Indonesia   |   English  
Saran Dan Pengaduan

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
REPUBLIK INDONESIA
Kilas Berita  
KKP Gembleng UMKM Naik Kelas Lewat Program Inbis Invapro

SIARAN PERS
KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
Nomor: SP.579/SJ.5/VI/2021


BOGOR (10/6) - Aqiedah Wahyuni tersenyum lebar. Gurat kebahagiaan terpancar dari wajah perempuan asal Palangkaraya, Kalimantan Tengah setelah ditetapkan sebagai salah satu peserta program Inkubasi Bisnis Inovasi Produk Kelautan dan Perikanan (Inbis Invapro) 2021. Salah satu program pelayanan pengembangan usaha besutan Balai Besar Pengujian Penerapan Produk Kelautan dan Perikanan (BBP3KP), Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

"Ada perasaan bangga, haru serta amanah besar buat kami untuk menghasilkan produk yang bermutu dan aman dikonsumsi," kata Aqiedah saat mengikuti Bimbingan Teknis Pengembangan Usaha Tenant (Peserta) Inkubasi Bisnis BBP3KP, di Bogor, Kamis (10/6/2021).

Aqiedah menjadi salah satu UMKM yang menjawab tantangan KKP mendorong unit pengolahan ikan (UPI) untuk jeli membaca pasar dan melakukan inovasi-inovasi agar produk yang dihasilkan berkualitas sehingga laris di pasaran. Terlebih lagi Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono telah berpesan kepada pelaku usaha mikro kecil sektor kelautan dan perikanan untuk mempertahankan mutu produk dan terus berinovasi.

Datang dari Perkumpulan Pramesti Malima Energi Fokus Sejahtera, Aqiedah mengaku memiliki 12 anggota yang bergerak di bidang pengolahan hasil perikanan. Produk yang mereka hasilkan di antaranya aneka abon ikan, frozen food, kue kering dan camilan berbahan baku ikan. Kegiatan Inbis Invapro pun menebalkan kepercayaan dirinya untuk meningkatkan kualitas dan kapasitas produk yang dihasilkan. Di forum ini, dia akan mendapatkan materi hingga pendampingan penerapan teknologi dalam menghasilkan diversifikasi produk.

"Fokus utama lagi adalah kami ingin mendapatkan bimbingan dan pendampingan untuk mengembangkan diversifikasi produk dengan konsep zero waste dimana tidak ada bagian tubuh ikan yang terbuang," tegasnya.

Mendengar optimisme tersebut, Direktur Jenderal PDSPKP, Artati Widiarti percaya bahwa UMKM sektor kelautan dan perikanan bisa naik kelas. Karenanya, jajarannya merancang program Inbis Invapro yang dilaksanakan tiap tahun. Program ini, kata dia, adalah tempat konsultasi teknis dan manajemen usaha, coaching dan mentoring, pelatihan, magang dan proses penguatan dan pendampingan bagi tenant (peserta) sehingga mampu menjadi UMKM kelautan perikanan yang inovatif, mandiri dan berdaya saing.

Artati sangat mengapresiasi para peserta terpilih. Terlebih mereka telah melewati serangkaian tahapan seleksi yang cukup ketat sejak awal tahun. Menurutnya, dengan menjadi peserta Inbis Invapro KP, pelaku UMKM akan menerapkan inovasi-inovasi hasil perekayasaan BBP3KP dan mengembangkan diversifikasi produk sehingga dapat menyediakan beragam olahan hasil perikanan bagi konsumen.

"Selamat untuk yang terpilih, beberapa pertemuan ke depan, bapak/ibu para tenant (peserta) akan mengikuti program dan memperoleh pembinaan, pendampingan maupun fasilitasi dari Tim Inbis Invapro KP-BBP3KP," sambungnya.

Di tahap awal, para peserta terpilih akan dibekali bimbingan teknis yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kompetensi dalam mengelola usaha dan pemasarannya. Hal ini didasarkan pada tren pasar yang menunjukkan bahwa konsumen menghendaki produk perikanan yang bermutu, aman dikonsumsi dan harga kompetitif.

Karenanya, kelayakan dasar pengolahan (Good Manufacturing Practices/GMP) dan (Sanitation Standard Operating Procedure/SSOP) menjadi modal utama untuk menghasilkan produk yang memenuhi standar.

"Sedangkan penerapan manajemen usaha yang baik, dapat membantu pelaku usaha untuk mengelola keuangan yang efektif, sehingga menghasilkan produk dengan harga yang kompetitif. Semua peserta Inbis Invapro akan didampingi selama 2 tahun dan sesudah itu diharapkan mereka sudah bisa mandiri," jelas Artati.

Senada, Kepala BBP3KP, Widya Rusyanto menyebut 87 UMKM dari 42 Kabupaten/Kota di 16 Provinsi mendaftar di kegiatan Inbis Ivapro 2021. Dari jumlah tersebut, 66 UMKM dinyatakan memenuhi persyaratan administrasi dan mengikuti seleksi berikutnya.

Di tahap penyaringan wawancara, tim menilai komitmen, kompetensi, rencana bisnis dan pengembangan usaha calon peserta melalui kunjungan ke lokasi secara langsung maupun secara daring.

"Setelah melalui penyaringan dan penilaian, akhirnya 11 UMKM ditetapkan sebagai tenant (peserta) Inbis Invapro kali ini," papar Widya.

Ke-11 UMKM terpilih tersebut pun berasal dari berbagai daerah seperti Kota Pangkal Pinang, Kabupaten Bandung, Kota Bekasi, Kota Depok, Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Pati, Kabupaten Pasuruan, Kota Palangkaraya, Kota Bontang, Kota Mataram dan Kota Bitung. Sementara peserta potensial yang tidak terpilih tetapi memenuhi kriteria untuk mendapatkan pembinaan secara intensif, Widya memastikan tim penilai Inbis Invapro KP merekomendasikan mereka sebagai UMKM binaan.

"Yang tidak terpilih kita jadikan mereka UMKM binaan BBP3KP Jakarta dan 4 Satker BBP3KP di Cibinong, Palabuhanratu, Mataram dan Ambon," tutupnya.


HUMAS DITJEN PDSPKP

dondi   10 Juni 2021   Dilihat : 24510



Artikel Terkait: