BADAN RISET DAN SUMBER DAYA MANUSIA KELAUTAN DAN PERIKANAN

Kilas Berita  
KKP dorong Riset Hiu dan Pari, serta Edukasi Keberlanjutan bagi Nelayan dan Generasi Muda

 

Jakarta (28/03): Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pusdjiastuti membuka ‘Simposium Nasional Hiu dan Pari di Indonesia Tahun Kedua (2018) Biologi, Populasi, Ekologi, Sosial-Ekonomi, Pengelolaan dan Konservasi’, pada tanggal 28 Maret 2018. Dalam arahannya Susi meminta kepada semua pihak untuk mewujudkan konservasi dan pengelolaan hiu dan pari yang berkelanjutan.

“Saya ingat waktu kecil, keberadaan pari manta dan whale shark merupakan tanda musim ikan telah tiba, dan disambut suka cita oleh para nelayan. Namun hal tersebut berlangsung puluhan tahun yang lalu, sebelum ikan hiu dijadikan komoditas ikan tangkap dan dikonsumsi. Saat hiu dan pari tidak ada, tentu nelayan tidak tahu lagi kapan musim panen ikan akan datang. Karena tidak ada lagi pertanda,” cerita Susi membuka simposium.

Susi mengatakan, salah satu penyebab penangkapan ikan secara ilegal di perairan Indonesia, karena pada tahun 2001 pemerintah sempat memperbolehkan kapal-kapal asing membeli izin konsesi penangkapan ikan di perairan Indonesia. "Itulah yang memulai masif dan resmi illegal fishing merebak ke seluruh wilayah Indonesia. Hal ini juga membuat jumlah nelayan Indonesia berkurang drastis.”

Untuk memerangi illegal, unreported and unregulated (IUU) fishing, KKP pun melaksanakan kebijakan yang diatur dalam pasal 69 ayat 4 Undang-undang Nomor 45/2009 tentang Perikanan, yakni dengan melakukan pembakaran dan penenggelaman kapal asing yang kedapatan menangkap ikan secara ilegal di Indonesia.

“Sekarang sudah banyak temuan-temuan baru, ikan-ikan whale shark dan jenis lainnya berenang bergerombolan di Probolinggo, Gorontalo, Kaimana, dan perairan lainnya, yang hampir 10 tahun tidak terlihat. Itu pertanda kesehatan laut kita telah membaik,” papar Susi.

Sebagai kelanjutan dari simposium, Susi pun meminta berbagai pihak untuk melakukan aksi nyata mewujudkan konservasi dan pengelolaan hiu dan pari yang berkelanjutan, salah satunya dengan mengkampanyekan larangan menjual ataupun menghidangkan hiu di restoran serta memberikan edukasi pada nelayan untuk berhenti menangkap hiu dan pari.

“Ini adalah salah satu implementasi yang dapat kita lakukan. Seluruh stakeholder, masyarakat, pemerintah daerah, organisiasi pecinta laut, harus saling bahu membahu untuk mengkampanyekan hal ini,” ungkapnya.

Selain itu, salah satu cara menjaga konservasi hiu dan pari yakni dengan mengedukasi generasi muda di berbagai daerah, salah satunya dengan gerakan Goggle for Children. Yakni membagikan masker selam - goggle kepada anak-anak agar mereka dapat melihat keindahan bawah laut Indonesia. Sehinggga rasa cinta pada laut akan tumbuh, dan membuat anak-anak memiliki semangat untuk menjaga dan melestarikan laut Indonesia.

Tak hanya itu, Susi juga berencana akan membangun 100 balai bengong di berbagai daerah, yang dilengkapi dengan televisi dan LCD, yang dapat dimanfaatkan untuk sarana edukasi anak-anak dengan melihat tayangan konservasi hiu dan laut, National Geographic, serta tayangan hasil riset dan penelitian tentang kelautan dan perikanan.

Simposium ini dinilai Susi menjadi awal yang baik untuk menghimpun data riset dan informasi tentang status populasi hiu dan pari serta tingkat pemanfaatannya di Indonesia, “Simposium adalah sebuah awal. Yang terpenting adalah apa kelanjutan setelah simposium, apa aksi yang dapat kita lakukan. Simposium ini berangkat dari pilar KKP yakni sustainability, untuk mendorong sektor perikanan dan kelautan agar terlaksana secara berkelanjutan, sehingga dapat diketahui lebih mendalam apa tantangan, isu, dan perkembangan yang dihadapi saat ini. Semoga simposium ini berguna, karena Pak Joko Widodo menginginkan laut menjadi masa depan bangsa Indonesia”.

Simposium ini berlangsung dari tanggal 28 s.d. 29 Maret 2018 di Gedung Mina Bahari IV Lantai 15, diselenggarakan bersama antara BRSDM - KKP, Conservation International, Misool Foundation dan WWF Indonesia. (Humas BRSDM)

Harjuno Sistiyanto   28 Maret 2018   Dilihat : 228



Artikel Terkait:
Website Security Test