DIREKTORAT JENDERAL PERIKANAN BUDIDAYA

Kilas Berita  
SUKSES PENEN LELE BIOFLOK DI KOTA PRABUMULIH, KKP OPTIMIS BUDIDAYA JADI SOLUSI TANTANGAN PANGAN KE DEPAN

Setelah sebelumnya sukses panen lele bioflok di Propinsi Papua dan Papua Barat, kali ini keberhasilan yang sama dirasakan di Kota Prabumulih, Sumatera Selatan. Panen lele bioflok yang dilakukan di Ponpes Al-Furqon dan Pokdakan Air Manau turut dihadiri Inspektur Jenderal KKP, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, dan Sekretaris Daerah dan forkominda Kota Prabumulih. Rabu (28/3).

"Semua bentuk dukungan agar dilaksanakan dengan penuh amanah. Bantuan harus digunakan dengan tepat sasaran dengan perhitungan yang matang. Oleh karenanya, saya minta bapak ibu harus memegang teguh kejujuran, amanah dan semangat kerja keras", ujar Irjen KKP, Muhammad Yusuf disela sela melakukan panen perdana.

Yusuf juga meminta dukungan program KKP tidak berhenti sampai disini, namun harus berkelanjutan dan memberikan dampak bagi ekonomi masyarakat.

Total hasil panen perdana di Ponpes Al-furqon ini mencapai 1,2 ton untuk 8 kolam, dengan nilai ekonomi yang diraup mencapai  Rp. 20,5 juta.

Sebagai informasi, panen ini merupakan hasil dukungan budidaya lele bioflok KKP pada tahun 2017 dimana setiap kelompok memperoleh 10 unit kolam bulat diameter 3 meter, 30 ribu ekor benih lele, sistem aerasi dan instalasi listrik. Dimana diharapkan nantinya dukungan ini secara keseluruhan akan menghasilkan panen sebanyal  2,7 ton per musim dengan nilai pendapatan rata-rata Rp. 46 juta.

Mahmudi Basri, Ketua Pembina Ponpes Al-furqon mengatakan bahwa panen perdana ini memuaskan. Kedepan, menurutnya kita akan mulai menata manajemen usaha agar lebih baik, sehingga usaha bisa berkesinambungan dan kapasitas usahanya bisa berkembang lebih besar.

"Kami senang atas keberhasilan panen kali ini yang memuaskan. Usaha lele bioflok ini terbukti memberikan dampak positif bagi peningkatan pendapatan. Dari hasil panen kali ini, kita sudah bisa hitung minimal ada tambahan pendapatan mimimal 5 juta per bulan", ungkap Basri

Disamping itu, nilai tambah ganda dari usaha lele bioflok memang terbukti nyata. Integrasi budidaya lele dengan sayur sangat memuaskan. Hal ini ditunjukan, selain panen lele, kelompok juga memanen sayur kacang panjang, jahe dan lainnya yakni  dengan mengandalkan pupuk dari limbah budidaya.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, menilai keberhasilan integrasi budidaya ikan dengan sayur menjadi solusi tepat jangka panjang, utamanya dalam menghadapi tantangan resiko terjadinya kerentanan pangan dan krisis air.

"Saya menepati janji beberapa bulan lalu saat tebar perdana disini, bahwa akan kembali ke sini melakukan panen perdana lele bioflok. Akhirnya niat itu kesampaian dan kali ini bisa menyaksikan keberhasilannya", tutur Slamet

"Saya mengapresiasi betul keberhasilan sistem budidaya ini. Apalagi saat ini momen hari air sedunia yang isunya mengerucut pada ancaman krisis pangan akibat krisis air. Saya sampaikan, perikanan budidaya dapat menjadi solusi tantangan ketahanan pangan kedepan melalui inovasi teknologi seperti ini", imbuhnya

Ia juga menegaskan akan mulai mendorong sistem budidaya lele bioflok dan yumina agar lebih memasyarakat.

"Perikanan budidaya harus hadir dalam menghadapi tantangan global ke depan. Tentunya sistem budidaya lele bioflok yang terintegrasi dengan budidaya sayur dan buah merupakan solusi tepat sebagai bagian upaya mitigasi iklim dan perubahan lingkungan. Disamping tentunya akan menjadi pengungkit perekonomian masyarakat. Apalagi Ponpes tempatnya generasi muda yang diharapkan bisa jadi calon wirausaha dan jadi penggerak pembangunan  pungkasnya.

Tahun 2018, KKP memberikan dukungan program perikanan budidaya di kota Prabumulih masing-masing sebanyak 3 unit usaha budidaya lele sistem bioflok dan 20 paket induk ikan lele. Dukungan tersebut diberikan secara simbolis oleh Irjen KKP dan Dirjen Perikanan Budidaya kepada 13 kelompok.

djpb1   29 Maret 2018   Dilihat : 539



Artikel Terkait:
Website Security Test