Indonesia   |   English  
Saran Dan Pengaduan

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
REPUBLIK INDONESIA
Kilas Berita  
JADI GARDA DEPAN UTARA INDONESIA, SKPT NATUNA DIRESMIKAN

NATUNA (7/10) - Berhadapan langsung dengan Laut Natuna Utara, Kabupaten Natuna yang
terletak di Provinsi Kepulauan Riau memiliki posisi strategis sebagai pulau terdepan bagian
utara Indonesia. Menimbang hal tersebut, Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan
Perikanan (KKP) meresmikan Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT) Natuna pada
Senin (7/10).


Pembangunan SKPT Natuna sejalan dengan janji Nawa Cita ketiga Presiden Joko Widodo
(Jokowi) yakni “membangun Indonesia dari pinggiran dan memperkuat daerah-daerah dan
desa dalam kerangka kesatuan”. Hal ini diperkuat dengan arahan Presiden Jokowi dalam
Rapat Terbatas di atas KRI Imam Bonjol 383 pada 23 Juni 2016 lalu bahwa pembangunan
Natuna meski difokuskan pada dua sektor yakni industri perikanan dan migas.


“Kabupaten Natuna berbatasan langsung dengan sejumlah negara tetangga seperti Vietnam,
Kamboja, Singapura, dan Malaysia. Hal ini menjadikan Natuna sebagai garda terdepan untuk
menunjukkan identitas Indonesia di mata dunia. Sebagai wilayah pesisir, kelautan dan
perikanan menjadi sektor yang sangat penting untuk memajukan ekonomi masyarakat
setempat,” tutur Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti.


Dengan alokasi dana sebesar Rp221,7 miliar, SKPT Natuna dibangun selama periode 2015-
2019. Dibangun di atas lahan seluas 5,8 hektar, SKPT Natuna difokuskan pada pengembangan
Pelabuhan Perikanan Selat Lampa, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau. Area lahan seluas 3
hektar didapatkan melalui reklamasi, sedangkan 2,8 hektar lahan lainnya memanfaatkan area
daratan yang sudah ada.


SKPT Natuna memiliki beberapa fasilitas pokok untuk mengintegrasikan berbagai kegiatan
kelautan dan perikanan. Mulai dari pendaratan hasil kelautan dan perikanan, pengolahan,
hingga pemasaran. Fasilitas pokok ini antara lain dermaga berukuran 8x100 meter untuk
tempat bersandar kapal di bawah 30 gross ton (GT); dermaga berkuran 8x120 meter untuk
tempat bersandar kapal di atas 30 GT; causeway (jalan lintas ke dermaga); jalan kawasan;
sistem drainase; dan trotoar.


Selain itu, sebagai fasilitas fungsional dibangun Kantor Pengelola Pelabuhan; Tempat
Pemasaran Ikan (TPI); Integrated Cold Storage (ICS) berkapasitas 200 ton; Kios Bahan Bakar
Minyak (BBM) berkapasitas 12 KL; pengolahan air bersih Backrish Water Reserve Osomosis
(BRWO) berkapasitas 250 ton; Tempat Perbaikan Jaring; dan Kios Perbekalan Melaut.


Untuk mendukung kegiatan masyarakat di sekitar SKPT Natuna, dibangun pula 4 unit kios
perbekalan nelayan; 1 unit pos jaga; 2 unit toilet umum; 1 unit masjid; dan 6 unit rumah
pegawai. Selain itu, sarana akomodasi dan operasional berupa truk sampah, truk tangki air
bersih, truk mini crane, kendaraan roda dua, dan keandaraan roda empat juga disediakan.


Direktur Jenderal Perikanan Tangkap KKP Zulficar Mochtar menjelaskan, pembangunan SKPT
Natuna juga dimaksimalkan dengan adanya kapal perikanan bantuan untuk menunjang
kegiatan nelayan setempat. Sepanjang tahun 2016-2017, KKP telah menyerahkan 70 unit
kapal perikanan yang terdiri dari 50 unit kapal penangkap ikan berukuran 5 GT; 13 unit kapal
penangkap ikan berukuran 10 GT; 5 unit kapal penangkap ikan berukuran 20 GT; dan 2 unit
kapal angkutan ikan berukuran 37 GT. “Kapal-kapal ini diberikan kepada 11 koperasi nelayan
yang tersebar di Kabupaten Natuna. Tak lupa, disediakan pula pelayanan kesyahbandaran,”
ujarnya.


Sebagai wujud dukungan, berbagai Kementerian dan Badan Usaha Milk Negara (BUMN) turut
andil dalam pembangunan SKPT Natuna. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan
Rakyat (PUPR) melalui Direktorat Jenderal Bina Marga membangun jalan akses sepanjang 5
km ke Selat Lampa dari SP Sekunyam. Layanan komunikasi juga dioptimalkan melalui Badan
Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti) Kementerian Komunikasi dan Informasi
(Kominfo) berupa dukungan internet 4G yang telah digunakan sejak 31 Maret 2018, serta
parabola VSAT sebagai penerima sinyal dari satelit.


“Di sisi ketersediaan energi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM)
memberikan dukungan berupa pasokan BBM subsidi dan komersial bagi nelayan melalui PT
Pertamina dan memasang gardu induk di berkapasitas 5.000 kVA melalui PT PLN. Dari
kapasitas tersebut 865 kVA telah digunakan,” tambah Zulficar.


Dukungan juga datang dari perbankan, khususnya Bank Negara Indonesia (BNI). Di lokasi SKPT
Natuna telah hadir Mobil Layanan Gerak BNI. Selain itu, BNI juga menyediakan akses
perbankan mulai dari simpan pinjam hingga Kredit Usaha rakyat (KUR) bagi nelayan. “KKP dan
BNI juga bekerja sama dalam implementasi Kartu Kusuka (Kartu Pelaku Usaha Kelautan dan
Perikanan) untuk mempermudah nelayan dan pelaku usaha perikanan mendapatkan
pinjaman modal,” jelas Zulficar.


Sementara itu, BUMN Perikanan Perusahaan Umum Perikanan Indonesia (Perum Perindo)
juga memberikan dukungan operasional Integrated Cold Storage SKPT Natuna dengan
perjanjian kerja sama pemanfaatan sejak 1 Juni 2017 lalu. Perum Perindo juga mengadakan
kerja sama kemitraan pemasaran ikan hasil tangkapan dengan sekitar 216 nelayan Natuna,
memasarkan ikan Natuna ke pasar domestik dan luar negeri (Malaysia dan Singapura), serta
menyerap 34 tenaga kerja lokal asli Natuna.


“KKP berterima kasih untuk kerja sama dan dukungan seluruh Kementerian dan BUMN yang
terlibat dalam membangun SKPT Natuna. Semoga sinergi yang telah dicurahkan ini dapat
memberikan manfaat untuk masyarakat Natuna. Ayo kita terus bangun bangsa Indonesia
secara merata dari ujung timur hingga ke ujung barat, dari ujung utara hingga ke ujung
selatan,” pungkas Menteri Susi.


Hingga saat ini, tercatat sudah ada 197 kapal yang mendarat di PP Selat Lampa, dengan rincian
73 unit kapal di bawah 10 GT; 48 unit kapal berukuran 10-30 GT; dan 16 unit kapal berukuran
di atas 30 GT. Ikan hasil tangkapan nelayan yang dominan di SKPT Natuna yaitu cumi, gurita,
ikan karang, dan tongkol yang ditangkap menggunakan alat penangkapan ikan bubu ikan,
handline, dan bagan. Ikan-ikan tersebut banyak dijual ke Pontianak, Tanjung Pinang, Batam,
dan Jakarta.


Pada tahun 2018, volume produksi perikanan tangkap di SKPT Natuna mencapai 1.039.057
kilogram dengan penjualan Rp27.294.364.519,-. Sementara di 2019 (hingga September),
produksi perikanan tangkap telah mencapai 1.180.227 kilogram dengan nilai penjualan
Rp19.317.891.559,-.

 


Lilly Aprilya Pregiwati
Kepala Biro Humas dan Kerja Sama Luar Negeri

Admin KKP   07 Oktober 2019   Dilihat : 792



Artikel Terkait: