Momen Harkannas, Dorong Peningkatan Konsumsi Ikan dan Pertumbuhan Industri Perikanan Nasional

Jakarta (21/11) – Hari Ikan Nasional (Harkannas) ditetapkan berdasarkan Keputusan Presiden RI No 3 tahun 2014 tentang Hari Ikan Nasional dan bertepatan dengan Peringatan World Fisheries Day atau Hari Perikanan Dunia. Kemarin, Selasa (21/11) Indonesia memperingati Hakannas untuk keempat kalinya dengan tema “Ikan untuk Kesehatan dan Kesejahteraan Masyarakat”. Puncak acara dilaksanakan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) secara meriah di Area Parkir Keong Mas, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur.Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) KKP Nilanto Perbowo mengatakan, ikan merupakan komoditas penting guna perbaikan gizi masyarakat sebagai bahan pangan dan sumber protein. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan memiliki kandungan Omega 3 tinggi yang sangat baik untuk perkembangan mata, otak, dan jaringan syaraf. Selain itu, ikan juga memiliki komposisi asam amino lengkap, dan mudah dicerna serta diserap tubuh.

Dengan kandungan tersebut, ikan dapat berperan mendukung Gerakan Peningkatan Gizi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (Gerakan 1.000 HPK), remaja usia produktif, dan ibu hamil dalam kerangka strategi percepatan perbaikan gizi masyarakat.

Namun Nilanto menyayangkan, dengan laut yang luas dan hasil laut yang melimpah, masih banyak masyarakat Indonesia yang kekurangan gizi. “17% dari total populasi masyarakat Indonesia sebanyak 250 juta masih mengalami kekurangan gizi. Lebih dari 25% total populasi masyarakat Indonesia mengalami pertumbuhan yang tidak sempurna atau stunting (kerdil). Ada 11,1% jumlah penduduk Indonesia yang tergolong kurus, di bawah berat normal,” papar Nilanto saat memberikan sambutan pada acara puncak peringatan Harkannas.

“Ini sudah saatnya bagi kita, dengan bonus demografi, tugas kita mempersiapkan anak-anak yang sekarang usia balita untuk tumbuh sehat 20 hingga 30 tahun ke depan. (Kita) harus menghapus angka yang kekurangan gizi, stunting, dan kurus. Niscaya anak cucu kita ke depan akan menjadi sumber daya manusia yang unggul,” imbuhnya.

Selain manfaat untuk kesehatan, jenis, bentuk, warna, rasa, dan ukuran ikan yang beragam juga menjadikannya dapat diolah menjadi berbagai macam produk olahan yang memenuhi semua segmen kelas ekonomi. Hal ini dapat mendorong peningkatan pendapatan dan kesejahteraan, serta perbaikan hidup para nelayan, pembudidaya, dan pengolah hasil perikanan.

“Lebih dari 30 juta masyarakat Indonesia berada di wilayah pesisir. Mereka yang seharusnya mendapatkan manfaat pertama dari semakin melimpahnya ikan di laut Indonesia,” tutur Nilanto.

Oleh karena itu, dalam rangka mendukung kebijakan strategis pangan dan gizi, dengan terbitnya Inpres Nomor 7 Tahun 2016 tentang Percepatan Pembangunan Industri Perikanan Nasional dan Perpres Nomor 3 Tahun 2017 tentang Rencana Aksi Percepatan Pembangunan Industri Perikanan Nasional, KKP terus melakukan beberapa program, antara lain peningkatan produksi perikanan tangkap dan budidaya yang didukung oleh penerapan sistem jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan, serta penguatan sistem logistik ikan untuk memenuhi ketersediaan ikan bagi industri dan konsumsi dalam negeri. Peningkatan konsumsi ikan nasional sangat penting sebagai penghela industri perikanan nasional dalam rangka meningkatkan produktivitas industri dan mewujudkan kemandirian ekonomi bangsa.

Nilanto menyampaikan, dari waktu ke waktu, konsumsi ikan masyarakat Indonesia memang terus menunjukkan peningkatan. Namun peningkatan belum merata terjadi di seluruh daerah. Untuk itu, Nilanto meminta kepedulian para pengurus PKK dari seluruh daerah untuk turut memperhatikan kebutuhan konsumsi ikan masyarakat yang jauh dari laut dan sumber ikan.

“Lebih dari 70 persen masyarakat Indonesia kini telam mengonsumsi ikan di atas angka pola pangan harapan sebesar 30,14 kg per kapita per tahun. Namun demikian, mohon berkenan Bapak Ibu pengurus PKK di daerah masing-masing jangan melupakan Saudara kita yang kebetulan lokasinya jauh dari laut, jauh dari kota besar, tidak ada sungai, tidak ada danau. Kabupaen kota yang tidak memiliki wilayah perairan umum seperti laut, sungai, danau, dan waduk, umumnya memiliki angka konsumsi ikan per kapita yang rendah,” paparnya.

Nilanto mengimbau agar para perangkat daerah seperti Gubernur, Wali Kota, dan Bupati dengan melibatkan istri masing-masing aktif dalam mengampanyekan makan ikan. “Mohon agar menu ikan-ikan yang diikutsertakan pada berbagai lomba, termasuk lomba hari ini, apalagi menang dalam lomba agar dijadikan menu resmi daerah masing-masing,” pintanya.

Selain peningkatan konsumsi, produksi perikanan baik tangkap maupun budidaya juga mengalami peningkatan. Peluang ini juga digunakan Nilanto untuk mendorong peningkatan daya saing produk perikanan lokal, salah satunya komoditas patin.

“Ikan patin ini ikan domestik, ikan nasional, ikan Indonesia. Bisa dibubidayakan hampir di semua wilayah perairan Indonesia, berlimpah di semua provinsi Indonesia. Saya ingin meyakinkan dan mengajak Bapak Ibu belanja ikan patin produk lokal. Apabila kita mempercayai produk lokal, produk asli Indonesia, niscaya keluarga kita, sahabat kita, kawan-kawan, mulai dari pembudidaya, yang membesarkan, hingga penjual pakan (kualitas hidupnya) akan terangkat ke atas,” pungkas Nilanto.

Lilly Aprilya Pregiwati
Kepala Biro Kerja Sama dan Humas KKP

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
wpDiscuz