Indonesia   |   English  
Saran Dan Pengaduan

SKPT Talaud
KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
Kilas Berita  
Sejarah Keharuman Rempah di Bumi Porodisa Talaud

Kontributor: Prita Dwi Wahyuni

Berbicara tentang bumi porodisa tidak lepas dari sejarah perdagangan yang melibatkan jalur rempah hingga tenggelamnya kapal di perairan Kabupaten Kepulauan Talaud. Sebagai pulau yang kaya akan rempah-rempah seperti pala dan cengkeh, Kepulauan Talaud juga pernah menjadi “rebutan” bangsa asing sejak berabad-abad lampau. Sekitar abad ke XIV masehi, bangsa Portugis datang pertama kali ke Kepulauan Talaud. Saat mereka menginjakkan kaki pertama kali di pesisir Talaud, mereka terpana dengan keindahan alam lautnya dan sempat mengira tanah yang mereka pijak adalah kepingan surga yang terlempar ke bumi. Mereka menjuluki pulau yang mereka temukan itu dengan kata paradise. Namun karena susah pelafalannya, penduduk setempat mengucapkannya dengan nama porodisa.

Bumi porodisa ini kemudian lebih terkenal dengan nama Talaud (Taloda). Taloda berasal dari kata Talo dan Oda. Talo adalah nama orang yang berasal dari Talaud, sedangkan Oda adalah istrinya dari Pulau Mindanau (Filipina). Sehingga Taloda menjadi nama dari keturunan mereka berdua. Kabupaten Kepulauan Talaud ini sendiri teryata juga merupakan bagian dari Kerajaan Majapahit di masa lampau dengan nama Udamakatraya. Hal ini juga tertulis dalam kitab Negarakertagama, kitab kuno yang dinobatkan oleh UNESCO sebagai salah satu warisan dunia. 

Jauh sebelum itu, jika kita belajar sejarah rempah, kita akan mengetahui bahwa cengkeh telah digunakan sebagai salah satu bahan untuk mengawetkan mumi di Mesir Kuno. Sementara pala sudah dikenal oleh masyarakat Yunani dan Romawi sejak tahun 24 SM. Rempah yang dalam hal ini cengkeh dan pala dari tanah Timur Nusantara, tidak saja memiliki kisah yang panjang dan dramatis. Namun juga berperan signifikan dalam membentuk sejarah peradaban maritim dunia, yang hingga kini dikenal sebagai Jalur Rempah. Dari beberapa jalur perdagangan kuno di dunia, dapat dikatakan bahwa jalur rempah merupakan jalur perdagangan penting dibandingkan dengan sejarah jalur sutra yang berhulu di China.

Rempah-rempah saat itu sangat berharga untuk pengawet makanan dan memberi nikmat rasa membangkitkan selera para raja dan bangsawan. Selain itu rempah juga bermanfaat sebagai obat obatan hingga ramuan wewangian. Konon rempah-rempah menimbulkan semangat bangsa Eropa untuk berpikir maju dan memicu penemuan ilmu pengetahuan dan teknologi hingga menimbulkan revolusi industri. Seiring dengan perkembangannya, bangsa Eropa terpacu untuk melakukan petualangan menemukan rempah-rempah dengan mengirimkan ekspedisi ke Timur hingga Kepulauan Nusantara.

Rempah-rempah yang menjadi komoditi unggulan dan andalan perdagangan waktu itu dengan cepat mengubah peta dunia. Barat kemudian berorientasi ke Timur, di mana keharuman aroma rempah-rempah membuat gairah baru mengembangkan arena ekspedisi penjelajahan yang mengubah arah politik dan ekonomi dunia. Kerajaan-kerajaan Inggris, Portugis, Spanyol dan Belanda bersaing melakukan ekspansi dengan berlomba mengirimkan ekspedisi langsung menembus ke Asia Timur, Selatan dan Tenggara hingga ke Kepulauan Nusantara.

Keharuman rempah nusantara yang menjadi incaran berbagai bangsa di dunia dan melahirkan Jalur Rempah

Pada era Marco Polo tahun 1254-1323, seorang misionaris Eropa bernama D. Brilman dalam bukunya Onze zendingsvelden de zending op de Sangi en Talaud (Wilayah-Wilayah Zending Kita, Zending di Kepulauan Sangi dan Talaud), menyebutkan bahwa Venesia dan Genoa telah menjadi gerbang penting bagi rempah-rempah yang berasal dari Timur Nusantara, terutama pala, cengkih, dan lada untuk pasar Eropa. Selain itu, D. Brilman yang pernah bertugas di Sangihe Talaud sejak tahun 1927 juga menyebutkan bahwa pada bulan September 1509 beberapa kapal Portugis di bawah komando Diego Lopez de Sequaria telah berangkat ke Asia Timur, di mana mereka tiba di Makal yang disebut juga Hindia Timur/Hindia Belanda.

Sejumlah sumber dari China juga menyebutkan bahwa sebelum abad ke-14, China telah mengenal asal cengkeh dari Maluku, dan kemudian kepulauan Sangihe Talaud. Tetapi hanya ada satu catatan sejarah yang menuliskan bahwa pada tahun 1350, Jung China berlayar langsung dari China ke daerah tersebut. Para pedagang dari Melayu, Arab, Persia, dan China juga membeli rempah dari Nusantara, kemudian dibawa dengan kapal ke Teluk Persia dan didistribusikan ke seluruh Eropa melalui Konstantinopel (Istambul) di wilayah Turki dengan harga mencapai 600 kali lipat.

Awalnya, bangsa Portugis yang tiba di Ternate tidak menganggap wilayah ini sebagai suatu wilayah jajahan baru karena mereka hanya berdagang rempah. Hal ini berubah saat tetangga mereka dari Eropa, yaitu bangsa Spanyol, juga ingin menjadi tetangga mereka di Hindia Belanda. Pada bulan November 1512 bangsa Spanyol mendarat di Tidore, pulau yang bermusuhan dengan Ternate. Di bawah pimpinan Fernando de Magelhaen atau biasa kita sebut Magellaan, bangsa Sanyol telah menemukan jalan laut yang baru ke pulau-pulau rempah-rempah di Hindia Timur melalui selat Magellaan, kepulauan Philipina, dan kepulauan Sangihe Talaud. Sejak saat itu penguasaan kekayaan alam berkedok perdagangan rempah oleh bangsa Portugis dan Spanyol dimulai.

Sejarah perdagangan rempah memang tidak selamanya mulus dan saling menguntungkan, tetapi juga dihiasi dengan penguasaan, pemaksaan dan peperangan hingga penaklukan. Armada-armada perdagangan kadang berisi pasukan perang yang siap mengamankan jalur perjalanan kapal selama di perjalanan. Perang di antara armada maupun perompakan bajak laut lokal sering terjadi, sehingga barang dagangan rempah-rempah menjadi langka dan sangat prestisius di kalangan bangsawan Eropa. Disisi lain, perdagangan rempah di Nusantara juga secara masif meninggalkan jejak peradaban yang signifikan berupa peninggalan situs sejarah, situs budaya, hingga melahirkan beragam produk budaya yang terinspirasi dari kekayaan alam nusantara.

Sajak zaman dahulu, wilayah Indonesia Timur termasuk daratan Sulawesi Utara dan kepulauan Sangihe, Sitaro dan Talaud merupakan wilayah yang strategis di kawasan Pasifik, karena merupakan jembatan penghubung antara kawasan Asia dengan Kepulauan Pasifik (Bellwood, 1996; Veth 1996). Kekayaan alam dan posisi Hindia Belanda yang sangat strategis sebagai pintu gerbang Asia membuat banyak sekali bangsa-bangsa Eropa dan Asia yang memperebutkan tanah nusantara, dan dimulailah penjajahan tidak hanya oleh Portugis dan Spanyol tapi juga Belanda dan Jepang selama ratusan tahun.

Keberhasilan Portugis dan Spanyol di jalur rempah ini menimbulkan kecemburuan negara-negara Eropa lainnya seperti Belanda dan Inggris. Pada akhir abad ke-16, Inggris dan Belanda mulai menentang monopoli Portugis terhadap perdagangan di Asia. Inggris yang tergabung dalam koloni Britania nya bekerjasama membentuk kongsi dagang gabungan antara East India Company (EIC) milik Inggris dengan Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) milik Belanda pada tahun 1602. Tujuan utama dari kongsi-kongsi dagang tersebut adalah untuk menguasai pasar perdagangan rempah-rempah yang menguntungkan, terutama di kawasan Kepulauan Hindia Timur serta wilayah sentral jaringan perdagangan di Asia yaitu India.

Pada akhirnya, Inggris dan Belanda justru saling bersaing memperebutkan supremasi perdagangan di Asia dari tangan Portugis. Meskipun Inggris pada akhirnya bisa mengimbangi posisi Belanda sebagai kekuatan kolonial, namun dalam waktu singkat sistem keuangan Belanda melesat lebih maju dibandingkan dengan Inggris. Serangkaian peperangan antara Belanda dengan Inggris pada abad ke-17 turut memperpanas persaingan mereka di Asia. Permusuhan antara kedua negara ini baru berhenti setelah meletusnya Revolusi Agung pada tahun 1688, yaitu saat William III dari Oranye naik tahta menjadi raja Inggris dan mengesahkan kesepakatan damai antara Inggris dan Belanda. Kesepakatan itu menyatakan bahwa Belanda berhak menguasai perdagangan rempah-rempah di Hindia Timur (Hindia Belanda), sedangkan Inggris mendapatkan industri tekstil di India. Dari sinilah dimulainya penjajahan Belanda atas Indonesia yang berkedok perdagangan selama 350 tahun.

Pada bulan Desember 1941, Jepang dengan cita-cita Asia Timur Rayanya secara berurutan melancarkan serangan terhadap koloni Britania di Malaya, Hong Kong dan pangkalan laut Amerika Serikat di Pearl Harbor. Amerika Serikat pun kemudian turut serta dalam peperangan. Puncak dari peperangan ini adalah terjadinya Perang Dunia II. Jatuhnya Singapura saat itu ke tangan Jepang pada tahun 1942 adalah kekalahan yang paling memalukan bagi Britania karena Singapura dianggap sebagai benteng pertahanan Britania yang tak tertembus dan setara dengan Gibraltar di Laut Tengah. Dalam waktu yang relatif singkat Jepang juga mampu mengalahkan pasukan sekutu (Britania Raya, Belanda, Amerika, Australia) dan berhasil menguasai Hindia Belanda. Dan dimulailah penjajahan Jepang atas Indonesia selama 3,5 tahun.

Peperangan demi peperangan yang terjadi membawa dampak yang luar biasa tidak hanya korban jiwa, jatuhnya pesawat tapi juga tenggelamnya kapal-kapal perang maupun logistik di perairan nusantara. Berdasarkan estimasi yang dikeluarkan oleh Badan Riset Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (2000), ada sekitar 463 titik lokasi kapal tenggelam di perairan Indonesia yang tersebar sebagian besar di seluruh perairan nusantara. Salah satunya adalah kapal yang tenggelam di perairan Pantai Mala, Desa Mala, Kecamatan Melonguane, Kabupaten Kepulauan Talaud.

Sebaran kapal tenggelam tersebut umumnya tidak hanya kapal armada perang tapi juga kapal-kapal yang membawa komoditi dan barang dari China, Asia Barat dan Eropa seperti Belanda (VOC), Inggris dan Spanyol. Sayangnya untuk kapal tenggelam di Pantai Mala ini hanya diketahui berasal dari kapal Perang Dunia II tapi tidak diketahui dari negara mana kapal berasal, karena sampai saat ini belum ada penelitian lebih mendalam dari kapal ini.

Selengkapnya informasi kapal tenggelam di perairan Pantai Mala, Desa Mala, Kecamatan Melonguane, Kabupaten Kepulauan Talaud dapat dilihat di https://kkp.go.id/SKPT/Talaud/artikel/17006-kapal-tenggelam-di-kedalaman-talaud dan https://kkp.go.id/djprl/jaskel/artikel/16966-keindahan-bangkai-kapal-tenggelam-di-kedalaman-talaud.

 

Admin Talaud   02 Februari 2021   Dilihat : 2742



Artikel Terkait: