Indonesia   |   English  
Saran Dan Pengaduan

SKPT Natuna
KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
Kilas Berita  
Tentang Gurita, Kakap Merah dan Reborn Fish Natuna

Kehadiran Sentra Kelautan Perikanan Terpadu (SKPT) telah memberi angin segar bagi perkembangan sektor perikanan di Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau (Kepri). Ini terbukti dari peningkatan dan optimalisasi ekspor produk perikanan hasil laut di Natuna.

SKPT yang didirikan pemerintah di bawah naungan BUMN Perusahaan Umum (Perum) Perikanan Indonesia (Perindo), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) itu, juga mendorong hadirnya produk-produk perikanan yang awalnya tidak memiliki nilai ekonomis di masyarakat, kini menjadi jauh lebih bernilai.

Bupati Kabupaten Natuna Abdul Hamid Rizal mengatakan, hadirnya SKPT di Natuna telah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Hal itu juga memberi dorongan secara signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Kabupaten Natuna dua tahun belakangan.

Alhasil, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Natuna, kata Hamid terus mendorong peningkatan sektor perikanan ini supaya penerbitan izin ekspor langsung dari Natuna segera keluar. Sebab saat ini, proses ekspor masih dilakukan melalui Batam dan Jakarta. Jika nantinya proses itu bisa langsung dilakukan di Natuna, tentu akan memberikan kemudahan dan manfaat yang lebih lagi.

“Kita sedang urus exit entri point ke Kementerian Perdagangan biar bisa ekspor langsung dari Natuna. Pertumbuhan Ekonomi kita terbilang tinggi, mencapai 5,8 persen dari sebelumnya hanya sekitar 3,5 persen. Ini enggak lepas dari peningkatan sektor perikanan. Ini akan positif untuk nelayan,” Kata Hamid, Jumat (23/8) di Batam.

Asisten Menejer Perindo Unit Natuna, Roberto menuturkan, selama sekitar empat tahun SKPT Natuna beroperasi, telah berhasil melakukan ekspor produk perikanan dari Natuna ke beberapa negara di Eropa dan Jepang. Salah satu komoditas ekspor yang menurut Roberto menjadi nilai tambah untuk nelayan di Natuna adalah ekspor Gurita. Karena harga hewan laut tak bertulangbelakang ini jauh lebih tinggi ketika diekspor.

“Dulu harga Gurita cuma Rp15 ribu, sekarang sudah naik menjadi Rp60 ribu perkilogram di tingkat nelayan, karena sekarang komoditi itu kita ekspor ke Jepang,” katanya.

Pada prosesnya, kata Roberto, SKPT Natuna ini mulai menampakan perkembangannya di tahun kedua beroperasi, saat itu ada trend peningkatan cukup signifikan dari hasil tangkapan nelayan.

Hingga saat ini sektor perikanan di Natuna berkembang cukup baik, meskipun pasokan ikan dari nelayan terkadang masih belum bisa memenuhi kebutuhan ekspor Perindo.

Lebih jauh Roberto menjelaskan, dua komoditas utama di Natuna untuk ekspor adalah jenis ikan Kakap Merah dan Gurita. Sementara komoditas lain seperti ikan Tuna dan beberapa jenis ikan lain lebih diutamakan untuk konsumsi lokal.

Hingga semester I 2019, ekspor ikan Kakap Merah asal Natuna ke berbagai negara termasuk ke Singapura, berada di angka 100 ton. Jumlah itu diakui Roberto baru sekitar 65 persen dari target. Sementara untuk ekspor Gurita sendiri, Perindo menargetkan sebanyak 250 ton untuk tahun 2019 ini. Target ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi ekspor Gurita di tahun 2018, yang hanya mencapai 140 ton.

“Untuk ekspor Gurita semester I ini belum ada, karena memang masa penangkapannya itu berada di akhir tahun,” kata Roberto.

Terkait dengan pencapaian target, Roberto mengaku, tidak bisa memberikan kepastian, karena memang bisnis perikanan ini sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca di laut, terlebih armada yang dimiliki nelayan Natuna dinilai masih harus ditingkatkan lagi.

Tidak itu saja, Perindo juga melihat manajemen keuangan nelayan di Natuna juga masih harus menjadi perhatian, karena hal itu berpengaruh langsung pada produktivitas nelayan itu sendiri.

“Kondisi sarana nelayan kita kurang tangguh karena faktor armada yang juga masih kurang memadai. Sebagai contoh, apabila musim gelombang tinggi nelayan kita udah balik kanan bahkan tidak melaut, kalah dengan nelayan Vietnam yang memeiliki armada memadai dan terbarukan,” ujar Roberto.

Meski demikian, Roberto meyakini kondisi itu perlahan bisa teratasi dengan banyaknya bantuan yang diberikan oleh Kementrian KKP. Perindo juga terus menghadirkan transfer pengetahun kepada nelayan di Natuna agar bisa lebih produktif menghasilkan tangkapan produk ikan yang lebih beragam lagi. Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah menghadirkan nelayan asal daerah lain untuk berbagi ilmu dengan nelayan di Natuna.

Yang terbaru, Perindo menghadirkan nelayan asal Pangandaran, Jawa Barat ke Natuna untuk sharing pengalaman menangkap Reborn Fish, jenis ikan yang banyak terdapat di Natuna yang sampai saat ini masih belum dioptimalkan.

“Reborn Fish itu di Natuna banyak, tapi bukan jadi target tangkapan karena nelayan di Natuna belum tahu cara menangkapnya, makanya kita datangkan nelayan dari Pangandaran dalam 'forum diskusi' untuk memberikan arahan menangkap ikan itu. Di China, ikan ini jadi hadiah untuk Imlek, artinya bisa untuk ekspor dan harganya juga mahal,” katanya.

 

Dikutip dari Gatra.com (22/8)

Admin Natuna   26 Agustus 2019   Dilihat : 4913



Artikel Terkait: