Profesi Kerja Pengolahan Perikanan Dominasi Wanita

Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan merupakan salah satu bidang yang di ampu KKP. Berdasarkan data statistik yang dikeluarkan oleh BPS, bahwa sebagian besar tenaga kerja yang menggeluti bidang pengolahan hasil perikanan didominasi oleh wanita. Tidak pernah terbayangkan bahwa wanita menggeluti bidang perikanan yang setiap harinya menghasilkan ribuan produk hasil olehan perikanan. Terkadang kita hanya membayangkan bahwa sebagian besar kegiatan kelautan dan perikanan hanya digeluti oleh kaum pria. Tetapi fenomena tersebut saat ini telah berubah seiring perjalanan waktu.

Kegiatan pengolahan hasil perikanan menjadi salah satu bukti bahwa wanita Indonesia turut memberikan sumbangsihnya terhadap dunia kelautan dan perikanan. Terlebih potensi ini belum sepenuhnya digarap dengan optimal, menjadikan tantangan kedepan bagi wanita Indonesia dalam mewujudkan kesetaraan gender, serta memberikan bukti bahwa wanita Indonesia dengan kemampuannya sendiri dapat menjadi penggerak sektor ekonomi nasional, melalui sektor usaha pengolahan dan pemasaran hasil kelautan dan perikanan.

Besarnya jumlah pekerja wanita yang bergerak dalam industri olahan menjadi model atau kerangka analisa gender GAP (gender analysis pathway) merupakan suatu alat analisis gender yang dapat digunakan untuk membantu perencanaan dan pelaksanaan dari kegiatan pengarusutamaan gender melalui perencanaan kebijakan/program/proyek dari kegiatan pembangunan. Model analisis ini menekankan pada empat aspek penting yang meliputi aspek, peran, kontrol dan manfaat.

Model ini memiliki kekuatan untuk menghasilkan program atau kegiatan yang responsif gender dengan metodologi yang sederhana dan penggunaan data kualitatif dan kuantitatif secara bersamaan serta adanya peluang untuk memonitor dan mengevaluasi setiap langkah. Sedangkan kelemahan model ini adalah adanya ketergantungan pada data terpilah menurut jenis kelamin, dan biasanya hanya digunakan pada kebijakan atau proyek formal yang biasanya didanai oleh pemerintah dan dibatasi pada aspek perencanaannya.

Model analisa ini memiliki alur kerja analisis gender yang meliputi lima tahap sebagai berikut:

  1. Tahap I : analisa kebijakan yang responsif gender
  2. Tahap II:formulasi kebijakan yang responsif gender
  3. Tahap III: Rencana aksi yang responsif gender
  4. Tahap IV: pelaksanaan kegiatan yang sudah disusun
  5. Tahap V : monitoring dan evaluasi dari setiap tahap dan langkah yang diambil.

Dengan demikian dapat terlihat bahwa keterlibatan perempuan dalam pembangunan menjadi penting karena pengalaman telah menunjukkan bahwa pembangunan yang bersifat dikotomis dengan lebih menekankan pada salah satu jenis kelamin kurang menunjukkan hasil yang signifikan. (

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
wpDiscuz