Indonesia   |   English  
Saran Dan Pengaduan

SKPT Talaud
KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
Kilas Berita  

Profil SKPT Kabupaten Kepulauan Talaud


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KONDISI UMUM

Kabupaten Kepulauan Talaud secara geografis terletak pada koordinat 3º 38’ 00” - 5º 33’ 00” Lintang Utara (LU) dan 126º 38’ 00” - 127º 10’ 00” Bujur Timur (BT). Kabupaten ini termasuk ke dalam wilayah perbatasan antar negara karena posisi geografisnya berada di antara Pulau Sulawesi (NKRI) dan Pulau Mindanao (Philipina). Berikut ini adalah batas-batas wilayah Kabupaten Kepulauan Talaud:

  • Sebelah Utara berbatasan dengan Republik Filipina.
  • Sebelah Timur berbatasan dengan Laut Pasifik.
  • Sebelah Selatan berbatasan dengan Laut Maluku.
  • Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Kepulauan Sangihe.

Iklim di wilayah Kabupaten Kepulauan Talaud secara global menurut klasifikasi iklim dari Schmidt dan Ferguson adalah bertipe iklim A (iklim basah), memiliki bulan basah sebanyak 8–9 bulan dengan jumlah curah hujan bulanan pada tahun 2010 mencapai 316 mm/bulan. Menurut data klimatologi yang dikeluarkan oleh Stasiun Meteorologi KL. III Naha Tahun 2009 – 2010 keadaan iklim di gugusan Kepulauan Talaud kejadian hujan lebih sering terjadi pada bulan Januari, Februari, November dan Desember yang bervariasi antara 22–25 hari hujan. Intensitas tertinggi terjadi pada bulan Desember dan Januari dengan diselingi intensitas sedang pada bulan Februari, Maret dan November. Intensitas terendah terjadi pada 4 bulan pertengahan tahun, yaitu bulan April, Mei, Juni dan Oktober. Bulan kering terjadi pada akhir bulan Agustus hingga pertengahan September.

Topografi Kabupaten Kepulauan Talaud sebagian besar terdiri dari wilayah pergunungan dan tanah berbukit-bukit yang dikelilingi oleh lautan. Ketinggian tanah terbagi atas: 0-100 mdpl, 100-500 mdpl dan lebih dari 500 mdpl, hampir 50% dari luas keseluruhan memiliki ketinggian berkisar antara 100-500 mdpl. Sedangkan kemiringan lerengnya berkisar antara 0-2%, 2-15%, 15-40% dan lebih besar dari 40%.

Kabupaten Kepulauan Talaud secara administratif termasuk ke dalam wilayah Provinsi Sulawesi Utara dengan Melonguane sebagai ibukota kabupaten yang berjarak 271 mil laut dengan ibukota ibukota Provinsi Sulawesi Utara (Manado). Kabupaten Kepulauan Talaud memiliki luas total wilayah sebesar 39.051,02 Km2 yang terdiri dari luas wilayah perairan laut sebesar 37.800 Km2 (96,79%) dan luas wilayah daratan sebesar 1.251,02 Km2 (3,21%).

Secara administratif Kabupaten Kepulauan Talaud memiliki 19 kecamatan, 11 kelurahan dan 142 desa. Kecamatan Beo Utara merupakan daerah terluas dengan luas wilayah daratan sebesar 144,85 Km2 (11,58% dari luas daratan Kabupaten Kepulauan Talaud), sedangkan Kecamatan Miangas merupakan kecamatan terkecil dengan luas wilayah daratan 2,39 Km2 (0,19% luas daratan Kabupaten Kepulauan Talaud). Wilayah administratif Kabupaten Kepulauan Talaud tersebar di 7 pulau dari 17 pulau yang ada.

 

SEJARAH PERKEMBANGAN BAHARI TALAUD

  • “Talaud” seringkali disebut dengan Bumi Porodisa (pelafalan lokal) atas penamaan oleh Portugis, atau talloda atau talauda sesuai hikayat “Alamona n’Tautama n’Taloda” (Manusia Pertama di Talaud). Atau udamakatrayadi/ udamakatraya (naskah Mpu Prapanca Nagarakrtagama (tahun 1364)).
  • Peradaban awal Talaud yang tercatat sebagai sebuah masyarakat terorganisir (1400an) di mana telah ada sebuah kerajaan yang memiliki karakter bahari.
  • Secara etnis, masyarakat Sangihe, Sitaro maupun Talaud berada pada rumpun etnik yang sama dan menghuni wilayah antara selatan Mindanao, sebelah utara semenanjung Sulawesi dan Maluku Utara.
  • Periode bahari (1970an) munculnya teknologi baru dalam hal penangkapan ikan dan perahu, mulai dikenalkan mesin motor katinting yang kemudian menggantikan perahu pelang.
  • Tahun 1990an hadir teknologi pambut (plank-boat) dari Filipina. Perahu bermotor yang lebih ringan dan liat menghadapi ombak dan mampu menjangkau lebih jauh untuk menangkap ikan. Tangkapan ikan yang didapat adalah malalugis (layang), tuna sirip kuning, layaran (marlin), cakalang, kerapu, kakap, bawal, kuwe, ekor kuning, madidihang, cucut, cumi-cumi dan sotong yang memiliki harga yang cukup tinggi di pasar lokal maupun regional.

 STRATIFIKASI SOSIAL NELAYAN TALAUD

  • Berdasarkan tipe teknologi, nelayan dapat dibagi menjadi tiga, yakni: nelayan tradisional, nelayan kecil dan nelayan besar.
  • Nelayan pelang masuk kategori tradisional, perahu tidak bermesin dan pilihan pasar subsistensi atau penjualan skala mikro di warung desa atau tetangganya.
  • Nelayan kecil (nelayan pambut) menggunaan mesin tempel dan teknologi bahan kapal yang lebih maju, pilihan pasar lokal baik konsumen langsung atau pedagang antara.
  • Nelayan besar menggunakan teknologi penangkapan yang berbasis mesin dan modal operasi yang kuat, penggunaan manajemen awak dan manajemen penangkapan serta berorientasi pasar yang mampu menampung hasil tangkap dalam skala besar.
  • Dalam struktur nelayan besar terdapat stratifikasi berdasarkan kepemilikan alat produksi. Stratifikasi ini kental dengan Model Patron-klien, seperti juragan – anak buah atau pemilik - Anak Buah Kapal (ABK),
  • Relasi patron-klien nelayan Pajeko yang menjadi awak kapal adalah pemilik nelayan pelang, nelayan tanpa perahu dan bahkan non-nelayan seperti pegawai negeri, karyawan lepas, pekerja serabutan maupun usia sekolah menengah yang tidak melanjutkan pendidikannya.

KESEJAHTERAAN MASYARAKAT PESISIR TALAUD

  • Secara umum pendapatan utama masyarakat di Talaud tidak hanya dari laut atau perikanan, namun perkebunan seperti pala, cengkeh dan kelapa.
  • IPM Talaud mengalami peningkatan, tercatat 64,37 (2011) namun (2017) mencapai 67,58 (Tabel)
  • Komposisi penduduk (2016) menunjukkan dominasi usia produktif (15-64 tahun) sebesar 66.74%, usia muda (0-14 tahun) sebesar 26,67% dan usia tua (64 ke atas) sebesar 6,59%.
  • Pelayanan kesehatan, sebanyak 14,38% penduduk menggunakan fasilitas rumah sakit, praktik dokter/bidan digunakan sampai 51,50% sedangkan Puskesmas digunakan sebesar 42,99%.
  • Komposisi Pengeluaran Penduduk per Bulan Tahun 2016 (Tabel)
  • Angka ketimpangan pendapatan antar penduduk (2016) sebesar 0,37 masih dalam skala “sedang” yang berarti ketimpangan antar penduduk dalam hal pendapatan tidak terlalu tajam.
  • Kondisi umum pemukiman 98-99% permanen baik pada lantai, dinding maupun atap, sisanya masih menggunakan atap dedaunan dan lantai tanah.
  • Status rumah tinggal, 93% rumah tangga menempati rumah sendiri, sisanya adalah bebas sewa (karena menempati rumah kerabat), 2% sewa/kontrak dan sisanya adalah rumah dinas.
  • Sanitasi dan kesehatan lingkungan dalam kondisi yang relatif baik dengan indikator keberadaan listrik, air bersih, serta jamban. Air bersih dapat diakses sampai 98% penduduk, kepemilikan jamban sendiri 71,62% dan 99% rumah tangga sudah menikmati listrik meskipun tidak berjalan seratus persen.
  • Angka kemiskinannya (BPS, 2016) mencapai 10,29%, naik dari 10,09% (2015) dan 9,97% (2014).
  • Akses kredit dan perbankan masih relatif rendah yakni 17,14% (Tabel).
  • Angka kriminalitas rendah, pada tahun 2016 sebesar 1% korban kriminalitas