kita dorong produktivitas ikan air tawar terutama bibit Ikan Mas Majalaya yang pernah menjadi favorit, sehingga nantinya hasil budidaya tercukupi dan pembudidaya dapat bersaing," ucapnya.

 

Pelatihan ini disambut baik oleh Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Bandung, Atep Dedi Kurnia. Ia berharap pelatihan ini menjadi titik balik bagi Kabupaten Bandung menjadi ladang produksi ikan mas Majalaya.

 

"Dulunya Kabupaten Bandung itu Segitiga Emas, namun pada tahun 2002 terjadi KHV atau Herpes sehingga budidaya mas Majalaya habis semua. Untuk itu, kami sangat antusias menerima program pelatihan dari KKP. Kegiatan ini juga baru pertama kalinya dilaksanakan setelah pandemi. Saya mengharapkan mudah-mudahan hasil dari pelatihan ini, dapat diaplikasikan di tempat masing-masing," tutupnya.

 

HUMAS BRSDM

Noorma Luthfiana   09 November 2021   Dilihat : 268



Artikel Terkait: