KKP Identifikasi Spesimen Biota Laut yang terdampar di Maluku

KKPNews, Maluku – Bangkai hewan yang diduga mamalia laut ditemukan pada hari Selasa, (9/5), terdampar di pesisir pantai Dusun Hulung, Desa Iha, Kecamatan Huamual, Kabupaten Seram Bagian Barat, Provinsi Maluku. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah mengirimkan tim pendahulu dari Sekolah Usaha Perikanan Menengah (SUPM) Waiheru Ambon untuk mengumpulkan data di lokasi. Data ini yang selanjutnya menjadi bahan awal identifikasi oleh tim peneliti KKP yang tiba di lokasi hari Jumat, (12/5) dini hari.

“Berdasarkan identifikasi awal menggunakan foto di lokasi, diperkirakan bangkai tersebut merupakan bangkai dari mamalia laut. KKP telah memiliki panduan penanganan mamalia laut terdampar, baik yang masih hidup maupun telah mati. Untuk mendapatkan analisa yang lebih akurat, satu hari setelah penemuan bangkai kami menugaskan 3 (tiga) orang peneliti ahli identifikasi ikan dari Balai Riset Perikanan Laut (BRPL) Muara Baru, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) Jakarta ke lokasi di Ambon”, demikian keterangan M. Zulficar Mochtar, Kepala BRSDM KKP.

“Sebagai langkah cepat, kami menugaskan siswa SUPM Waiheru untuk menuju lokasi. Dengan foto yang dikirim olah para taruna, kami bisa mendapatkan perkiraan awal apa yang terdampar itu”, ujar Zulficar. “Taruna SUPM ini selain mendokumentasikan, juga memberikan informasi kepada masyarakat setempat, langkah-langkah yang harus dijaga saat berdekatan dengan bangkai ini. Ditenggarai ada banyak jenis virus dan bakteria yang ditemukan di dalam bangkai, ini berakibat fatal bagi manusia. Menyentuh mamalia laut yang mati sangat tidak disarankan untuk dilakukan oleh perempuan yang sedang hamil, anak – anak atau orang yang sedang mengalami luka di tubuhnya”.

Selanjutnya tim peneliti KKP bersama pihak terkait telah melakukan pengecekan kondisi spesimen, pengukuran morfometrik dan sampling biologi dengan hasil identifikasi bahwa termasuk kelompok paus (whale) pemakan plankton (plankton feeder), bukan cumi-cumi atau gurita, atau lainnya. Spesies paus diharapkan akan dapat ditentukan dari hasil analisis genetik (DNA barcoding) yang akan dilakukan kemudian di Jakarta.

Anggota tim peneliti BRPL KKP, Suwarso MSi menyampaikan bahwa dugaan penyebab kematian masih sulit diidentifikasi secara pasti, namun beberapa indikator dapat menginformasikan penyebab kematiannya antara lain spesimen terdampar secara tunggal dan tidak terlihat adanya paus lain yang terlihat di perairan Saparua, maka diduga spesimen yang diidentifikasikan sebagai paus tersebut telah mati selama lebih dari seminggu (sampai dengan Jum’at, 12 Mei 2017), dan melihat kondisi spesimen dimana kepala tidak utuh, dan bagian perut terurai, diduga paus mengalami sakit dan luka sebelum kematian. Spesimen terbawa arus ke arah barat dan terdampar di pantai Hualang.

“Kami melakukan identifikasi berdasarkan ciri-ciri umum yang dapat terlihat pada spesimen, dan dihubungkan secara langsung pada kelompok-kelompok hewan yang dicurigai, yaitu kelompok ikan, cumi-cumi, gurita, cucut dan marine mammals. Tidak ditemukan adanya sisik dan ciri lain dari kelompok ikan, juga tidak ada tentakel (lengan) dan ‘internal shells’ yang merupakan ciri dari hewan lunak (diantaranya gurita dan cucut), demikian juga tidak adanya ciri hiu yang memiliki tulang dari tulang rawan. Dari hal tersebut spesimen ini lebih dekat termasuk dalam kelompok mamalia yaitu paus”, ujar Suprapto.

“Beberapa ciri yang menguatkan identifikasi sebagai paus diantaranya ditemuinya tulang dan tulang belakang (vertebrae), ekor bercagak dan mendatar, juga bentuk-bentuk yang diduga merupakan bagian rahang (atas dan bawah) beserta alat penyaring air laut untuk menyaring plankton”, lanjut Suprapto. Turut menjadi tim peneliti BRPL KKP pada identifikasi spesimen di Ambon selain Suprapto adalah Suwarso dan Rosmawati Zaini. Terkait kondisi spesimen yang sudah menjadi bangkai dan mencemari lingkungan sekitar dan menimbulkan bau tidak sedap, telah diambil langkah disposal dengan menanam/menguburkan bangkai di pantai pasir sekitar.

Berdasarkan keterangan Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Maluku, Romelus Far-Far, pihaknya sepenuhnya memfasilitasi semua kebutuhan dan perlengkapan disposal bangkai. Penguburan dilaksanakan pada Minggu, 14 Mei 2017 secara manual dengan bantuan masyarakat setempat dan dukungan dari TNI Polri. Pada kesempatan terpisah Sheyka Nugrahani Fadela dari komunitas Whale Stranding Indonesia menyampaikan bahwa berdasarkan foto dari lokasi, dapat diduga bahwa bangkai tersebut merupakan keluarga dari paus. Namun untuk spesies dan genus-nya perlu diidentifikasi di lokasi, walaupun mungkin akan ada kendala kesulitan dikarenakan bangkai sudah busuk dan beberapa penanda seperti bentuk sirip, warna tubuh, sulit untuk dikenali.Penemuan bangkai ini lazim ditemui, senada dengan Zulficar, Sheyka juga mengingatkan kepada masyarakat untuk tidak menyentuh bangkai banyak kumannya. Kedua, hubungi otoritas setempat (unit pelaksana teknis KKP, atau pihak berwenang lainnya). Untuk bantuan dokumentasi, diharapkan otoritas atau warga juga bisa mulai mengumpulkan informasi, seperti dalam bentuk foto, lokasi, kondisi cuaca beberapa hari terakhir, ukuran bangkai.

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
wpDiscuz