KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
REPUBLIK INDONESIA

Kilas Berita  
Perdalam Penelitian Kelautan Dan Perikanan, KKP - IMR Bicarakan Peluang Kerja Sama

BERGEN (9/6) - Dalam rangkaian kegiatan kunjungan kerjanya di Norwegia, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti bersama rombongan mengunjungi Institute of Marine Research (IMR) di Bergen, Norwegia, Jumat (8/6). Kunjungan tersebut dilakukan dalam rangka memperkuat kerja sama Indonesia dan Norwegia dalam bidang penelitian kelautan dan perikanan.

 

Didampingi Sekretaris Jenderal Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Nilanto Perbowo, Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDMKP) Sjarief Widjaja, dan Koordinator Staf Khusus Satgas 115 Mas Achmad Santosa, Menteri Susi bertemu dengan CEO IMR Sissel Rogne dan Director Centre for Development Cooperation in Fisheries (CDCF) Åsmund Bjordal.

 

IMR merupakan lembaga riset Norwegia yang digunakan oleh Kementerian Perikanan Norwegia untuk mengumpulkan data terkait perikanan Norwegia, termasuk kajian stok ikan dan kondisi ekosistem laut. Dalam melaksanakan tugas penelitiannya, IMR memiliki 7 kapal penelitian yang setiap tahunnya berlayar selama 2.000 hari untuk mengumpulkan data-data terkait ekosistem laut yang diperlukan dalam pengembangan sektor perikanan Norwegia.

 

Pada pertemuan tersebut, Sissel mengatakan kondisi perikanan Norwegia saat ini dalam kondisi baik. Namun, tak dapat dipungkiri, ancaman terhadap sumber daya alam akan berpengaruh langsung kepada industri perikanan Norwegia. “Kita tidak punya waktu yang banyak. Ancaman terhadap sumber daya perikanan kita semakin nyata dan berada di depan mata, ” ungkap Sissel saat memberikan pidato sambutan kepada delegasi Indonesia.

 

Menurut Sissel, di sanalah peran penting IMR untuk menjaga keberlanjutan sumber daya perikanan Norwegia. Dalam sambutannya, Sissel juga mengapresiasi peranan Menteri Susi yang telah menjaga keberlanjutan sumber daya perikanan melalui pemberantasan IUU fishing yang dilakukan secara konsisten. “Ibu Susi adalah pahlawan kami,” puji Sissel.

 

Sebagai informasi, Norwegia memiliki panjang pantai 100.915 km dengan populasi 5,09 juta orang. Produksi perikanannya mencapai 2-3 juta ton per tahun. Industri perikanan Norwegia dilakukan sejak awal tahun 1900-an dengan metode open access di mana semua orang, baik dari dalam dan luar Norwegia, dapat menangkap ikan di perairan Norwegia. Norwegia kaya dengan spesias Herring, Cod, dan Salmon yang banyak diminati dunia.

 

Namun metode open access yang diterapkan ini mengakibatkan hilangnya stok ikan Norwegia pada tahun 1960-1970-an. Oleh karena itu, pada1980-an, Norwegia memulai reformasi perikanan dengan menutup sektor penangkapan ikannya bagi kapal asing dan memberlakukan sistem perizinan, kuota penangkapan per kapal ikan, pengaturan alat tangkap yang ramah lingkungan, pengawasan yang ketat, dan konservasi laut.

 

Kebijakan perikanan Norwegia yang ketat ini membuahkan hasil pada tahun 1990 hingga saat ini. Walaupun jumlah penangkap ikan berkurang karena akses yang terbatas, justru jumlah tangkapan ikan meningkat hingga 2,5 juta ton per kapal ikan. Peningkatan ini sangat drastis bila dibandingkan dengan tahun 1960-an yang hanya menghasilkan jumlah tangkapan kurang dari 500.000 ton per kapal ikan dengan jumlah kapal penangkap ikan lebih banyak.

 

Menteri Susi mengatakan, situasi serupa juga dialami Indonesia, di mana jumlah tangkapan nelayan Indonesia meningkat drastis setelah pelarangan kapal ikan asing dan kapal ikan eks-asing.

 

Kerja sama KKP dan IMR ini bukanlah hal baru. Pada periode 2009 - 2012 lalu, keduanya telah menjalin kerja sama dalam lingkup manajemen perikanan, termasuk kajian stok ikan; pengembangan budidaya, yang fokus pada aspek-aspek operasional, perencanaan, dan kesehatan ikan; dan pendidikan melalui program short course, study tour, dan pendidikan S2.

 

IMR berharap, kerja sama dengan KKP dapat terus ditingkatkan. IMR juga menyampaikan keinginannya untuk berpartisipasi dalam penyelenggaraan Our Ocean Conference (OOC) 2018 yang akan dihelat di Bali, 29 - 30 Oktober mendatang.

 

Menyambut niat baik IMR tersebut, KKP menawarkan kerja sama pengembangan Pusat Litbang Kelautan dan Perikanan milik KKP di Bali. "Kami ingin mengajak IMR bekerja sama dalam mengembangkan Pusat Penelitian di Bali. Nantinya IMR dapat mempromosikan best practices-nya untuk pengelolaan perikanan berkelanjutan di Samudra Hindia dan Pasifik," ujar Menteri Susi.

 

Pada kesempatan yang sama, rombongan KKP juga mendapat kesempatan mendengarkan paparan dari Direktorat Perikanan Norwegia yang disampaikan oleh Director Resource Management Aksel Eikemo. Menurutnya, Direktorat Perikanan Norwegia adalah pemilik, penjaga, dan pengawas kegiatan perikanan di perairan Norwegia, serta pemilik kewenangan penegakan hukum atas IUU fishing.

 

Direktorat Perikanan memiliki kapal pengawas dan fasilitas pengawasan pergerakan kapal ikan yang mengawasi kegiatan perikanan di Norwegia selama 24 jam melalui pemantauan VMS. Direktorat Perikanan memiliki kapal pengawas yang mengawasi kegiatan perikanan bersama-sama Coast Guard Norwegia yang memiliki 15 kapal Coast Guard tersebar di seluruh wilayah laut Norwegia.

 

 

Lilly Aprilya Pregiwati
Plt. Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri

admin KKP   09 Juni 2018   Dilihat : 192



Artikel Terkait:
Website Security Test