Indonesia   |   English  
Saran Dan Pengaduan

SKPT Talaud
KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
Kilas Berita  
Surga Terpendam di Perairan Talaud

Kepulauan Talaud merupakan gugusan pulau terluar di Utara Indonesia yang berbatasan dengan Filipina. Ibukota kabupatennya berada di Melonguane. 

Kepulauan Talaud terdiri dari 20 pulau yaitu pulau Karakelang (terbesar), Mangaran, Salibabu, Miangas, Marampit, Karatung, Kakorotan dan pulau – pulau tidak berpenghuni lainnya. Luas wilayah secara keseluruhan adalah 27.061,16 km2 yang terdiri dari dari daratan seluas 1.288,94 km2 dan lautan seluas 25.772,22 km2.

Talaud atau taloda disebut juga dengan nama “Porodisa” atau Paradise yang berarti surga. Kata Porodisa ini berawal ketika bangsa Portugis datang pertama kali ke talaud mereka berkata “Paradise” karena dilihatnya talaud bagaikan surga, namun penduduk lokal waktu itu mengucapkannya “porodisa” karena tidak dapat mendengar dan melafalkannya dengan baik dan juga tidak mengerti artinya.

Sebagai wilayah yang mengalami pemekaran, sampai saat ini pemanfaatan sumberdaya kelautan Talaud masih rendah serta hanya dikuasai oleh SDM dari luar.  Disamping kawasan laut yang cukup luas sering menjadi rawan keamanan penjarahan dan perusakan sumberdaya tersebut.  Sehingga sering ditemukan kasus pencurian ikan dan perusakan ekosistem laut seperti terumbu karang dan hutan bakau.

Kepulauan Talaud memiliki spot-spot selam yang indah diantaranya spot selam kapal tenggelam. Spot selam kapal tenggelam ini berada di Desa Mala, Kecamatan Melonguane. Lokasi ini tampak berupa benda berbahan besi yang ketika air surut muncul dipermukaan air kurang lebih setengah meter yang diperkirakan sebagai bagian ujung depan dari haluan sebuah kapal. Kapal tersebut memiliki panjang ± 160 meter dan lebar 18 meter. Tinggi kapal belum diketahui mengingat sebagian badan kapal tertanam di dalam pasir berlumpur, namun bagian dinding yang terlihat berukuran kurang lebih 10 meter. 

Diperkirakan kapal tersebut adalah kapal kargo yang karam selama Perang Dunia ke-2.

Kepulauan Talaud pada masa PD II menjadi markas Tentara Jepang. Selama 2 Agustus – 6 September 1944, Amerika melalui FEAF – Pasukan Pengebom B-24 melakukan serangan kapal-kapal dan markas yang berada di pesisir sepanjang Biak, Morotai, Talaud dan Tahuna. Dimungkinkan kapal kargo yang telah dikuasai Jepang tersebut tenggelam di Perairan Desa Mala, Talaud saat bersandar. Bahkan menurut penuturan penduduk lokal (saksi sejarah yang masih hidup), banyak tentara jepang yang lari ke dalam hutan setelah adanya serangan. 

Selama rentang waktu tenggelamnya kapal kargo tersebut hingga sekarang telah menjadikan struktur kapal berubah menjadi ekosistem biota laut dengan berlimpahnya berbagai jenis ikan dan terumbu karang. Lokasi tenggelamnya kapal tidak jauh dari pantai. Jenis wisata yang dapat dilakukan antara lain snorkeling dan diving.

Admin Talaud   23 Februari 2021   Dilihat : 1715



Artikel Terkait: