BADAN RISET DAN SUMBER DAYA MANUSIA KELAUTAN DAN PERIKANAN

Kilas Berita  
Perikanan Lobster Di Perairan Laut Flores (Studi Kasus Di Maumere)

Sumberdaya lobster atau udang karang merupakan jenis Krustasea yang banyak ditangkap di perairan Laut Flores. Saat ini sumberdaya lobster mulai memperlihatkan tanda-tanda overfishing. Indikasi ini antara lain  ditandai oleh  penurunan jumlah hasil tangkapan dan ukuran individu lobster.

Perairan Laut Flores memiliki sumberdaya ikan yang cukup beragam dan memiliki nilai ekonomis tinggi. Sumberdaya ikan yang telah dimanfaatkan dan dikembangkan di wilayah ini antara lain jenis ikan-ikan pelagis (tuna, cakalang, tengiri, tongkol, kembung, layang dan selar), ikan demersal (kerapu, kakap dan sunu) dan krustasea. Jenis krustasea yang banyak ditangkap di wilayah perairan ini adalah lobster/udang karang. Sedangkan untuk jenis udang, kepiting dan rajungan tidak banyak tertangkap di wilayah ini. Hasil tangkapan lobster/udang karang yang tertangkap di laut Flores didominasi oleh jenis udang bambu (Panulirus versicolor). Jenis-jenis lobster/udang karang menyebar dari daerah pantai sampai kedalaman 90 m di daerah tropis dan sub tropis. Keanekaragaman jenis Panulirus spp di perairan daerah tropis lebih besar dari pada di daerah sub-tropis, tetapi kelimpahannya relatif rendah (FAO, 1991).

Lobster atau udang karang merupakan jenis Krustasea yang memiliki nilai ekonomis yang sangat tinggi (high market value). Permintaan pasar terhadap lobster terus meningkat baik pasar dalam negeri maupun luar negeri. Oleh karena kebutuhan pasar terus meningkat, tentunya memberikan dampak terhadap peningkatan upaya penangkapannya. Upaya penangkapan yang terus – menerus tanpa adanya pembatasan dan pengelolaan yang jelas akan menyebabkan overfishing sehingga kelimpahan sumberdaya lobster semakin menurun. Disisi lain upaya penanangkapan yang tidak ramah lingkungan semakin mempercepat penurunan kelimpahannya, seperti penggunaan potasium dan bom.

Salah satu sampling site yang mewakili Laut Flores untuk penelitian udang karang/lobster adalah Maumere yang merupakan ibu kota Kabupaten Sika. Kabupaten Sika diapit oleh dua wilayah perairan laut yaitu bagian utara berbatasan langsung dengan Laut Flores dan bagian selatan berbatasan dengan Laut Sawu. Laut Flores dikenal memiliki sumberdaya lobster yang cukup melimpah. Karena di wilayah ini banyak terdapat terumbu karang yang merupakan habitat dari lobster.

PENANGKAPAN LOBSTER

Perahu yang digunakan untuk upaya penangkapan di Maumere dikenal sebagai jolor/batangan. Daerah penangkapan nelayan-nelayan Maumere yang menangkap lobster di sepanjang pantai Riung hingga Manggarai Barat. Lobster tertangkap pada kedalaman yang berbeda tergantung dari jenis nya. Jenis udang bambu (P. versicolor) dan udang batik (P. longipes) tertangkap di perairan yang relatif dangkal yaitu pada kedalaman 5 – 15 m. Sedangkan untuk jenis udang mutiara (P. ornatus) tertangkap pada perairan yang lebih dalam berkisar antara 20 – 30 m.

Penangkapan lobster dilakukan dengan dua macam cara yaitu secara legal dan ilegal. Cara legal yang dilakukan antara lain dengan menggunakan pukat/jaring gillnet, traps (bubu), pancing dan diambil langsung (by hand) dengan menyelam di dalam perairan. Sedangkan cara ilegal dilakukan dengan pemboman dan penggunaan potasium di area-area yang merupakan habitat lobster. Cara ilegal ini lah yang banyak dilakukan yaitu hampir 90%. Sedangkan lobster yang tertangkap oleh alat tangkap jaring, pancing dan bubu sebenarnya hanya lah sebagai hasil tangkapan sampingan (by catch). Target utama untuk alat-alat tangkap tersebut adalah untuk jenis-jenis ikan demersal seperti : kerapu (Epinephelus spp), Sunu (Plectrophomus spp) dan kakap-kakap an (Lutjanus spp).

Upaya penangkapan dengan pemboman dan penggunaan potasium tidak dapat dibiarkan karena dapat mengancam kelestarian sumberdaya lobster. Selain itu juga dapat merusak habitat lobster dalam hal ini adalah terumbu karang. Seperti kita ketahui bahwa untuk memulihkan kondisi terumbu karang yang rusak dibutuhkan waktu yang sangat lama.

HASIL TANGKAPAN

Hasil tangkapan lobster berasal dari perairan laut Flores yang didaratkan di Maumere terdiri dari tiga jenis yaitu udang bambu (P. versicolor), udang batik (P. longipes) dan udang mutiara (P. ornatus). Diantara ketiga jenis tersebut, udang bambu lah yang paling banyak tertangkap. Ada kecenderungan bahwa ukuran individu lobster yang tertangkap untuk saat ini menurun. Rata-rata ukuran panjang karapas lobster yang tertangkap adalah 56 mm dan berat individu 250 gram. Hasil tangkapan lobster juga menurun dibandingkan sebelum tahun 2007. Berdasarkan informasi dari para pengumpul dan nelayan, sejak tahun 2007 hingga sekarang hasil tangkapan lobster semakin sedikit dan menurun. Penurunan produksi per bulan mencapai 90%. Komoditi lobster di wilayah ini tidak tercatat baik di TPI, Dinas maupun di pelabuhan-pelabuhan (unreported).

DISTRIBUSI DAN PEMASARAN LOBSTER

Distribusi dan pemasaran lobster digambarkan pada skema Gambar 1. Komoditi lobster di wilayah ini sebagian besar dikirim ke eksportir di Denpasar dalam kondisi hidup (life fish) maupun mati (fresh fish) sedangkan untuk pasar lokal hanya sedikit sekitar 10%. Harga beli lobster dari nelayan cukup bersaing tergantung dari masing-masing pengepul. Penentuan harga tergantung dari jenis dan ukuran berat lobster. Pada tabel 1 ditampilkan harga-harga lobster berdasarkan jenis dan ukuran berat.

Skema rantai pemasaran lobster di Maumere

Skema rantai pemasaran lobster di Maumere

Tabel Harga lobster berdasarkan jenis dan ukuran

No

Jenis Lobster

Kisaran berat (kg)

Kisaran harga (Rp)

1

U. mutiara (Panulirus ornatus)

1 s.d 2,5

225.000 – 250.000

 

 

0,3 s.d <1

175.000

 

 

2,6 s.d 6

175.000

2

U.bambu (P.versicolor)

0,5 s.d 3

150.000 – 180.000

 

 

0.2 s.d 0,45

80.000 – 130.000

3

Udang batik (P.longipes)

0,5 s.d 3

150.000 – 180.000

 

 

0.2 s.d 0,45

80.000 – 130.000

(Penulis: Tri Ernawati- Balai Riset Perikanan Laut)

 

Edwin Lutfi   29 Juni 2018   Dilihat : 446



Artikel Terkait:
Website Security Test