Siaran Pers

KEANEKARAGAMAN HAYATI LAUT INDONESIA TERBESAR DI DUNIA
28/08/2013 - Kategori : Siaran Pers

Siaran Pers
No.112/PDSI/HM.310/VIII/2013     
 
KEANEKARAGAMAN HAYATI LAUT INDONESIA
TERBESAR DI DUNIA
 
Dasar laut Indonesia sangat kompleks dan tidak ada negara lain yang mempunyai topografi dasar laut begitu beragam seperti Indonesia.   Hampir segala bentuk topografi dasar laut dapat dijumpai, seperti paparan dangkal, terumbu karang, lereng curam maupun landai, gunung api bawah laut, palung laut dalam, basin atau pasu yang terkurung dan lain sebagainya.  Karakteristik ini menjadikan Lautan Indonesia merupakan wilayah Marine Mega-Biodiversity terbesar di dunia, memiliki 8.500 species ikan, 555 species rumput laut dan 950 species biota terumbu karang. Demikian disampaikan Menteri Kelautan dan Perikanan, Sharif C. Sutardjo pada Seminar Nasional Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan dalam Mewujudkan Pembangunan yang Berkelanjutan, di Universitas Diponegoro Semarang Jawa Tengah, Selasa (27/08).
 
Sharif menegaskan, laut Indonesia pada dasarnya menyimpan berbagai sumberdaya alam yang dapat dijadikan modal pembangunan nasional. Karena itu, berbagai kegiatan ekonomi yang berbasis kelautan dapat dikembangkan, dalam rangka membangun masyarakat Indonesia yang sejahtera. Kondisi ini merupakan anugrah yang sangat besar bagi pembangunan sektor Kelautan dan Perikanan. Indonesia merupakan negara maritime dengan luas lautan mencapai 5,8 juta km2 yang terdiri dari perairan teritorial, perairan laut 12 mil dan perairan ZEE Indonesia.  Indonesia juga memiliki 17.504 buah pulau dengan  panjang garis pantai 104.000 km. “Karakteristik arus laut di Indonesia juga khas. Dari Samudera Pasifik melewati kepulauan Nusantara menuju Samudera Hindia merupakan indikator muncul dan lenyapnya El-nino dan La-nina.Indikator ini mempengaruhi perubahan iklim global, dan berdampak pada kemarau panjang, banjir, gagal panen, kebakaran hutan serta naik turunnya produksi perikanan,” jelasnya.
 
Sharif menjelaskan, dalam 5 tahun terakhir telah terjadi perubahan cukup signifikan terhadap potensi laut dunia. Bahkan Laporan Food Agricultural Organization (FAO) tahun 2012 menunjukkan produksi ikan dunia dari kegiatan penangkapan di laut maupun diperairan umum cenderung stagnan dalam 5 (lima) tahun terakhir, yaitu dari 90,0 juta ton pada tahun 2006 menjadi 93,5 juta ton pada tahun 2011.  Indonesia, juga mengalami hal serupa. Dimana, potensi lestari sumberdaya perikanan tangkap laut Indonesia adalah sekitar 6,5 juta ton/tahun dengan tingkat pemanfaatan mencapai 5,71 juta ton pada tahun 2011 (77,38%). “Dengan pemanfaatan sumber daya perikanan laut tersebut, harus diakui bahwa di beberapa Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) tertentu seperti Laut Jawa, telah terjadi lebih tangkap atau over fishing.  Sementara di perairan lainnya seperti Laut Cina Selatan, Arafura dan lain sebagainya, potensi ikannya belum dimanfaatkan secara optimal,” paparnya.
 
 
Potensi Perikanan
Dijelaskan, disisi lain dalam beberapa tahun terakhir, produksi perikanan budidaya mengalami peningkatan lebih tinggi dibandingkan produksi perikanan tangkap, Produksi perikanan budidaya mengalami peningkatan cukup pesat, yaitu dari 47,3 juta ton menjadi 62,7 juta ton. Potensi perikanan budidaya ini akan semakin besar, apabila memasukan potensi budidaya air tawar seperti kolam (541.100 ha), budidaya diperairan umum (158.125 ha) dan mina-padi (1,54 juta ha). Disamping itu, potensi perikanan budidaya payau (tambak) mencapai 2,96 juta hektar dan baru dimanfaatkan seluas 682.857 hektar (23,04%) serta potensi budidaya laut yang mencapai luasan 12,55 juta hektar dengan tingkat pemanfaatan yang relatif masih rendah, yaitu sekitar 117.649 hektar atau 0,94 persen. “Produksi perikanan memang tumbuh sangat positif. Tercatat, ekspor hasil perikanan telah mengarah pada produksi bernilai tambah, dengan pertumbuhan pada periode 2011 – 2012 sebesar 11,62 persen. Sedangkan nilai impor periode yang sama mengalami penurunan sebesar 15,43 persen.  Dengan demikian, neraca perdagangan perikanan pada tahun 2012 mengalami surplus sebesar US$ 3,52 milyar,” jelasnya.
 
 
Blue Economy
Menurut Sharif, pembangunan kelautan dan perikanan selama ini telah membawa hasil menggembirakan.Namun dengan perubahan tatanan global yang berkembang dinamis, menuntut adanya percepatan pembangunan kelautan dan perikanan. Guna mendorong percepatan pembangunan sektor Kelautan dan Perikanan, dan menjamin pembangunan sektor kelautan dan perikanan berlangsung secara berkelanjutan, diperlukan pendekatan Blue Economy dalam pembangunan menjadi sangat penting dan strategis. Blue Economy merupakan  model ekonomi baru untuk mendorong pelaksanaan pembangunan berkelanjutan dengan kerangka pikir seperti cara kerja ekosistem.  “Paradigma Ekonomi Biru telah mengajak kita belajar dari alam, sehinggapada akhirnya akan menjamin bahwa suatu pembangunan yang dijalankan tidak hanya akan menghasilkan pertumbuhan ekonomi, akan tetapi juga menciptakan lebih banyak lapangan kerja sekaligus menjamin terjadinya keberlanjutan,” jelasnya.
 
Sharif menjelaskan, penerapan konsep Ekonomi Biru akan terus dikaji dan disempurnakan. Diantaranya, tanggal 26 November 2012 dilaksanakan workshop dengan thema “Blue Economy, Menuju Pembangunan Kelautan dan Perikanan Berkelanjutan” yang dihadiri oleh para cendekiawan, praktisi bisnis, wakil dari unsur pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat, termasuk  Gunter Pauli,  seorang entrepreneur dan cendekiawan penulis buku The Blue Economy: 10 Years, 100 Innovations, 100 Million Jobs,  Lain itu, pendekatan Ekonomi Biru dikembangkan untuk mendorong peningkatan peran swasta dalam pembangunan ekonomi pro lingkungan melalui pengembangan bisnis dan investasi inovatif dan kreatif. “Dalam kaitan ini, kebijakan pembangunan sektor Kelautan dan Perikanan akan diarahkan untuk mendorong pelaku bisnis dan investor dapat mengembangkan usahanya dengan prinsip-prinsip efisiensi pemanfaatan sumberdaya alam dengan menghasilkan lebih banyak produk turunan dan produk lain terkait, sehingga menghasilkan revenue lebih besar,”ujarnya.
 
Menurut Sharif, konsep Ekonomi Biru memang bukan identik dengan ekonomi kelautan atau ocean-based economy, namun prinsip-prinsip dasarnya dapat diterapkan di sektor kelautan dan perikanan. Terutama untuk mendorong pemanfaatan sumberdaya alam secara efisien dan tidak merusak lingkungan, namun mampu meningkatkan kesejahteraan  masyarakat.  Selain itu, Ekonomi Biru juga bukan Ekonomi Hijau (green economy) yang diterapkan di sektor kelautan dan perikanan, karena ada beberapa prinsip yang tidak begitu pas dengan karakteristik sektor kelautan dan perikanan.  Konsep Ekonomi Biru diharapkan dapat dijadikan kerangka kebijakan pembangunan kelautan dan perikanan yang sedang berjalan, yaitu industrialisasi sebagai upaya percepatan pelaksanaan pembangunan kelautan dan perikanan, melalui modernisasi, peningkatan nilai tambah, dan daya saing. “Dengan demikian, industrialisasi kelautan dan perikanan dapat dilaksanakan dengan baik, yaitu dapat meningkatkan pertumbuhan dan pemerataan ekonomi, namun tidak merusak lingkungan,” tegasnya.
 
Perlu diketahui bahwa sinergitas KKP dengan UNDIP sebenarnya sudah lama terjalin. Misalnya, dari total tugas dan ijin belajar TA 2013 sebanyak 284 pegawai KKP dengan anggaran Rp 6.812.633.000, dialokasikan untuk menempuh pendidikan di Undip sebanyak 14 orang (pendidikan magister 12 orang dan doktor 2 orang) dengan anggaran Rp 527.330.000. Tujuannya adalah untuk peningkatan kapasitas SDM KKP, baik pengetahuan, kemampuan, dan profesionalisme, melalui pendidikan formal, yang diharapkan dapat memberikan dampak yang baik di bidang teknis maupun manajerial di sektor kelautan dan perikanan.
 
Jakarta, 28 Agustus 2013

Plt. Kepala Pusat Data Statistik dan Informasi
 
 
Anang Noegroho
 

-- 
Pusat Data Statistik dan Informasi
Kementerian Kelautan dan Perikanan
Gedung Mina Bahari I lantai 3A
JL. Medan Merdeka Timur No.16
Jakarta Pusat 10110
Telp. (021) 3519070 ext. 7440
Fax. (021) 3519133


Jajak Pendapat

Menurut Pendapat Anda, apakah dengan kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari banyak pulau, seharusnya pembangunan berbasis kemaritiman?