DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN RUANG LAUT

Kilas Berita  
Upaya Penanganan Sampah Plastik di Perairan Kawasan Konservasi Perairan (KKP) Nusa Penida

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN RUANG LAUT

Gedung Mina Bahari III Lt. 11 Jl. Medan Merdeka Timur No. 16 Jakarta Pusat

SIARAN PERS


Nomor :  /550DJPRL/III/2018                                                                        

 

Upaya Penanganan Sampah Plastik di Perairan Kawasan Konservasi Perairan (KKP) Nusa Penida

 

“Banyaknya sampah plastik di Manta Point Kawasan Konservasi Perairan Nusa Penida Kabupaten Klungkung Provinsi Bali yang diviralkan oleh Richard Horner tanggal 3 Maret 2018 menjadi perhatian seluruh pihak untuk kerja bersama mengatasi sampah plastik di laut”, demikian disampaikan oleh Brahmantya Satyamurti Poerwadi, Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan. Banyaknya sampah plastik di laut tersebut kemungkinan disebabkan oleh pergerakan arus yang membawa sampah dari perairan sebelah barat ke perairan Nusa Penida dan ini terjadi pada saat-saat tertentu saja, tidak setiap saat demikian.

Dari hasil pengamatan di Manta Point lama dan Manta Point Baru tanggal 8 Maret dan 9 Maret 2018 oleh anggota Perkumpulan Penyelam Profesional Bali (P3B), UPTD KKP Nusa Penida, Polres Klungkung, Coral Triangle Center (CTC) dan BPSPL Denpasar, volume sampah plastik ditemukan dalam jumlah kecil dan hanya beberapa saja. “Volume sampah berkurang signifikan, hanya 4 helai plastik pada tanggal 8 Maret 2018 ketika Tim Gabungan yang terdiri UPTD KKP Nusa Penida, Kapolres Klungkung, CTC melakukan pemantauan di Manta Point dan Manta Bay.Dan pada tanggal 9 Maret 2018, Tim BPSPL Denpasar yang turun mengamati langsung bersama P3B menemukan sampah plastik juga dalam jumlah sedikit, sekitar 20 helaidi Manta Point dan Manta Bay”. Tambah Brahmantya, bahkan berdasarkan dokumentasi penyelaman anggota P3B tanggal 1 Maret 2018, tidak ditemukan sampah plastik di lokasi tersebut.

Brahmantya menambahkan “Sampah yang mengapung di permukaan laut berupa organik(batang kayu dan daun) dan anorganik (potongan plastik) di Manta Point dan Manta Bay saat pengamatan BPSPL Denpasar dan P3B yang dilakukan pada tanggal 9 Maret 2018”. Pada perairan permukaan hingga kedalaman 12 meter, penyelam BPSPL Denpasar tidak menemukan sampah plastik yang menyangkut di terumbu karang maupun yang melayang-layang. “Sampah hanya ditemukan di mengapung di permukaan dalam jumlah sedikit berupa potongan plastik” tambah Tyo, panggilan akrab Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut.

Andi Rusandi, Direktur Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut menegaskan bahwa pengamatan hari ini, Jumat 9 Maret 2018 dilakukan tim di 4 lokasi yaitu 3 lokasi berada di bagian selatan Pulau Nusa Penida (Manta Point, Manta Bay, Crystal Bay) dan 1 lokasi Mangrove Point di bagian timur laut Pulau Nusa Lembongan. “Tim hanya menemukan sedikit sampah yang mengapung di Manta Point dan Manta Bay, dan tidak ada sampah yang melayang-layang maupun tersangkut di terumbu karang”. Saat pengamatan, tim juga menemukan 12 ikan pari manta, 1 ekor penyu dan ubur-ubur di Manta Point dan 1 ikan pari manta dan ubur-ubur di Manta Bay”. Ikan pari manta dan penyu berenang di kedalaman hingga 12 meter.

 

Keberadaan sampah di perairan KKP Nusa Penida memang sangat dipengaruhi oleh pola arus di perairan sekitarnya. “Kita tidak pungkiri bahwa sumber sampah banyak berasal dari aktivitas manusia di sekitarnya, namun fenomena sampah yang terjadi saat inidiperkirakan lebih disebabkan oleh pergerakan pola arus laut dan bersifat musiman”, Unggah Brahmantya.Menurut informasi tim CTC, pergerakan pola arus saat musim angin barat yang terjadi setiap bulan Oktober-April dimana curah hujan sangat tinggi dan juga angin yang bergerak dari barat ke timur, sampah dari Pulau Jawa bagian selatan kemungkinan besar akan bergerak ke arah timur dan sampai ke Nusa Penida. Sampah-sampah tersebut dapat berasal dari daratan yang terbawa arus sungai sampai ke pantai dan perairan laut.

 

Upaya untuk mengurangi sampah di perairan Nusa Penida,Kementerian Kelautan dan Perikanan telah melakukan program. Pada Tahun 2017,program kegiatan yang telah dilakukan adalah Gerakan Bersih Pantai dan Laut (Gita Laut) dan deklarasi Stop Buang Sampah Plastik ke Laut baik di Pulau Nusa Penida maupun di bagian selatan Pulau Bali yaitu di Padang Bai, Sanur, Kota Denpasar, dan Tanjung Benoa. Selanjutnya juga memberibantuan alat pengolah sampah plastik kepada kelompok masyarakat pengolah sampah Wahyu Segara di Pulau Nusa Lembongan dan saat ini hasilnya sudah dapat meningkatkan nilai tambah sampah plastik dan penghasilan kelompok, tentunya juga berpengaruh terhadap menurunnya volume sampah plastik yang sebelumnya tidak diolah dan bertebaran di pesisir dan pantai KKP Nusa Penida.

Nusa Penida merupakan salah satu Kawasan Konservasi Perairan yang berfungsi sebagai Taman Wisata Perairan yang didalamnya terdapat ikan pari manta (M. Birostris dan M. Alfredi) dan mola-mola (ocean sunfish) sebagai ikon yang dikelola oleh Pemerintah Daerah. Dengan luas 20.057 hektar dan berada sekitar 20 km tenggara Pulau Bali, KKP Nusa Penida banyak dikunjungi wisatawan. Manta Point adalah lokasi penyelaman dan snorkeling favorit wisatawan untuk melihat ikan pari manta dari jarak dekat. Lokasi Manta Point berada pada koordinat -8,7934 LS dan115.5271 BT.Terdapat paling tidak 30 penyedia jasa wisata, organisasi / komunitas pemerhati lingkungan seperti Lembongan Marine Association (LMA), Kelompok Penyelam Lembongan (KPL) dan Gahawisri yang mendukung aktivitas wisata bahari. Selain itu juga ada kelompok masyarakat yang aktif menangani sampah di pantai dan laut seperti Lembongan Trash Hero, dan kelompok Wahyu Segara yang telah mendapatkan bantuan dan binaan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan dan Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan Kabupaten Klungkung.

Dan tentunya, untuk menangani dan mengurangi berbagai sampah di Kawasan Nusa Penida, Pemerintah Daerah setempat juga berperan penting seperti penyediaan angkutan sampah dan penyediaan Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA) bahkan hotel-hotel dan penginapan yang ada telah mengolah sampahnya bekerjasama dengan Kelompok Wahyu Segara.

 

Jakarta,       Maret  2018

Sekretaris Direktorat Jenderal

Pengelolaan Ruang Laut,

 

 

ttd

Ir. Agus Dermawan, M.Si  

Narasumber :

1.     Brahmantya Satyamurti Poerwadi, ST.

Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut;

2.     Andi Rusandi, Direktur Konservasi dan Keanekaragaman Hayati dan Laut

3.     Suko Wardono

Kepala Balai Pengelolaan dan Sumberdaya Laut (BPSPL) Denpasar akasar, Ditjen PRL, KKP

Informasi lebih lanjut :

Bagian Humas dan Kerjasama  Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut

email : humas.prl@kkp.go.id,

Telp/fax : (021) 3513211 ext : 6118

 

 

 

Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut   14 Maret 2018   Dilihat : 130



Artikel Terkait:
Website Security Test