KKP – YKI Dorong Nelayan Sadari Bahaya Kanker dengan Pemeriksaan Deteksi Dini

Menteri Susi dalam sambutannya pada acara bakti sosial bertema “Mewujudkan Hidup Sehat Masyarakat Nelayan”, di Pelabuhan Kali Adem, Muara Angke, Minggu, (7/5). Foto (Humas KKP/Rere)

JAKARTA (7/5) – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bekerja sama dengan Yayasan Kanker Indonesia (YKI), menyelenggarakan bakti sosial bertema “Mewujudkan Hidup Sehat Masyarakat Nelayan”, di Pelabuhan Kali Adem, Muara Angke, Minggu, (7/5). Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat pesisir pantai akan pentingnya pola hidup sehat, untuk mencegah dan melawan kanker.

Bakti sosial ini dihadiri Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, Ketua Umum YKI Aru Wisaksono Sudoyo, Sekretaris Jenderal KKP Rifky Effendi Hardijanto, Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan Nilanto Perbowo, Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Eko Djalmo Asmadi, Inspektur Jenderal Muhammad Yusuf,  jajaran dokter dan masyarakat peduli kanker di Indonesia, serta tentunya masyarakat nelayan Kali Adem, Muara Angke.

Kegiatan utama pada bakti sosial ini adalah pemeriksaan deteksi dini untuk kanker serviks bagi wanita, kanker paru-paru bagi pria, serta kanker nasofaring dan retinoblastoma bagi anak-anak nelayan sekitar. Masyarakat nelayan yang tidak berkesempatan melakukan pemeriksaan deteksi dini kanker tersebut akan diberi voucher pemeriksaan gratis di klinik terdekat.

“Kepedulian akan kesehatan sudah saatnya ditingkatkan oleh masyarakat semua. Kita yang mampu, kita yang bisa, kita yang mengerti, dan kita yang mengetahui dan punya kapasitas, semestinya harus rajin dan mau untuk menggiring masyarakat lainnya, yang berada di posisi tidak punya kemampuan, tidak punya pengetahuan dan tidak punya kapasitas untuk melakukan upaya kesehatan, supaya mereka juga bisa hidup sehat,” ungkap Menteri Susi dalam pidatonya pada kegiatan tersebut.

Menurut Menteri Susi, kesehatan semua elemen masyarakat, mulai dari balita, anak-anak, usia dewasa, hingga usia lanjut, akan sangat berpengaruh terhadap kemajuan bangsa Indonesia ke depannya. “Kalau kita jaga kesehatannya, terutama anak-anak, akan tumbuh menjadi manusia-manusia yang sehat, dan diberi pendidikan, tentunya akan bisa menjadi manusia-manusia Indonesia yang kuat,” tutur Menteri Susi.

Menteri Susi berpendapat, kanker adalah jenis penyakit tidak menular, tetapi sangat berbahaya karena bisa menggerogoti atau menurunkan stamina, kesehatan, dan kapasitas seorang manusia. Ia juga berpendapat, untuk membangun Indonesia yang hebat, harus dimulai dengan pembangunan manusia—manusia dengan stamina dan badan yang sehat. Salah satu caranya dengan mengkonsumsi makanan yang bergizi.

“Stamina dan badan yang sehat tentunya (hasil) dari kesehatan yang terjaga. Dan ini (dapat dipenuhi) dari konsumsi-konsumsi makanan yang tinggi protein, banyak mineralnya, dan banyak vitaminnya. Misalnya dengan makan ikan. Kita Indonesia kaya ikan yang sumber protein, vitamin, dan mineralnya tinggi. Untuk itu, pemerintah komitmen untuk menyehatkan bangsa Indonesia dengan apa yang ada di laut kita,” jelas Menteri Susi.

Sebagai informasi, kanker merupakan penyakit dengan prevalensi yang cukup tinggi di Indonesia, yaitu 1,4 per 1.000 penduduk atau sekitar 347.000 orang (Risdeskas). Kematian akibat kanker di Indonesia menduduki peringkat ketujuh, dengan prosentase 5,7% dari seluruh penyebab kematian (Riskesdes). Kanker juga merupakan penyebab kematian ketiga penyakit tidak menular, setelah stroke dan penyakit jantung di Indonesia, dengan prosentase 7,7% (Sistem Informasi RS, 2010).

Dari Kiri ke Kanan : drg. Sally Sudrajat, Sp.OM, Ketua Panitia HUT ke 40 YKI, ), Prof. DR. Dr. Aru Wisaksono Sudoyo, Sp.PD, KHOM, FAC, Ketua Umum YKI, dan Rifky Effendi Hardijanto, Sekretaris Jenderal KKP, berfoto bersama, setelah acara Konferensi Pers Yayasan Kanker Indonesia bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan, dalam rangka HUT 40 Tahun YKI, yang bertema “Mewujudkan Hidup Sehat Masyarakat Nelayan”, yang berlangsung di Gedung YKI, Jalan Sam Ratulangi No. 35, Jakarta (5/5). Foto (Humas KKP/Iqbal).

Pada kesempatan yang berbeda, Sekretaris Jenderal KKP Rifky Effendi Hardijanto mengatakan, edukasi kesehatan memang sangat dibutuhkan oleh masyarakat nelayan, mengingat mereka sudah cukup lama terpinggirkan. Dalam sepuluh tahun terakhir, Rifky menyebut rumah tangga nelayan turun 50% akibat banyaknya orang yang meninggalkan profesi nelayan. Namun, berkat berbagai usaha yang terus dilakukan, kini nilai tukar nelayan mulai menunjukkan peningkatan diikuti peningkatan kualitas hidup nelayan. Namun demikian, Rifky menyadari, pemerintah tidak hanya harus memperhatikan kebutuhan dasar pangan dan papan, tetapi juga kebutuhan kesehatan nelayan.

Rifky mengungkapkan, selama ini kanker telah menjadi penyakit yang mengancam jiwa nelayan. Ia mencontohkan, pertemuan Menteri Kelautan dan Perikanan (MKP) Susi Pudjiastuti dengan Yuliana (12), penderita kanker mata dalam kunjungan kerjanya ke Sukabumi, dan Dudung (24), nelayan penderita kanker tulang saat kunjungan kerjanya ke Wakatobi.

“Kemarin saat MKP berkunjung ke Wakatobi, sebagai daerah wisata, ternyata di sudut-sudutnya banyak masyarakat tertinggal. MKP menemukan Dudung, nelayan yang terkena kanker tulang. Kemudian Dudung dibawa ke Jakarta untuk dilakukan operasi. Itu salah satu contoh (nelayan terkena kanker). Selain itu, tahun lalu ada pula anak nelayan yang terkena kanker mata, tapi sayang tidak tertolong. Dengan potret demikian, saya sangat berterima kasih kepada YKI yang mengadakan kegiatan ini di Muara Angke,” cerita Rifky, Jumat (5/5).

Ketua umum YKI Aru Wisaksono Sudoyo, menjelaskan, sebagian besar kanker berhubungan dengan perilaku dan lingkungan. Oleh karena itu, YKI menyambut baik kerja sama ini guna meningkatkan pengetahuan bahaya penyakit kanker dan pemeriksaan deteksi dini kanker untuk para nelayan.

Adapun Ketua Pelaksana Kegiatan Sally Sudrajat mengungkapkan, kegiatan ini menyasar kelompok masyarakat  yang mudah diakses, salah satunya yaitu nelayan. KKP dipilih sebagai partner kerja sama karena memahami ranah dan domain nelayan. Selain itu, kepedulian Menteri Susi dengan penanganan penyakit kanker dua keluarga nelayan juga telah diamati YKI. “Karena kedua kasus itu (kasus Yuliana dan Dudung), maka muncul keinginan untuk menargetkan nelayan. Kita menargetkan mengundang 1.000 nelayan. Hal ini supaya pemeriksaan bisa merata,” jelas Sally.

Indonesia membutuhkan generasi yang sehat agar dapat turut andil dalam persaingan global di era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) ini. Salah satunya dengan proteksi dini penyakit-penyait yang dapat membahayakan jiwa masyarakat.

“MEA, persaingan kompetisi global, tidak bisa kita bendung. Proteksi bisa kita lakukan, tapi dalam skala minimum. Mau tidak mau, kita harus bekerja untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia. Saya yakin, dengan penanganan Yayasan Kanker Indonesia, Kementerian Kesehatan, dan Kementerian Kelautan dan Perikanan bersinergi bersama, kita coba mengkampanyekan gemar makan ikan itu sehat. Dua tahun ini pemerintah sudah komitmen untuk memastikan kedaulatan pangan di laut,” papar Menteri Susi.

Masyarakat sekitar sangat antusias dengan kegiatan tersebut. Tua, muda, hingga anak-anak berdatangan untuk mengikuti rangkaian acara. Untuk menambah antusiasme warga, kegiatan bakti sosial tersebut diawali dengan senam pagi bersama Menteri Susi. Acara semakin seru dengan adanya demo memasak makanan sehat hasil tangkapan laut yang dilakukan Menteri Susi dan Prof. Aru. Menteri Susi memasak menu andalannya yaitu Sup Pindang Gunung, sedangkan Prof. Aru memasak udang asem balado. Acara diakhiri dengan lomba dekorasi kapal nelayan.

Lilly Aprilya Pregiwati
Kepala Biro Kerjasama dan Humas KKP

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
wpDiscuz